
Saat ini Eva sedang menyusun sebuah rencana untuk melabrak Rose yang telah merebut suami sahnya. Eva sudah berjuang lebih dari sepuluh tahun untuk mempertahankan pernikahannya dengan Alex.
Meskipun begitu, di dalam pernikahannya tidak pernah ada keturunan yang hadir di antara mereka. Sehingga memicu sebuah pertengkaran. Semakin hari semakin membuat keduanya terbentang jarak.
Hingga terjadilah malam terkutuk itu, yang membuat Alex bisa menggendong calon pewarisnya saat ini. Sementara itu Eva menangis dalam takdirnya. Seolah takdir semakin memperolok kehidupannya. Lelaki yang ia cintai kini telah memilih hati yang lain. Meskipun perempuan itu sama sekali tidak pernah mencintainya, Alex tidak peduli.
Sebagai istri yang sah, Eva tau apa yang dilakukannya saat ini sama sekali tidak akan pernah merubah statusnya, akan tetapi ia benar-benar memperjuangkan suaminya agar kembali ke jalan yang benar.
"Hei wanita ja**ng, kau harus menerima semua hukuman dariku!"_
Apalagi anak itu lahir dari rahim perempuan lain. Hal itu membuat Eva sangat tidak suka akan kehadiran perempuan itu, tetapi sepertinya ia harus berjuang memperebutkan haknya sebagai istri yang sahnya kembali.
Sementara itu di rumah Alex, Rose masih menerima hukuman atas semua hal yang dilakukannya kemarin. Alex sangat marah terhadap istrinya karena ia berani melakukan hal-hal di luar perintahnya, tetapi tidak dengan Eva. Kesedihannya selama sepuluh tahun diabaikan begitu saja.
Eva juga tidak mau bertindak tanpa sebuah persiapan sebelumnya, apalagi ia harus menghadapi wanita seperti itu. Untuk menghadapi orang seperti itu ia harus menggunakan sebuah taktik, agar pelakor itu tahu bahwa tidak semua orang bisa menyakiti perempuan lain.
Apalagi ia seorang istri yang masih sah. Meskipun ia memiliki kekurangan akan tetapi tidak semua hal bisa dijadikan sebuah alasan untuk sebuah perselingkuhan.
__ADS_1
"Mau kemana kamu?"
Ternyata Nenek Eva turun dari lantai atas. Ia mendekati cucu kesayangannya lalu menatap tajam ke arahnya.
"Eva mau melabrak pela**r itu, Nek!" ucapnya sambil mengepalkan tangannya karena geram.
Nenek memegang bahu Eva lalu tersenyum ke arahnya.
"Tidak perlu mengotori tanganmu dan lihatlah beberapa saat lagi, maka kau akan merasakan kepuasan."
Alis Eva berkerut seolah sedang memunculkan sebuah pertanyaan di sana.
Eva mendengus kesal, lalu ia pun mengikuti ucapan sang nenek. Kedua wanita beda generasi itu segera melangkah keluar dari rumah menuju tempat favorit wanita segala usia.
Eva tidak bisa menolak ucapan sang nenek karena berkat beliau ia bisa bertemu dengan Alex. Hanya saja Alex berubah karena sesuatu hal dan itu membuat Eva muak.
"Kau bisa lolos dariku saat ini, akan tetapi karma Tuhan akan terus berjalan."
__ADS_1
.
.
"Bagaimana, Sayang? Apa ada yang membebani pikiranmu?"
Dylan mendekati Milley, menyurai rambut Milley dengan penuh kasih sayang. Lalu menemaninya menikmati suasana pagi di taman belakang rumah.
"Kapan kehidupan kita bisa damai, akankah kita selalu dihantui oleh sesuatu yang tidak kita minta?"
"Jangan bilang begitu, apapun yang terjadi aku akan berusaha untuk melindungimu, aku berjanji."
"So sweet, kamu makin lama makin manis, ya. Akan tetapi, aku bingung kenapa aku bisa bertahan denganmu?"
"Jadi kamu tidak bahagia denganku, Sayang?"
"Entahlah, karena definisi kebahagiaan itu sangat berbeda di dalam pemikiran satu orang dengan orang yang lain. Tidak akan pernah ada kesamaan karena setiap manusia mempunyai sudut pandang yang berbeda."
__ADS_1
"Apapun perbedaan itu, aku tetap mencintaimu."