
Rose yang tertidur di apartemen lelaki itu belum bangkit dari tempat tidurnya. Ia masih menggunakan selimut tebal untuk menutupi tubuhnya. Sementara itu Jo bersama Tuan Chryst sudah berada di lantai bawah.
"Benar ini apartemen yang kau maksud?"
"Benar, Tuan. Kalau begitu mari kita masuk!"
Lelaki yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum ketika melihat tamu tidak diundang itu sudah sampai di pelataran apartemennya. Ia melihat Rose masih terbaring lemah di sana.
"Itu dia!"
"Sepertinya harimu hanya sampai hari ini saja, Rose. Lagi pula aku tidak akan pernah rela jika anakku sampai dirawat olehnya."
Di lantai bawah.
"Mari ikuti saya, Tuan," ajak Jo.
Tuan Chryst benar-benar mengikuti kemana Jo melangkah. Ada rasa keingintahuan yang besar padanya kali ini. Bagaimana pun ia harus menyelamatkan cucunya.
Dengan langkah besar mereka berjalan bersama-sama. Entah kebetulan atau tidak, pintu apartemennya bisa terbuka alias tidak terkunci.
__ADS_1
Benar saja sesaat kemudian, ketika Tuan Chryst masuk ke dalam apartemennya, ia memergoki menantunya Rose dan kekasihnya masih berada di dalam satu ranjang. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun ketika waktu itu. Tidak ada orang lagi yang bisa menyelamatkan Rose kali ini.
"Apa yang sedang kalian lakukan!" gertak Tuan Chryst.
Rose yang masih tertidur terbangun dengan kebingungan. Suara yang sangat ia hafal kini sudah berada di hadapannya. Wajah Rose seketika menjadi pias karena hal tersebut. Di tambah lagi ekspresi kemarahan yang terpancar di wajah Tuan Chryst begitu terlihat.
"Ka-kami tidak melakukan apa yang seperti kakek pikirkan saat ini."
Keringat sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya.
"Katakan apa yang ingin kau katakan saat ini!"
"Semua ini tidak seperti yang kakek lihat, kok."
"Jo ...." panggil Tuan Chryst dengan lantang.
"Saya, Tuan."
"Persiapkan surat perceraian atas nama Dylan dan Rose secepatnya. Aku tidak mau mempunyai menantu wanita ular seperti Rose!"
__ADS_1
Jedaarrrr ....
Seperti tersengat aliran listrik, badan Rose langsung bereaksi. Impian bersanding dengan Dylan kini musnah sudah. Ia tidak bisa membayangkan kehidupannya ke depan apakah bisa berlangsung dengan baik atau malah hancur.
Kesalahan satu malam yang ia perbuat, benar-benar membuatnya hancur. Rose melirik orang yang berada di sampingnya tersebut. Ada kilatan dendam dan amarah yang terpancar di sana.
"Dasar laki-laki ba**ngan, aku sungguh tidak akan pernah mengampunimu sampai kapanpun!" gumam Rose di dalam hati.
Setelah memaki Rose, Tuan Chryst segera pergi dari sana. Ia tidak akan sudi lagi berada di sini. Tuan Chryst akan pergi menuju Rumah Sakit, tempat Dylan di rawat. Ia bahagia karena baru saja mendapatkan kabar jika Dylan sudah siuman dari Ryo.
"Dylan, akhirnya kau siuman juga. Kakek sudah menyiapkan sebuah kejutan untukmu nanti, semoga masih ada waktu untukmu bertemu dengan Milley kembali."
"Tuan, menurut laporan Ryo, dia sudah menceritakan tentang keberadaan Nona Milley saat ini dengan perlahan pada Tuan Dylan. Meskipun ia sangat ingin pergi ke sana, tetapi Ryo bisa menahannya saat ini."
"Syukurlah, setidaknya aku masih bisa menyelamatkan mereka berdua. Kini tinggal membereskan Rebecca. Untuk sementara waktu biarkan ia bersenang-senang."
"Baik, Tuan."
.
__ADS_1
.
Bersambung