
Dylan benar-benar bernafsu siang ini. Udara kamar yang tadi sejuk kini berubah menjadi panas karena terlalu gerah. Milley bahkan sempat kehabisan nafas sesaat setelah Dylan melepaskan tautan bibir mereka.
Entah kenapa setelah mencicipi rasa manis tersebut membuat Dylan ketagihan untuk terus mencicipi benda kenyal tersebut. Terlebih melihat Milley yang kesusahan mengimbangi permainan yang ia lakukan membuat sensasi tersendiri di hati Dylan.
"Nih orang sengaja mau bunuh gue, kah? Dari tadi nggak kelar-kelar," gumamnya kesal.
Mau protes takut salah, tapi nggak protes dia susah nafas. Milley baru kali ini merasakan hal yang tidak berdaya seperti ini. Saat Milley masih terbuai di angan-angan, Dylan mengucapkan kata yang semakin membuat nafas Milley tercekat.
"Bolehkah aku meminta itu malam ini?" tanya Dylan dengan nafas setengah memburu.
"Tuh, kan dia minta yang itu. Oh Tuhan, aku harus bagaimana ini?" ucapnya dengan detak jantung yang semakin berpacu kencang.
Ciuman yang tadinya hangat kini terasa hambar bagi Milley. Pikirannya sudah jauh berkelana dan belum kembali.
Sementara itu, di sebuah kamar, seorang laki-laki sedang pusing karena Dylan mengganti kode brankas di kantor. Padahal besok pagi ia harus mempresentasikan proyek tersebut ke hadapan para pemegang saham. Selama Dylan berbulan madu, maka ia akan menggantikan posisinya untuk sementara waktu.
__ADS_1
Meski ketakutan dan bingung harus menjawab apa, akhirnya Milley mengangguk. Terlebih saat ini mereka adalah suami istri. Siapa yang berani menolak jika Dylan sudah berkehendak, begitu pemikiran Milley. Meskipun hanya sebuah anggukan tetapi hal itu sukses membuat percikan kembang api di hati Dylan.
"Yes, dia mau menyetujui usulan dariku," ucapnya senang di dalam hati.
Namun, untuk menutupi muka pengennya, Dylan mencoba menetralkan wajahnya agar tidak terlalu terlihat bahagia saat itu.
"Terima kasih, Sayang."
"Mau sampai kapan pun kalau dia sudah pengen, pasti akan ia lakukan," gumam Milley.
Dylan mengusap beberapa kali sudut bibir Milley yang basah karena ulahnya, tetapi ia tetap saja melanjutkan hobbynya yang baru tersebut. Kalau bukan karena rasa suka, tidak mungkin ia bersikap demikian.
Ia yang tahu betul karakter Dylan segera menelponnya. Karena sedari awal membuka telepon darinya, sebagai kompensasinya Dylan harus video call sebelum melakukan proses tempur nanti malam.
"Si-siapa Milley?"
__ADS_1
"Ayah, barusan beliau karena aku lupa dan kebetulan aku bisa memberikan hadiah suara yang khas saat menyanyikan lagu kesukaan ayah, jadi tinggal kau saja sayang yang membayar lunas hujuman kamu."
"Oh," jawab Dylan setengah acuh.
Milley terkikik melihat Dylan seolah acuh dan mengabaikan perkataannya barusan. Padahal jika benar Tuan Andreas meminta Dylan untuk melakukannya pasti Dylan akan terlihat lucu nantinya.
"Wkwkwk, tunggu aja sampai Ayah benar-benar meminta hal tersebut," gumam Milley.
Melihat kesempatan Dylan terlihat lengah, maka Milley segera pergi ke kamar mandi. Tubuhnya yang terasa gerah dan lengket membuatnya harus pergi ke kamar mandi dengan segera.
"Mau kemana, Mil?" ucap Dylan sambil mengusap kepalanya dengan handuk.
Memang saat Milley sedang telepon, Dylan memanfaatkan hal tersebut dengan mandi.
"Mau mandi, gerah Mas."
__ADS_1
"Ya, sudah kalau begitu, met mandi, yang wangi ya, eemmuuaachhh ...."
Milley bergidik karena Dylan tiba-tiba jadi aneh. Sesudah Milley masuk kamar mandi, Dylan berlonjak-lonjak karena bahagia.