NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 125. AKU TITIP CUCUKU


__ADS_3

Merasa jika hidupnya tidak akan lama lagi, jauh sebelum Tuan Chryst jatuh sakit, ia sudah membuat surat wasiat dengan bantuan Jo. Saat itu ia masih menolak akan hal ini, tetapi Tuan Chryst semakin mendesaknya.


"Tuan, untuk apa kau lakukan hal ini?"


"Jangan bilang begitu, Jo. Usiaku sudah menua, aku juga tidak bisa sekuat dulu. Fisik yang tidak lagi muda membuatku terkadang merasa jika sudah waktunya aku beristirahat."


"Kenapa Anda berbicara seperti itu, Tuan?"


Tampak raut wajah Jo terlihat sendu. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya akan kehilangan orang yang sangat dihormatinya. Padahal Jo sudah menganggap Tuan Chryst seperti keluarganya sendiri.


Banyak kebaikan yang dilakukan oleh Tuan Chryst sehingga banyak teman, kerabat bahkan pegawainya yang betah mengabdi kepadanya. Sehingga Jo sangat setia kepada Tuan Chryst.


"Akan tetapi bukankah hal itu sangat tabu untuk dibicarakan?"


Jo terlihat masih menahan keinginan Tuan Besarnya, tetapi keinginan Tuan Chryst sudah bersikeras akan hal itu.


"Sudah Jo, lakukan sesuai permintaan dariku, cepat panggilkan Deka untuk mengurus semua prosedurnya."


Merasa tidak bisa menghalangi niatan Tuan besarnya, membuat Jo harus melakukannya.


"Ba-baik, Tuan."


Mengingat hal tersebut tidak terasa air mata Tuan Chryst menetes. Agar Jo tidak melihatnya ia bahkan membuang muka.


.


.


Beberapa saat yang lalu beliau sudah siuman. Hanya saja saat ia siuman Jo tidak berada di dalam ruangannya. Michael yang baru sampai segera mengetuk pintu.


Tidak lupa ia mengucap salam terlebih dahulu sebelum masuk. Tuan Chryst yang baru saja siuman mengulas senyum untuk tamu kehormatannya.


"Selamat siang, Tuan Chryst."


Tuan Chryst tersenyum ramah pada Michael. Kehadiran Michael memang sangat ditunggu oleh Tuan Chryst. Ada hal penting yang akan ia utarakan kepadanya.

__ADS_1


"Tuan Michael, terima kasih sudah bersedia untuk mengunjungiku."


"Sama-sama, Tuan. Bagaimana kondisinya, semoga operasinya lancar," ucap Michael tulus.


"Terima kasih. Oh, ya ada sesuatu hal yang ingin aku katakan padamu, Mich. Aku berharap kau mau mengabulkan permintaan dariku ini."


Ucapan Tuan Chryst seolah-olah mengisyaratkan jika usianya sudah tidak akan lama lagi. Apalagi aura wajah Tuan Chryst terlihat berbeda. Namun, sebagai anak muda ia harus bisa mendapatkan informasi lebih dan jika ia bisa bertindak lebih akan ia usahakan.


"Apakah hal ini seperti sebuah wasiat?" ucap Michael penuh dengan tanda tanya.


Tuan Chryst terkekeh, lalu ia menatap langit-langit. Sejenak menguasai hatinya yang entah kenapa saat itu terasa sangat bergemuruh. Seolah-olah apa yang ia ingin katakan sesuatu hal penting.


"Mich, selama ini aku sudah menganggap dirimu sebagai putraku. Jauh lebih tinggi kedudukannya daripada Andreas yang merupakan darah dagingku sendiri."


"Namun, aku tidak bisa memberikan alasan kenapa aku harus memilihmu. Aku telah menimbang semua hal yang ada di dirimu selama ini."


"Aku mohon, tolong jaga kedua cucuku, bimbinglah mereka sama seperti kamu bersikap pada saudara kandungmu. Aku berharap jika aku nanti meninggal, maka aku bisa pergi dengan tenang."


"Tuan Chryst, apa yang Anda katakan? Apakah penyakit kali ini sangat serius? Atau fasilitas kedokteran di sini tidak memadai?"


Michael yang berbaik hati menginginkan agar Tuan Chryst ikut dengannya berobat ke luar negeri. Michael hanya usil sedikit sehingg pertemuan kali ini berkesan.


"Jika Tuan Chryst setuju, maka ikutlah denganku untuk berobat ke luar negeri."


Tuan Chryst menggeleng perlahan.


"Mau dibawa kemana lagi tubuh yang tua renta ini, aku sudah tidak bisa bertahan lagi kali ini, apakah aku harus melakukan operasi lagi?"


Mata tua itu menatap sendu ke arah Michael. Memancarkan sebuah pengharapan di sana. Michael yang melihat hal tersebut seolah flash back ke masa lalunya sendiri. Di mana adiknya dulu mengatakan hal yang sama. Menitipkan kedua orang tuanya pada Michael.


"Ja-jangan berkata seperti itu Tuan, Anda pasti sembuh."


"Daripada aku harus berharap banyak dari operasi tersebut, lebih baik uangnya digunakan untuk kegiatan amal di panti asuhan. Mungkin hal itu akan lebih berguna untuk mereka."


Michael bisa merasakan kebaikan hati Tuan Chryst. Sehingga meski pun berat tetapi ia berusaha untuk tetap tegar dan berusaha mewujudkan keinginan Tuan Chryst.

__ADS_1


"Tuan Chryst, sebaiknya Anda pikirkan sekali lagi hal ini. Setidaknya hal ini tidak akan melukai hati Milley dan Dylan."


"Meskipun begitu hal ini tetap akan aku ucapkan kepadamu. Setidaknya dengan begitu aku akan lebih tenang."


...*** Kantor Polisi ***...


"Hei, lepaskan aku! Aku wanita terhormat!" bentak Rebecca pada petugas kepolisian yang membawanya ke ruang penyidik dengan paksa.


Sementara itu, pihak kepolisian tetap melaksanakan tugasnya. Dengan surat penangkapan yang mereka pegang, itu sudah cukup untuk membuat Rebecca meringkuk di balik jeruji besi.


Rebecca masih menahan geram atas apa yang ia terima saat ini. Ia tidak habis pikir dengan menantunya tersebut. Bisa-bisanya melakukan hal ini tanpa persetujuan darinya.


"Hanya karena aku mencekikmu, kau melakukan tuntutan kepadaku? Sungguh aku sangat membencimu Milley. Tunggu sampai aku keluar, maka kau akan mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan!" ucapnya penuh kebencian.


Tidak ada sebuah alasan khusus untuk membenci Milley, hanya karena masa lalunya Rebecca sama sekali tidak mau menerima kehadirannya.


Milley sendiri bisa memaklumi hal tersebut, tetapi saat ini mereka semua sudah mendapatkan kebahagiaan masing-masing tanpa harus saling melukai kembali. Akan tetapi, sikap Nyonya Rebecca tidak menunjukkan statusnya.


Milley kecewa akan hal itu. Begitu pula dengan Dylan yang sangat menyayangkan sikap ibunya seperti itu.


"Maafkan atas semua perbuatan ibuku kepadamu Milley, maaf."


"Dylan, aku sudah memaafkan ibu. Aku hanya menyayangkan sikapnya yang sangat membenciku."


Milley menunduk karena hal itu, sementara itu Dylan tidak bisa berkata apapun lagi. Dulu ia sempat membenci Milley karena kedatangannya mampu mencuri kasih sayang kakeknya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, ia sudah bisa melihat kebaikan hati istrinya tersebut.


Dylan memegang tangan istrinya dan membawanya ke dalam pangkuannya. Pandangannya lurus ke depan, seolah sedang merangkai kata yang tepat untuk istrinya tercinta.


"Biarkan aku membantumu menyelesaikan masalah ini. Aku yakin lambat laun ibu pasti akan menyukai kehadiranmu."


Milley mengangguk, mencoba memahami suaminya. Ia juga tidak ingin menjadi beban suaminya saat ini, apalagi kondisi Tuan Chryst masih belum juga membaik.


"Jika berbohong bisa membuat hubunganmu dengan ibu kandungmu membaik maka apapun itu akan aku lakukan demi kamu."


Sementara itu rasa trauma yang mendalam sepertinya hendak menggelayuti hati Milley. Namun ketika ia melihat wajah suaminya seolah keraguan di dalam hatinya luntur.

__ADS_1


Berbekal kepercayaan dan saling menguatkan, Milley tetap berusaha untuk berjuang bersama suaminya.


__ADS_2