
Melihat kedekatan Milley dengan dosen baru membuat Dylan benar-benar kebakaran jenggot. Ia tidak menyangka jika Milley bisa sedekat itu dengan lelaki lain. Padahal dengan dirinya saja ia jarang bersikap manis.
Tanpa ia sadari Dylan merindukan sikap Milley yang perhatian. Sikap Milley yang selalu rajin jika di rumah. Membuatkan menu masakan baru untuk dirinya. Pokoknya semua hal yang berkaitan dengan Milley tanpa ia sadari membuatnya ketergantungan.
Dave menepuk bahu Dylan hingga membuatnya terjingkat.
"Asem, ngagetin aja, Lu!"
"Wkwkwk, orang jatuh cinta memang suka bucin ya?"
"Sapa yang bucin?" tolak Dylan mentah-mentah.
"Sabar, gue tau yang Lu rasakan, Bro. Cuzz, ajak dia married beres, kan?"
Seketika otak Dylan terkoneksi dengan baik.
"Bukankah kakek juga menginginkan hal ini? Kenapa aku tidak pernah terpikir ke arah sana?"
"Eh, dikasih solusi malah diem, bingung atau bener nih solusi gue?"
Dylan mengembangkan senyumnya ke arah Dave.
"Thanks, Bro. Gue suka saran, Lu!"
"Gitu dong! Semangat ya, moga Milley siap menerima kebobrokan, Lu!" ucap Dave sambil menepuk bahu Dylan.
Sementara bayangan indah bisa memiliki Milley seutuhnya sudah menari-nari indah di kepalanya.
.
.
"Oke, karena kita dah jadi teman, bagaimana kalau kita saling tukar nomor ponsel?" tawar Michael.
"Boleh, kalau kamu nggak keberatan."
Lalu Milley mulai mencatat nomor Michael begitu pula dengan sebaliknya. Setelah dirasa cukup membaik, Milley permisi pulang.
🍂Selepas kuliah.
Dylan tidak menuju ke rumah, melainkan pergi ke perusahaan milik kakeknya. Tidak lupa ia bersikap sopan pada setiap karyawan yang ia temui.
"Tumben Tuan Muda mau datang ke kantor?"
"Nggak tau, mungkin mulai menyadari posisinya kali."
"Mungkin aja."
__ADS_1
Bisik-bisik dari para karyawan terdengar sepanjang perjalanan Dylan menuju ke ruangan kakeknya. Beruntung tidak lama kemudian, ia sampai di ruangan yang dimaksud. Dengan perlahan Dylan membuka pintu ruangan, lalu mengucap salam pada kakeknya.
"Siang, Kek."
"Siang, tumben kamu datang ke kantor."
"Iya, ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan kepada kakek."
Tuan Chryst menutup dokumen di hadapannya.
"Duduklah!"
Dylan terduduk tepat di hadapan kakeknya.
"Begini, Kek. Sebelumnya aku minta maaf, jika permintaanku sedikit mendadak."
"Iya, katakan saja, siapa tau Kakek bisa bantu."
"Aku mau menikah dengan Milley besok!"
Tuan Chryst yang baru saja menyeruput teh hangatnya menjadi tersedak atas ucapan Dylan barusan. Sementara itu, Jo bersiap untuk membantu Tuan Besarnya. Namun, tangan kanan kakek mengisyaratkan agar Jo tidak membantunya.
"Maksud kamu?" tanya kakek memastikan ucapan cucunya barusan.
Ia bahkan sudah melupakan point penting ini selama beberapa minggu ini, tetapi ucapan Dylan barusan menyadarkannya untuk tetap fokus pada rencana utama.
Dylan menggeleng perlahan. Raut wajahnya yang serius membuat kening Tuan Chryst berkerut. Lalu, ia mulai menyadarkan punggungnya pada kursi kebesarannya.
"Menikah bukanlah sebuah permainan Dylan. Dulu, aku mengajukan hal tersebut pada Milley agar ia patuh, selebihnya aku masih memberikan toleransi pada kalian berdua."
"Berarti, syarat yang kakek ajukan beberapa waktu yang lalu bohong?"
"Ataukah aku yang terlalu berharap pada kebohongan yang kakek ciptakan?"
Keheningan tetap terjadi di sana. Kakek masih tenggelam pada pemikirannya begitu pula dengan Dylan. Sementara itu, Milley masih meringkuk di dalam kamarnya. Ia sengaja memindahkan barang-barangnya ke kamar sebelah. Milley tidak mau hal-hal seperti semalam terjadi lagi.
Bayangan Michael sempat menari-nari di sana. Membuat Milley sesekali tersenyum dan tertawa geli akibat ulahnya sendiri.
"Njir, gue kenapa ya, padahal jauh sebelum ini, gue nggak pernah mengalami hal seperti ini, loh!"
Milley berbicara sendiri pada guling yang sedari tadi ia peluk. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Siapa?"
"Saya Nanni, Non. Bolehkah saya masuk?"
"Oh Nanni, masuk aja."
__ADS_1
Sesaat kemudian, pelayan wanita tersebut masuk ke dalam kamar Milley dengan membawa sebuah nampan berisi sup ayam hangat dan segelas jahe hangat.
"Di makan dan di minum, Non. Biar perutnya agak enakan."
Milley membetulkan posisi tidurnya. Lalu kemudian, ia berbalik.
"Makasih Nanni," ucapnya sambil tersenyum.
Tidak lupa Milley meminta agar tidak memberitahukan keberadaannya pada Dylan karena tidak ingin terganggu saat ini. Biasanya kalau lagi datang bulan, Milley lebih suka mengurung diri di kamar dan tidak ada yang boleh mengusiknya.
"Oh, ya Nanni. Jangan sampai Dylan tahu kalau aku berada di sini, ya."
"Baik, Non. Kalau ada apa-apa, silakan langsung telepon saja ke dapur."
"Siap. Makasih, ya."
"Sama-sama, Non. Saya permisi."
Setelah memastikan Milley menghabiskan semua makanannya, Nanni segera pergi meninggalkan kamar Milley untuk kembali bekerja.
Selepas itu, Milley kembali tertidur.
.
.
🍂Apartemen Michael.
Michael melepas kaca mata hitam yang ia kenakan dan menaruhnya di atas meja. Sesaat kemudian, ia merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur. Matanya terpejam untuk beberapa saat.
Sekilas bayangan wajah Milley terlintas di sana. Sontak saja ia membuka kedua matanya.
"Kok bisa kepikiran Milley sih?" gumamnya.
Michael cekikikan ketika teringat kejadian tadi siang saat di kampus. Bisa-bisanya ia perhatian pada wanita yang baru tiga kali ia temui.
"Kenapa berasa beda, sih? Apa karena senyumnya mirip dengan kamu, Cecil?"
Michael menoleh ke samping tempat tidur. Di atas nakas itu ada sebuah pigura kecil berisi foto kenangan dirinya bersama adik perempuannya. Namanya Cecilia Anderson. Namun, kecelakan beberapa tahun yang lalu membuatnya meregang nyawa.
"Andai kamu masih hidup, mungkin akan seusia dengannya."
.
.
Akankah ada jalinan cinta segitiga? segi empat? Lalu gimana dengan Evan ya?
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...