NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 89. BIARKAN


__ADS_3

"Ma-malam," ucap Milley tergagap karena tiba-tiba Dylan menariknya.


Saat ini Dylan telah berhasil membawa Milley kembali ke kediaman Tuan Chryst. Hanya saja Rose juga berada di sana.


Bahkan tangan Dylan dengan sengaja melingkar di pinggang ramping milik Milley. Mata Rose tertuju pada sikap Dylan. Dari hal itu, Milley bisa menyimpulkan bahwa Dylan sengaja memanasi Rose dan mamanya, maka dari itu ia pun ikut berakting.


"Tumben kalian ke sini?" ucap Dylan angkuh.


Rebecca mencoba mencairkan ketegangan tersebut dengan lebih dulu berucap.


"Iya, Mama sengaja menunggu kalian pulang untuk mengajak kalian berdua makan malam."


"Makan malam?" tanya Dylan sesaat kemudian.


"Iya, sekalian buat merayakan kedatangan Milley di sini," ucap Rose sedikit berbohong.


Padahal pada kenyataanya ia sama sekali tidak menyukai kehadiran Milley. Namun, karena ancaman Dylan membuat Rose harus berpikir lebih dalam lagi dan menurut padanya.


Tiba-tiba saja Rose ikut berbicara kembali, tetapi Dylan sama sekali tidak gentar ketika menghadapi mereka. Justru saat ini Dylan seolah ingin mengatakan jika kehadiran mereka sama sekali tidak berharga.


"Bagus kalau begitu, setidaknya aku tidak akan merasa terganggu akan kehadiranmu lagi."


Mata Milley membola ketika menyadari Dylan bisa bermulut pedas dalam waktu singkat. Meskipun begitu ia bangga pada Dylan yang sudah lebih baik dari sebelumnya, tetapi ia sedikit tidak tega ketika melihat perut Rose yang sudah membesar tersebut.


Dylan yang ia kenal dulu berbeda, lemah pada wanita dan lebih cenderung mengalah. Malam ini Dylan terlihat dewasa. Mungkin berdekatan dengannya sedikit banyak mempengaruhinya. Tanpa ia sadari Milley tersenyum.


Senyuman Milley membuat Rose salah mengartikan, hingga kebencian terhadap Milley semakin bertambah.


"Beraninya kamu menertawakan aku!"


Rebbeca mengelus pundak Rose dengan perlahan. Lalu ia mengatakan hal yang lain agar tidak terjadi keributan di rumah itu. Lagi pula Tuan Chryst sudah memperingatkan dirinya agar jangan sampai mematik api di rumah itu.


"Mungkin kamu lelah, Nak. Lain kali saja Mama akan mengajak kalian kembali."

__ADS_1


Tanpa mau menghargai ucapan Mamanya, Dylan melangkah pergi dan tetap mengajak Milley. Namun, sebelum pergi ia sempat menunduk hormat dan tersenyum ke arah Rebbeca dan Rose.


Mana mungkin ia berani bertindak semena-mena terhadap kedua wanita tadi, sebab ia tau jika menyinggung mereka sama saja menambah masalah hidup. Oleh karena itu, Milley masih menjaga sikap.


Rose yang sudah marah segera melangkah keluar dari rumah tersebut diikuti oleh Rebecca. Ia berjalan menuju mobilnya dengan amarah yang membara.


"Rose, jaga sikapmu!" ucap Rebecca tegas setelah mobil mereka mulai meninggalkan kediaman Tuan Chryst.


"Kenapa Mama tidak membelaku!" protes Rose.


"Bukannya nggak mau membelamu, tetapi aku sedang mencari perhatian dari mereka. Setidaknya aku bisa lebih dekat dengan Milley maka aku akan mudah mendekati Dylan."


"Terserah Mama, tetapi aku akan melakukan sesuai rencanaku."


"Terserah kamu, Rose."


"Bagaimana cara meluluhkan hati Dylan yang sekeras batu karang, jika mendekati Milley saja sesulit itu?" gumam Rose dengan sebal.


"Ya, ampun ... dia nembak gue?"


"Tunggu dulu, dia nggak sedang nge-prank gue, kan?"


Apapun itu, tetapi perkataan Dylan jelas-jelas membuatnya mati kutu. Padahal hanya pernyataan cinta, tetapi Milley belum pernah ditembak sebelumnya. Jadi wajar bukan, kalau dia ketakutan setengah mati.


Milley seolah sedang berdiri di antara dua pilihan. Haruskah ia merasa senang, atau merasa sedih. Milley masih bimbang terhadap perasaannya kali ini.


Apalagi bayangan Michael selalu memenuhi hari-harinya. Kehadiran Dylan yang satu rumah dengannya malah terhalang oleh kehadiran Michael.


"Haruskah aku menerima cintamu, tetapi aku tidak mempunyai rasa padamu saat ini," gumam Milley.


Dylan tau jika Milley masih ragu kepadanya, tetapi ia tidak bisa mengatakan tidak mencintainya. Jujur, Dylan sudah jatuh cinta dengan Milley, entah sejak kapan ia pun tidak bisa memastikannya.


Ia bahkan mengabaikan semua perjanjian yang telah ia buat dengan Milley beberapa bulan yang lalu. Apapun itu, asalkan bisa berdekatan dengan Milley itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


"Aku harap kamu menerimaku, Milley. Meskipun sulit, aku harap kamu memberikan kesempatan untukku," ucap Dylan di dalam hatinya.


Entah sejak kapan perasaan itu muncul, karena yang ia tau, jika ada lelaki lain mendekati Milley rasa cemburu itu membelenggu jiwa Dylan. Sejak itulah ia sadar, jika ia telah menambatkan hatinya pada Milley. Bahkan rasa cemburu yang ia miliki, sampai membuat Dylan kehilangan arah dan terkadang susah mengontrol emosinya.


"Milley, maafkan aku yang telah mengingkari perjanjian kita, tetapi aku janji akan selalu membahagiakan kamu."


Keinginan Milley untuk marah-marah, sirna dalam sekejab. Sampai tidak mereka sangka, keduanya hampir bersamaan dalam mengucap kata untuk mencairkan situasi.


"Aa-aku ...."


Dylan menyentuh bibir Milley dengan lembut.


"Cinta bukan hanya sekedar ucapan tetapi ia akan tersirat ketika aku mulai melakukan tindakan untuk menunjukkan betapa aku sangat mencintaimu Milley. Percayalah setelah ini akan aku urus perceraian dengan Rose."


Milley tidak kuasa menyakiti hati Rose, tetapi jika mengingat kelakuannya selama ini membuat Milley membiarkan Dylan berbuat semaunya.


"Jika kamu benar mencintaiku, maka sebaiknya kamu harus bersikap gentle ketika memintaku nanti pada Kak Michael."


Dylan mengangguk, bagaimanapun juga selama Dylan sakit yang menjaga Milley adalah dia. Jadi sudah seharusnya Dylan menghormatinya.


Di sisi lain, Michael tampak mondar-mandir karena hal ini. Hatinya masih merasa tidak rela jika Milley bisa dibawa pergi oleh Dylan.


"Bagaimana ini, kenapa aku merasa tidak becus untuk menjagamu?" gumam Michael sambil memandang hamparan halaman rumahnya yang sepi.


Sebenarnya sebelum ini di taman itu, hampir setiap malam ia dan Milley selalu berbincang-bincang tentang semua hal. Milley menjelma seperti sosok asisten yang ia cari.


Akan tetapi saat mengetahui posisi Milley yang selalu menjadi incaran bagi semua orang, membuatnya harus menyembunyikan keberadaan Milley.


"Milley, apakah kau merindukanku di sana? Kenapa rasanya ini masih terlalu sakit?"


Michael mendudukkan dirinya di atas kursi. Ditatapnya ponsel miliknya yang berisi foto kenagangan tentang dirinya dengan Milley. Senyuman Milley yang meneduhkan, tatapan matanya yang tidak bisa membuat Michael berpaling membuat hatinya berdenyut nyeri.


Terlalu banyak kenangan dan rasa cinta yang telah tumbuh di hati Michael untuk Milley sehingga ketika ia terbang jauh, Michael sama sekali tidak tenang. Ia masih saja membuka semua situs internet agar memudahkannya meretas rumah kediamaan Dylan Joshua.

__ADS_1


__ADS_2