NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 160. PANIK


__ADS_3

Merasa ada yang aneh dengan permintaan Viola, Michael sengaja memancing alasan dibalik permintaan Viola yang mendesak. Namun, ia harus membuatnya serapi mungkin agar Viola tidak curiga kepadanya.


"Tumben kamu mengajakku untuk mengunjungi Milley, bukankah ini sudah petang? Tidak baik ketika kita mendatanginya jam segini."


"Memangnya kenapa?"


"Kamu tidak tahu, ya. Kata orang Jawa terlebih orang terdahulu mengatakan jika ingin mengunjungi orang hamil tidak boleh pada waktu yang petang, karena banyak kejadian buruk yang bisa menimpa ibu dan calon bayinya."


"Benarkah?" tanya Viola dengan mimik wajah terkejut.


Michael mengangguk membenarkan perkataannya barusan.


"Bagaimana, mau lanjut atau mengalihkan tujuan kita?"


"Entahlah, aku ingin sekali datang kesana. Perasaanku masih tidak enak."


"Memangnya ada apa? Apa yang kau rasakan saat ini?"


"Entahlah, aku hanya ingin mengobrol bersamanya sebagai sesama wanita."


"Oh, cuma begitu?"


"Iya, hanya itu saja," ucap Viola sambil menunduk seolah ia seorang yang sudah melakukan hal yang buruk saat itu.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan tetap mengantarmu, semoga saja tidak terjadi apa-apa nanti."


"Aamiin."


Viola pun mengamini ucapan dari Michael. Sementara itu pikiran Viola seolah sedang berkecamuk saat itu antara perasaan bersalah dan tidak. Namun, ia lebih banyak merasakan perasaan tidak nyaman saat itu.


Michael kembali fokus pada arah kemudinya. Sementara itu Viola semakin tenggelam dalam pikirannya.


"Memangnya kenapa kalau kangen sama saudara sendiri?" gumam Viola sambil memandang depan.


Michael mencoba bijak kali ini. Ia tidak mau membuat Viola seolah sedang terpojok sehingga ingin melampiaskan kekesalannya pada Milley. Meskipun mereka saudara jangan dianggap jika ia sudah bisa menghapus kecemburuan di hati Viola.


"Semoga niatan darimu tulus, sehingga tidak akan ada keraguan kembali saat ini."


Hati wanita tidak ada yang tau, sekalipun dia itu adalah pasangannya. Bagaimana pun Milley masih menjadi ratu di hati Michael, dan hal itu bisa tercium oleh Viola.


"Kenapa kamu kepo banget sama urusanku?"


"Bukankah kita pacaran, jadi sebagai sepasang kekasih sebaiknya memang selalu menjaganya. Bahkan jika perlu sampai mengawalnya hingga ke tempat tidur."


"Dasar mesum!"


"Siapa?"

__ADS_1


"Kamu lah, masa aku!" ucap Viola tidak suka.


Merasa jika Viola kembali marah membuat Michael berniat untuk kembali iseng kepadanya.


"Sebaiknya aku mengerjai kamu sekali lagi, pasti seru," gumam Michael sambil menahan tawa.


Michael menghentikan laju mobilnya dengan menepi di pinggir jalan. Sontak hal itu membuat kening Viola berkerut.


"Kok berhenti?"


Michael hanya memberikan isyarat agar Viola terdiam. Lalu setelahnya ia mulai mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Namun beberapa saat kemudian nomor yang ia hubungi tidak dapat tersambung.


"Kenapa tidak di angkat?"


"Memangnya kamu menghubungi siapa?"


"Tentu saja Dylan, aku harus meminta ijin kepada suaminya terlebih dahulu, bagaimana pun Milley sudah menikah."


Viola malu akan sikap cemburu yang berlebihan darinya. Namun, mungkin itu caranya agar ia tidak lagi kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.


Karena tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, maka Michael segera menghubungi Tuan Chryst. Sesaat kemudian sambungan telepon darinya tersambung.


"Terima kasih Tuan Chryst, maaf telah menganggu waktumu yang sangat berharga."


Michael mengulas senyum dan tanda hormatnya kepada Tuan Chryst. Viola yang sejak tadi mengamatinya menjadi lega saat ini.


Setelah mendapatkan jawaban dari Tuan Chryst, maka Michael merasa lebih tenang.


"Tuan Chryst mengijinkan kita berkunjung."


"Syukurlah kalau begitu."


"Hm ...."


Ia pun segera melajukan mobilnya kembali menuju rumah kediaman Tuan Chryst.


Sementara itu Dylan yang sedang melaksanakan rapat segera menghentikan rapatnya. Ia merasa sedang terjadi sesuatu kepada istrinya. Benar saja ketika, Dylan mengecek ponselnya, terdapat beberapa kali panggilan dari Nanni.


"Kenapa aku tidak menyadarinya?" gumam Dylan kesal.


Saat ia hendak kembali memanggil Nanni ternyata sambungan teleponnya tidak dapat tersambung. Saat ini Dylan mencoba menghubungi nomor rumah, tetapi tetap saja tidak ada jawaban dari sana.


Ternyata saat ini Rebecca berdiri di belakang Nanni dengan salah satu tangan mengacungkan sebuah pisau yang ditujukan kepada leher Nanni. Sehingga saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Apa yang sedang kamu lakukan saat ini? Apa kamu mencoba menolong majikanmu itu?" ucap Rebecca.


Ternyata Nanni terjebak dalam situasi yang pelik. Sementara itu Milley sedang merasakan perutnya kontraksi hanya bisa mengelus perutnya, karena ia tidak bisa berdiri ataupun mengambil ponselnya. Terlebih lagi ponsel miliknya ia letakkan di dalam tas, sementara tas tersebut berada di atas meja riasnya.

__ADS_1


Beberapa menit yang lalu, saat Rebecca mendengar derap langkah, ia meninggalkan Milley sendiri di kamar. Rebecca tidak merasa terancam karena kondisi Milley sedang lemah. Maka dari itu ia segera mengejar seseorang yang berada di luar kamar.


Ternyata dugaannya benar, Nanni mengetahui semuanya. Tidak mau kehilangan ataupun terjebak dalam situasi yang sama dengan beberapa bulan yang lalu, Rebecca segera mengancam Nanni.


"Hahaha, beberapa bulan yang lalu kau berhasil membuatku masuk penjara dan hari ini akan aku buat kau menderita selamanya!"


Rebecca yang sudah gelap mata segera menghunuskan pisau miliknya pada leher Nanni, sehingga beberapa saat kemudian keluarlah da-rah yang mengucur dari sana. Hal itu membuat Rebecca tertawa senang.


"Bagaimana rasanya? Menyenangkan sekali bukan?"


Rebecca mengelilingi tubuh Nanni yang sedang sekarat. Lalu ia mulai mengeluarkan isi hatinya yang berupa dendam padanya.


"Apa kau tau bagaimana caraku untuk bertahan hidup selama enam bulan ini?"


"Tentu tidak bukan, padahal waktu itu aku sama sekali tidak melukai Milley tapi kau ...."


Rebecca menjambak rambut Nanni.


"Kau membuatku masuk penjara!" gertaknya penuh amarah.


"Dasar pembantu kurang ajar, beraninya kau menginjak harga diriku!"


Tiba-tiba saja dari arah belakang terdengar suara yang sangat ia kenal. Andreas bersama Lena baru saja sampai di kediaman Tuan Chryst.


"Rebeccaaaaa!" teriak Andreas dari tempat ia berdiri.


Tentu saja Rebecca terhenyak, sesaat kemudian ia menoleh. Seharusnya ia bahagia mendapati suaminya datang. Namun, Lena memegang lengan Andreas dengan erat. Hal itu seolah mematik api di dalam hati Rebecca.


Ia tersenyum namun hatinya menangis. Tidak mau memperlihatkan kesedihannya, ia mencoba kuat.


"Hei, suamiku apakabarmu? Ternyata belum ada satu tahun aku pergi kau sudah mendapatkan cinta yang baru," ucapnya miris.


Lena yang baru sadar akan tindakannya barusan segera melepas tautan tangannya dan berdiri di belakang Andreas. Sementara itu Milley semakin kesakitan dan hanya bisa meraih vas bunga hingga terjatuh ke lantai.


Suara pecahan vas bunga terdengar nyaring sampai lantai bawah. Lena yang menyadari hal itu segera berlari ke lantai atas. Melihat rivalnya menjauh, Rebecca ingin mengejarnya. Akan tetapi Andreas sudah bisa menghalanginya.


"Mau kemana kau?" gertak Andreas sambil mencekal lengan Rebecca.


Bukannya menolak, ia bahkan menghamburkan tubuhnya ke arah mantan suaminya. Untuk sesaat Lena menoleh, tetapi ia teringat putrinya di atas. Oleh karena itu ia segera berlari melanjutkan langkahnya ke kamar Milley dan meninggalkan Andreas bersama mantan istrinya.


Dengan langkah tergopoh-gopoh, Lena terus melangkah ke atas. Ia sungguh terkejut ketika melihat banyak da-rah yang mengalir dari paha Milley, putrinya.


"Astaga, Nak ... Ada apa denganmu?" ucapnya tergugu.


"I-ibu ...." panggilnya dengan suara yang sudah melemah.


Hingga sesaat kemudian ia pun pingsan. Kejadian tersebut membuat Lena panik dan berteriak.

__ADS_1


"Milley ....!"


BERSAMBUNG


__ADS_2