
Laura terus mengembangkan senyumnya ketika ia melihat pujaan hatinya sedang berada di hadapannya. Bagaimana tidak dikatakan berjodoh jika setiap waktu keduanya seringkali bertemu. Sama seperti saat ini dimana secara tidak sengaja Laura dipertemukan kembali dengan Dylan.
"Sayang, kemanapun kamu berada, pasti di
situ ada kami," ucapnya dengan gaya manjalita.
Sementara itu, Dylan memasang wajah masamnya. Ia merasa sial jika bertemu dengan Laura. Justru sebaliknya, Laura seolah sedang mendapatkan jodoh yang selama ini ia impikan.
Bertemu dengan Dylan, Laura tidak pernah bolos kuliah. Sejak Dylan mengatakan jika dirinya adalah gadis tidak bependidikan, ia berjanji akan merubah kebiasaannya. Setidaknya Laura akan lebih bernilai ketika bertemu kembali dengan Dylan.
Berdampak positif, bukan? Tentu karena tanpa sengaja Dylan telah menciptakan sesuatu yang baik untuk Laura. Mungkin saja hal itu ia lakukan agar ia bisa berguna di masa depan.
"Bos, kenapa melamun, lagi?"
Tanpa menjawab Dylan menyodorkan beberapa lembar kertas laporan keuangan perusahaan selama ia tinggal di luar kota. Kean menatap lembaran kertas tersebut dengan mata terbuka lebar.
"Kenapa bisa seperti ini?" ucap Kean terkejut.
Dylan mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.
"Ini pasti perbuatan orang dalam!" serunya dengan nada serius.
__ADS_1
"Bukankah orang-orang dalam merupakan orang-orang pilihan? Apakah itu artinya mereka berkhianat?"
"Kita akan kembali ke Ibu Kota malam ini juga!"
"Baik, Boss."
Merasa jika hal ini sangat penting dan mendesak, ia akan menyelinap masuk ke kamar Milley. Sementara itu, Milley yang merasa jika selimutnya bergerak segera menoleh.
"Shutt ... Ini aku!"
"Mas Dylan?"
Kening Milley tampak berkerut, "Lalu, apakah kau akan segera kembali ke Ibu Kota?"
Tangan Dylan segera meraih kedua tangan Milley lalu mengecupnya secara perlahan.
"Maafkan aku yang harus segera pergi, namun maaf, aku tidak bisa membawamu sekarang, karena aku belum bisa menjamin jika mereka tidak akan melukaimu."
"Baiklah aku memberikan ijin kepadamu tapi ... Berhati-hatilah."
Dylan tersenyum lalu segera melepaskan rasa rindunya kepada Milley. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya agar terhimpun sebuah kekuatan yang bisa ia gunakan ketika kembali ke Ibu Kota.
__ADS_1
Sementara itu, Rain yang secara tidak sengaja mendengar percakapan mereka hanya bisa mengelus dada.
"Andaikan waktu bisa aku gunakan agar bisa selalu bersamamu. Mungkin hari tidak akan ada yang bisa menyakitimu."
"Menjadi orang kaya, menjadi orang penting, menjadi itu tumpuan hidup orang-orang, membuatku harus selalu bekerja ekstra keras."
"Ya, agar mereka tetap memiliki penghasilan dan bisa untuk menghidupi keluarga mereka, maka setidaknya buatlah mereka mudah mencari sesuap nasi."
"Jangan menjadikan itu sebagai beban. Sesungguhnya ketika kamu menduduki sebuah jabatan tertinggi di sebuah perusahaan bahkan pada pekerjaan lain pun, harus tetap selalu bertindak bijaksana."
"Ingatlah, tidak semua orang jahat bisa menikmati kebaikan dari orang yang teraniaya."
Dylan mengecup kening Milley, "Terima kasih telah menemaniku berjuang sampai saat ini."
"Aku yakin setelah semuanya beres, maka aku akan menjemputmu."
Milley mengangguk setuju. Rain yang tidak ingin menganggu pembicaraan mereka segera beranjak pergi menuju kamarnya. Sedangkan dari sisi lain, terlihat jika Jord mengintip di sana.
"Apakah Papa ada masalah serius? Kenapa sampai menyelinap ke kamar Mama?"
"Sebaiknya aku segera mencari tahu. Tidak mungkin jika ia melakukan hal tidak baik dengan menyelinap ke sana."
__ADS_1