
Ternyata dari kejauhan ada Rose yang datang tanpa diundang. Tanpa disadari Dylan dan Milley ia sangat dekat dengan Rebecca, Ibu kandung Dylan.
"Gue bakal rebut apa yang menjadi milik gue!" ucapnya penuh keyakinan.
Namun, saat itu ia tidak masuk ke dalam kediamaan Tuan Chryst. Rose hanya memperhatikan Milley dari depan pagar belakang rumah saja, itu pun tidak lama.
Tidak butuh waktu lama, Rose bergegas pergi karena melihat Dylan keluar dari rumah.
"Kenapa lama sekali?"
Milley yang asyik mengobrol terkejut, hampir saja gawainya jatuh ke kolam renang. Untung Milley cekatan, dengan segera ia memasukkan gawai ke dalam saku celananya.
"Bisa nggak kalau datang itu, permisi dulu!"
"Kalau kamu memang punya adat istiadat harusnya paham jika semua orang di dalam rumah nungguin kamu buat sarapan bareng."
Milley terdiam, niat hati memang tidak ingin masuk karena ia merasa sebagai orang lain saat ini. Terlebih ia hanya orang asing yang terdampar di rumah itu.
Dylan yang biasanya arogan, terlihat melunak saat ini. Entah ia salah minum apa saat ini, hingga membuatnya bertingkah seperti ini.
"Kenapa diam? Udah tau kalau salah."
"A-aku bukan siapa-siapa di sini, jadi aku memilih menjauh," ucapnya lirih.
Milley masih menunduk, sesaat kemudian Dylan mendekatinya lalu menarik pinggangnya dan mengajaknya masuk ke dalam. Dilihatnya Dylan dengan lekat-lekat, tetapi Milley lebih memilih menunduk saat ini.
"Tengadahkan wajahmu, jangan bertingkah seolah kamu tertindas di sini. Kamu calon istriku seharusnya kamu mengimbangi sikapku!" ucap Dylan tegas.
"Nih orang kenapa sih, apa nenek sihir itu memasukkan obatnya ke dia?" batin Milley.
Sementara itu Michael terkejut mendengar suara lelaki lain di dalam sambungan teleponnya dengan Milley.
"Apa itu kakaknya Milley? Keliahatannya cukup galak."
__ADS_1
Tidak mau berpikiran aneh-aneh, Michael lebih memilih untuk segera meracik sarapan paginya. Sedangkan suasana tegang kembali terasa di kediaman Tuan Chryst.
Sampai di ruang makan, tidak ada bedanya dengan saat terakhir kali Milley meninggalkannya. Sampai sebuah ucapan dari Tuan Chryst membuat detak jantung Virgo terhenti seketika.
"Satu minggu lagi, pertunangan Milley dan Dylan akan dilaksanakan. Semua kolega bisnis akan hadir di sana. Dalam acara tersebut akan diumumkan bahwa Dylan Prayogi Kusuma akan menjadi calon penerus perusahaan Anggara Group Corp."
Rebecca menatap tajam ke arah Virgo. Sementara itu Andreas masih memikirkan cara untuk membujuk Dylan agar ia mau memberikan satu posisi untuknya.
"Bisa-bisanya keinginanku dipatahkan oleh Kakek," ucap Rebecca geram.
Andai waktu bisa diputar, ia ingin lebih dekat dengan putra semata wayangnya itu. Agar ia lebih mudah mengontrol semua harta kekayaan Kakek Chryst.
Tuan Chryst masih menatap ke arah semua orang yang hadir di ruangan itu.
"Ada yang keberatan dengan ucapanku barusan?"
"Oh, ya. Aku belum menanyakan maksud dan tujuan kalian datang kesini?"
"Oh. Kamu tidak keberatan dengan keputusanku barusan, kan?"
"Oh, tentu saja tidak. Siapa pun pilihan kakek, pasti itu yang terbaik bagi Dylan."
"Baguslah kalau begitu!"
"Andreas, pembukaan showroom di Sulawesi sudah hampir siap. Lebih baik kamu bersiap terbang ke sana."
Mata Andreas berbinar. "Baik, Ayah. Aku akan memesan tiket penerbangan ke sana sebentar lagi."
"Milley nanti siang ikut aku ke butik untuk mengukur gaun yang akan kamu pakai."
"Iya, Kek."
Obrolan pun selesai.
__ADS_1
🍂Apartement Michael.
Michael amat suka memasak. Berbagai jenis menu masakan sudah terhidang di meja. Ia sampai lupa jika ia hanya sendirian saat ini. Mungkin karena terlalu bahagia, Michael tidak menyadari saat memasak.
"Andai kamu di sini, pasti bisa sarapan bareng," gumam Michael sambil mengaduk bubur ayam di depannya."
Michael tidak mau terus berada dalam bayangan Cecil. Oleh karena itu ia mulai melepaskan semua kenangan indah bersama adiknya itu. Perlahan-lahan telah tergeser dengan keberadaan Milley.
Hal itu juga berefek pada Milley. Seperti menemukan sisi lain dari hidupnya. Ia bisa merasa nyaman saat bersama Michael. Entah kenapa sosok Michael yang dewasa mampu membuat Milley merasa dihargai dan dilingdungi sebagai wanita.
Secara perlahan, sosok tomboy yang berada di dalam tubuhnya mulai berganti dengan sosok Milley yang feminin.
"Akh, rasanya sungguh melelahkan."
Milley meregangkan kedua tangannya ke atas. Namun, tiba-tiba matanya berkedut.
"Kenapa lagi nih mata, siapa yang ngomongin gue?"
Milley mencoba bangun dari tempat tidurnya dan menaruh buku yang baru ia baca di nakas. Ia memegang gawainya sesaat untuk mengecek notifikasi.
Benar saja, matanya berbinar melihat jika Michael mengirimkan pesan padanya.
"Happy breakfast ladies."
Milley tergelak dengan ekspresi Michael yang dia kirimkan padanya saat ini.
Sepertinya bunga-bunga cinta tidak salah alamat ya, tapi kasihan Dylan dong. Mana pendukung Dylan dan Milley?
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1