NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 47. HUKUMAN MANIS


__ADS_3

Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, kini Dylan sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit tempat Evan di rawat. Kali ini ia tidak akan berbasa-basi lagi setelahnya.


"Sebentar lagi aku akan menjemputmu, sayang."


Dylan melonggarkan dasi yang ia pakai, lalu kembali fokus ke jalan di hadapannya. Meksi begitu, mulutnya tetap saja menggerutu sepanjang jalan. Saat hendak sampai, gawainya kembali menyala. Namun, ia tidak mau menggangkatnya dan lebih memilih untuk meninggalkannya di dalam mobil.


Entah kenapa, hanya Milley dan Milley yang mengisi rongga kepalanya saat ini. Dylan berjalan cepat ketika masuk ke dalam Rumah Sakit. Tanpa bertanya di mana letak kamar Evan, ia langsung menuju ke ruang rawat Evan yang terakhir kali.


Firasatnya mengatakan jika lelaki model Evan tidak mungkin dengan mudah berpindah-pindah ruang rawat. Kondisi keuangan dan kehidupan Evan tidak mungkin seberuntung dirinya, bukan?


Ada amarah dan cemburu yang besar terlihat dari sorot mata Dylan. Benar saja, ternyata Evan masih berada di ruangan yang sama. Seperti kebiasaannya, Dylan langsung menerobos masuk ke dalam kamar tanpa permisi.


"Maaf, Tuan. Di dalam sedang ada tamu, Anda tidak boleh masuk!" ucap salah satu pengawal Evan yang berjaga di depan.


"Nggak perduli, aku akan masuk untuk menjemput calon istriku!"


Dylan mendorong paksa pengawal yang mencoba menghalangi langkahnya, tetapi pengawal itu ternyata cukup bisa memancing amarah Dylan agar naik satu level lagi.


"Maaf, di dalam hanya ada Nona Milley dan Tuan Evan, Nona Milley belum menikah!"


Dylan melotot, otot-otot di tangannya terlihat jelas di sana. Sesaat kemudian, ia pun menggertak pengawal tersebut.


"Ka-kau, berani mematahkan ucapanku!"


Mendengar keributan di luar, Milley sudah menebak jika itu Dylan. Milley segera melihat gawainya. Terlihat pesan yang ia kirim baru dibaca oleh Dylan tiga puluh menit yang lalu. Itu artinya sepulang kerja ia menyusul ke sini.


Tidak enak pada Evan yang masih terlihat lemah dan rapuh, Milley lebih memilih untuk segera pulang.


"Evan, aku pulang dulu, ya. Nggak enak kalau Dylan mengacau di sini!"


"Tapi Milley, kita belum lama mengobrol."


Evan masih berusaha mengiba dan mempertahankan Milley agar tetap berada di sana. Namun, sepertinya Dylan sudah lebih dulu berhasil masuk.


"Milley, cepat ke sini!" ucap Dylan terdengar penuh amarah dari depan pintu masuk.


Milley menoleh lalu segera menggenggam tangannya.


"Aku pulang dulu, kamu cepat sembuh," pamit Milley.


Setelah berpamitan, Milley langsung diseret Dylan keluar dari ruang rawat Evan. Padahal tadinya, kedua tangannya masih dipegang oleh Evan.

__ADS_1


Meskipun meronta, sayang tenaga Milley belum pulih, jadi ia hanya bisa pasrah. Tidak lupa ia menoleh untuk melambaikan tangan pada Evan.


Evan tersenyum kecut karena Milley berhasil dibawa pergi. Ia pun merutuk dirinya yang berpura-pura sakit pada Milley. Andai ia tidak melakukan hal tersebut, pasti ia bisa mempertahankan Milley saat ini.


Di tengah perjalanan Milley menginjak kaki Dylan karena kesal. Reflek Dylan mengaduh. Tentu saja ia marah karena Dylan menariknya dengan paksa tadi.


"Apa-apaan sih Mil?"


"Lembut dikit napa? Masa jemput pake emosi. Bukankah aku sudah pamit lewat chat, tapi kamunya nggak balas."


"Maaf, tadi aku sibuk."


"Tapi nggak gitu juga. Masa udah gede nggak bisa jaga sopan santun. Kamu kan calon CEO masa kelakuan kaya bocah."


"Maaf Milley, aku janji setelah ini aku pasti akan lebih perhatian padamu," ucap Dylan mengiba.


"Terserah, aku marah!"


Mulut Milley yang terlanjur pedas terus menyerocos sepanjang jalan. Hingga Dylan yang tidak sabar terpaksa menarik Milley hingga jatuh ke dalam pelukannya.


"Mau apa!"


"Mau hukum kamu!"


Untungnya lift segera terbuka, hingga tubuh Milley terdorong sampai belakang saat masuk lift. Dylan menyeringai, pintu lift tertutup sempurna seolah memberikan kesempatan untuk Dylan menghukum Milley.


Nafas yang memburu itu akhirnya membuat Milley semakin ketakutan. Semakin dekat dan semakin dekat, hingga akhirnya Dylan berhasil mendaratkan ciuman pertama pada si pemilik bibir tipis itu.


Warna merah muda yang alami, selalu menggoda Dylan untuk mencicipinya segera. Akhirnya, sore itu ciuman paksa itu berhasil membuat keduanya terdiam seribu bahasa.


Dunia seolah berhenti untuk sekejab, benda kenyal itu ternyata sangat manis. Milley yang baru tersadar telah kecolongan, segera mendorong tubuh Dylan.


Ia meraba bibirnya perlahan. Lalu memukul tubuh Dylan secara berulang.


"Dasar mesum!"


"Beraninya kamu mencuri ciuman pertamaku!"


Milley terus memukuli Dylan, sementara ia tersenyum puas. Merasa telah menang, Dylan sangat bahagia sore itu. Tiba-tiba saja ia memeluk tubuh Milley dengan erat hingga ia merasa pengap.


"Kau mau membunuhku, bodoh!"

__ADS_1


"Eh, enggak lah, aku cuma bahagia karena ciuman dariku menjadi yang pertama bagimu."


Tatapan mata mereka berdua saling beradu. Saling menatap kedalaman matanya untuk melihat sampai seberapa besar rasa yang secara tidak sengaja telah tumbuh. Tentu saja Milley sudah blushing sejak tadi, tetapi Dylan suka.


Pintu lift yang terbuka membuat keduanya kikuk karena telah menjadi tontonan banyak orang. Ternyata sudah banyak para pengunjung Rumah Sakit yang mengantri di depan lift. Lalu tanpa malu-malu, Dylan menggandeng mesra calon istrinya itu.


Milley yang malu semakin menunduk ke bawah. Rasanya sungguh memalukan ketika semua orang melihat kemesraan mereka berdua. Sementara itu bisikan-bisikan orang-orang masih terdengar di belakang.


"Dasar anak muda jaman sekarang, nggak tau tempat," bisik mereka.


"Oh, rasanya ingin ku gilas anak songong ini!" ucap Milley di dalam hati.


Tidak berapa lama kemudian, mereka telah sampai di mobil. Lea dan Leo masuk ke dalam mobil yang mengantar Milley, sementara Milley masuk ke mobil Dylan. Itu pun atas paksaan si songong. Meski kesal, mau tidak mau ia tetap berada di dalam mobil tersebut.


"Dylan, ngapain kamu melakukan hal itu tadi!" protes Milley.


Milley yang jengah dengan tingkah Dylan hanya bisa bersedekap dada saat ini. Entah kenapa ia sangat tidak suka dengan sikap semena-mena dari Dylan.


"Sorry Milley, gue ingkar janji. Gue nggak suka kamu dekat dengan pria lain."


"Kenapa?"


"Karena aku suka kamu."


"Apa? Lu nggak bercanda, kan?"


"Serius malah."


Dylan seolah tidak memberikan ruang pada Milley untuk tidak percaya akan perkataannya. Yang ia mau, saat ini Milley menjadi miliknya seutuhnya.


Milley yang diam justru membuat Dylan kelimpungan.


"Apa kamu nggak suka sama aku?" tanya Dylan memberanikan diri.


Milley masih terdiam. Kira-kira bakal dijawab apa sama Milley ya?


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


Sambil nunggu up mampir di karya teman literasi Fany



__ADS_2