
Apa yang terjadi terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Akan tetapi jika Tuhan berkehendak, maka keajaiban bisa saja terjadi.
Di tengah derai air matanya, Milley sematkan doa-doa kepada Allah. Ia memohon ampun untuk semua kesalahan yang pernah dilakukan selama hidupnya. Meminta pertolongan dari sang Pemilik Kehidupan agar tidak ada hal yang membahayakan bagi putra serta orang yang ia sayangi.
"Nona, ini makanannya, mumpung masih hangat silakan dimakan!"
Rain menyodorkan makanan untuk Milley. Sudah dua hari ini ia menginap di rumah Rain. Saat ia ingin pergi, Rain masih menghalanginya karena keadaan belum membaik.
"Sampai kapan aku berada di sini, Rain? Aku sangat khawatir dengan putraku?"
Milley berusaha untuk tetap menyuapi dirinya, meskipun pada kenyataannya tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Karena nasi ataupun makanan itu hanya lewat dan jatuh kembali di atas piring.
"Maafkan saya, Nona. Bukan maksud saya untuk menahan Anda di sini, tetapi inilah cara yang saya gunakan untuk melindungi Anda selama dua hari itu dan ..."
Ucapan Rain terhenti ketika tatapan sendu itu ia dapatkan. Rain yang mendapatkan tatapan dari Milley segera menunduk. Jauh di dalam lubuk hatinya, Rain bukanlah orang yang suka memaksa. Entah kenapa saat melihat Milley, hatinya tergugah.
__ADS_1
Rain menjadi nekad ketika melihat sosok laki-laki tinggi besar itu menuangkan bensin kepada mobil Milley. Beruntung saat ia hendak mematik api, temannya masih sempat ada yang memanggilnya. Sehingga ia bisa mendapatkan kesempatan berlari dan segera melompat untuk menyelamatkan Milley.
"Jika Nona memaksa, maka esok hari ikutlah saya dalam memulung. Mungkin dengan memakai baju usang milik Saya dan sedikit polesan itu bisa membuat pandangan orang-orang tidak akan terlalu tertarik pada Anda."
Ucapan Rain barusan terdengar bagaikan sebuah angin segar bagi Milley. Dengan segera ia mengangguk setuju.
"Aku setuju, Rain. Aku setuju ... besok kita lakukan rencana itu saja."
Rain tersenyum melihat binar kebahagian mulai muncul di dalam wajah cantik Milley.
"Ya Tuhan, maafkan aku jika ucapan dariku tadi hanya terdengar sebagai bualan saja. Akan tetapi aku sungguh ingin membantu Nona Milley."
"Pasti kau sangat mengkhawatirkan aku dan putra kita?" ucap Milley mencoba kuat.
.
__ADS_1
.
"Oek ... oek ... oek ...."
"Berisiiiikk!" teriak seorang wanita paruh baya.
"Jangan bunuh dia, Nyonya. Biarkan saya yang merawatnya."
"Bodoh, mana mungkin aku membunuhnya, kau gila!"
Wanita itu menunduk, lalu dengan perlahan mengendong Baby J turun dari kotak box miliknya. Meskipun awalnya ia ingin membesarkan Baby J sebagai alat untuk ia balas dendam, tetapi sejak melihat wajah cucunya itu rasa amarah di hatinya memudar.
Sorot mata Baby J ternyata mampu meluluhkan sikap bengis sang nenek. Ia tau jika neneknya bukanlah orang jahat melainkan seorang wanita yang salah jalan. Lagi pula Baby J juga tidak sepenuhnya bersalah.
Hanya saja ia terlahir di tengah drama pertikaian dari ambisi sang nenek yang belum tersampaikan. Oleh karena itu ia harusnya tidak mati secara sia-sia.
__ADS_1
Namun, entah kenapa malam itu Baby J terus menangis, hingga membuat sang nenek yang telah mencurinya menjadi uring-uringan.
BERSAMBUNG