
Ketika kehidupan tidak sejalan dengan keinginan, maka sudah bisa dipastikan jika akan banyak pengorbanan yang terjadi. Sama halnya dengan kehidupan Milley dan Dylan yang sudah terpisah jarak dan waktu.
Sejak awal pertemuan mereka selalu diuji dengan berbagai cobaan hidup. Akankah selamanya cobaan hidup akan menerpa mereka.
Mungkin apa yang terjadi setelah ini hanya terjadi satu kali dalam seribu kejadian. Seorang CEO muda baru saja keluar dari sebuah hotel tempat ia melakukan meeting pagi itu. Dengan setia, sang asisten selalu berdiri bersebelahan dengan sang CEO.
Lalu di belakangnya terlihat beberapa bodyguard yang setiap mengiringi langkahnya. Menjaganya seolah berlian yang tidak boleh tergores sedikitpun. Sangat kontras dengan apa yang terjadi pada seorang wanita yang sedang bergulat dengan aneka kue dan pastry.
Sementara itu seorang anak lelaki yang sangat tampan berlarian dengan bola kesukaannya. Sampai tanpa sengaja bolanya terlempar keluar toko hingga membuatnya mengejar sampai luar. Milley yang sedang sibuk dengan adonan sampai tidak tahu jika putranya keluar dari toko.
Sementara itu sebuah mobil dengan kecepatan yang lumayan hendak melintas jalan tersebut. Di sisi lain, bola milik Je terus menggelinding ke tengah jalan.
CEO itu terus melangkah menuju mobilnya. Meskipun panas terik, hal itu tidak mengurangi ketampanan dan aura sang CEO yang saat ini berstatus sebagai seorang duda. Tidak banyak yang tahu akan kejadian yang terjadi padanya selama lima tahun ini.
Bagaimana ia berjuang dengan rasa traumanya dan rasa kehilangan yang tidak berujung. Hingga mampu berdiri dan membuat perusahaan Anggara berkembang pesat.
Sejak saat itulah ia telah menjelma sebagai seorang CEO muda yang bertangan dingin dan kejam di dunia bisnis. Akan tetapi sosok lain dalam dirinya sangat dikagumi anak yatim dan kaum duafa. Kebaikan hatinya membuat banyak orang mendoakan keberkahan dalam hidupnya.
Itulah salah satu hal yang selalu diajarkan oleh mendiang istrinya. Meskipun ia kaya dan tidak kekurangan harta bukan berarti tidak ada orang lain yang kekurangan, hingga istrinya menyadarkan agar ia selalu berbagi kepada orang yang membutuhkan.
"Sepertinya membawakan sebuah oleh-oleh untuk orang rumah mungkin bukan ide yang buruk."
Pandangannya teralihkan pada sebuah toko kue. Entah apa yang menarik dari toko itu, sampai ia bisa menarik atensi dari seorang CEO.
"Kalian tunggu saja di sini, aku mau beli kue sebentar."
"Baik Boss."
Saat ia hendak menyeberang jalan, secara kebetulan ada seorang anak lak-laki sedang berlari mengejar bola yang menggelinding ke tengah jalan. Sementara itu dari arah yang berlawanan terlihat sebuah mobil melaju dengan kencangnya hingga kurang dari sepersekian detik berikutnya mungkin saja sudah menyentuh tubuh anak kecil itu.
Beruntung CEO tersebut datang tepat waktu dan berhasil menyelamatkannya. Ia bahkan sempat terlihat berguling beberapa kali agar tubuh anak kecil itu tidak terluka. Dari dalam toko terlihat jika ibunya berteriak, karena sang anak lepas dari pengawasannya.
"Baby Je ...." teriak sang ibu bocah laki-laki itu ketika melihat tubuh putranya berguling di jalanan.
Sontak saja, Dylan menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang wanita cantik yang sangat ia rindukan berdiri di seberang jalan.
__ADS_1
"Apakah aku sedang bermimpi?" gumamnya.
Seolah sedang dalam keadaan bermimpi ia bisa melihat perwujudan dari seseorang yang selalu hadir dalam setiap mimpi-mimpinya beberapa hari terakhir ini. Dylan sangat menikmati moment tersebut.
Bahkan saking menikmatinya ia tidak sadar jika bocah laki-laki yang baru saja ia tolong sudah berlari ke arah ibunya.
"Mama ...."
Kini Baby J sudah bersama ibunya. Dipeluknya dengan penuh kasih sayang dan menghujaninya dengan ciuman cinta dari seorang ibu.
"Sayang, kamu tidak apa-apa," ucap Milley mengusap lembut kepala putranya, belahan jiwanya.
Anak kecil itu menggeleng. Kini Milley bisa bernafas lega karena putranya selamat.
Dylan yang tadi terbuai lamunannya kini sudah sadar. Kini ia bahkan sudah berdiri mendekati wanita itu yang sedang bersama putranya.
Milley yang tidak menyadari keberadaan Dylan yang mendekatinya. Bahkan ia menganggap jika laki-laki yang menolong anaknya tadi sebagai orang asing. Milley beringsut mundur.
"Kamu melupakan aku, kah ... sayang," ucap Dylan sambil melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di wajahnya.
Sontak Milley terkejut, sama halnya dengan Dylan yang merasakan hal yang sama.
"Dylan, benarkah itu kamu?" ucapnya tidak percaya.
Tidak perlu menunggu waktu yang lama, Dylan segera memeluk tubuh Milley dan juga anak lelaki di hadapannya saat ini. Menghujani mereka dengan kecupan kasih sayang.
Reflek, Baby J mendorong tubuh Dylan yang secara mengaja menyentuh tubuh ibunya. Dylan memundurkan langkahnya dan melepas pelukannya. Ia tersenyum senang akan tindakan anak laki-laki yang ia yakini sebagai putranya.
"Tampan, siapa nama kamu?" tanyanya pada seorang anak laki-laki yang usianya sekitar lima tahunan.
Anak kecil itu mengulurkan tangannya ke arah laki-laki di hadapannya.
"Jordan Fathaan Rafisqy, Om. Om bisa panggil namaku Baby J sesuai panggilan mamaku kepadaku."
Deg
__ADS_1
Ada desiran aneh yang mengalir di dalam nasi Dylan. Begitu pula dengan Milley yang masih terkejut dengan kejadian siang itu.
Tanpa mengatakan apapun Dylan langsung memeluk tubuh anak kecil itu. Membelai putranya yang sudah lama ia cari.
"Putraku ...." ucapnya perlahan.
Baby J tidak menolak sentuhan Dylan karena ia menganggapnya sebagai orang baik. Apalagi Dylan sudah menolongnya.
Merasa tidak ada penolakan, Dylan segera menggendong Baby J dan membawanya mendekati Milley yang masih terdiam mematung.
"Sayang kembalilah padaku, aku suamimu ...." ucap Dylan sambil mengecup kening Milley.
Milley mengangguk mengiyakan permintaan suaminya itu. Meskipun ia masih belum menyadari apakah itu mimpi atau memang sedang terjadi.
Sementara itu asisten Dylan, Kean mendekati Bosnya dengan wajah kebingungan. Tatapan seorang gadis dari seberang sudah membuatnya panik.
Ia belum pernah melihat istri Bosnya, sehingga ia tidak mengenali Milley, karena baru saja menggantikan posisi asisten Jo yang mengambil pensiun dini.
"Maaf, Bos mengganggu sebentar. Mobil yang tadi gimana? Apa Bos mau bertanggung jawab?" tanya Kean ketakutan.
Jordy menoleh dan mengamati apa yang terjadi. Anak kecil itu memang masih kecil tetapi ia pandai membaca keadaan.
Dari seberang jalan, terlihat seorang gadis muda sedang berkacak pinggang di sana. Ia sedang menunggu itikad baik dari Dylan untuk meminta maaf kepadanya. Tentu saja karena telah membuatnya harus mengerem mendadak mobilnya, hingga membuat riasan miliknya hampir rusak. Padahal hari itu ia ada acara penting yang harus ia hadiri.
"Urus saja sesukamu dan bayar sesuai permintaan yang ia minta," ujar Dylan setengah acuh dan melenggang pergi dengan menggandeng pinggang ramping milik Milley.
Tentu saja hal itu membuatnya marah besar.
"Dasar lelaki tidak tahu diri bisa-bisanya mengacaukan hariku!" umpatnya kesal.
Mungkin karena merasa tidak terima makanya ia segera mengejar Dylan dan hendak menamparnya. Akan tetapi gadis itu malah terpesona dengan wajah Dylan yang tetap tampan di usia yang sudah menginjak usia kepala tiga.
"Astaga cogan!" pekiknya bahagia.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG