
Setelah beristirahat semalam di hotel, tubuh dan kondisi kesehatan Milley dan Dylan terlihat lebih bugar. Beberapa saat kemudian datanglah beberapa make up profesional yang siap untuk memoles wajah Milley agar terlihat lebih cantik dan natural.
Tema yang mereka angkat kali ini memang lebih mengarah kepada natural dan menyatu dengan alam. Saat ini Milley sedang dirias wajahnya, pakaian yang dikenakan olehnya sudah siap dikenakan.
Riasan wajah yang natural membuat Milley terlihat lebih dewasa tetapi tetap tidak membuat kecantikannya berkurang. Milley yang tidak terbiasa memakai make up berlebih hanya bisa tersenyum kaku saat Dylan memandangnya dengan tatapan aneh.
Apalagi usia Milley saat ini sudah menginjak dua puluh tahun. Wajah yang tirus, bola mata berwarna emerald, serta kulit tubuh yang berwarna putih susu membuat Milley terlihat seperti seorang princess. Namun, jika ia tidak memakai make up maka wajah naturalnya akan memperlihatkan jika ia masih remaja ABG.
"Sudah siap, Tuan Putri?" tanya Dylan yang tiba-tiba muncul di belakang tubuh Milley.
Sontak saja Milley terkejut, untung saja ia tidak terjingkat karena hal tersebut. Terlalu asyik dirias membuat Milley tidak sadar jika tadi yang memasangkan mahkotanya adalah Dylan.
Senyuman Milley akhirnya terbit ketika Dylan yang datang tiba-tiba dan mengejutkan di belakangnya. Dengan sentuhan lembut Dylan mengulurkan tangannya ke arah Milley, meski awalnya ia harus terkena omelan dari calon istrinya terlebih dahulu.
"Kamu bisa nggak sih, jangan ngagetin gitu ...." keluh Milley dengan tersenyum malu-malu.
"Kalau aku yang mau, emangnya kamu bisa melarangku, hm?"
Milley menghela nafasnya, "Hm, enggak ada yang bisa melarang Tuan Muda Dylan, puas!"
Dylan terkikik geli. "Puas banget, sayang."
"Dasar laki-laki nyebelin!" ucap Milley sambil memasang wajah masam.
Andai saja Milley tidak memakai gaun, sudah bisa dipastikan jika Dylan akan habis di tangannya. Milley bukan wanita lemah, lagi pula sifat tomboy-nya tidak pernah luntur, jadi tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan Milley meskipun itu Dylan.
Acara kejahilan Dylan telah usai, kini saatnya mereka mulai melakukan foto pre-wedding. Dylan menuntunnya ke lokasi pemotretan. Berbagai pose telah dilakukan oleh mereka. Hasilnya sungguh memuaskan mata dan kedua mempelai sangat puas akan hasil pemotretan mereka.
Selepas pemotretan Milley dan Dylan masih asyik melihat hasil foto mereka pada kamera. Senyuman dan candaan terkadang muncul di sela-sela kegiatan mereka.
"Gimana, kamu suka, hm?"
"Suka banget, apalagi foto yang ini!"
Milley menunjukkan sebuah foto dengan pose Dylan menggendong Milley, ketika mereka tiba-tiba di kejar oleh seekor monyet hingga membuat suasana pemotretan menjadi sedikit kacau. Beruntung salah satu kru bisa menjinakkan monyet tersebut, sehingga acara pemotretan bisa dilakukan kembali.
"Iya, aku suka banget pose ini, sebuah pose yang terjadi tanpa sengaja, tetapi hasilnya sungguh memuaskan."
"Betul sekali."
__ADS_1
Dylan memperhatikan Milley ketika berbicara, ia sangat suka ketika Milley mulai bercerita dengan serius. Ekspresi Milley sangat natural apalagi saat hembusan angin menerbangkan helai poni rambutnya.
FLASH BACK ON
Saat pemotretan sedang berlangsung tadi, memang ada saat-saat kekacauan terjadi akibat ada monyet liar yang mendatangi mereka. Mungkin mereka terusik karena pada saat itu banyak orang yang lalu lalang di sana. Akibatnya banyak hal tidak terduga terjadi di sana.
Salah satu monyet tiba-tiba datang dan ikut serta dalam sebuah pose yang dilakukan olehnya. Bahkan ia tidak mau pergi sebelum salah satu kru memberikannya makanan berupa buah-buahan.
"Kenapa dia tidak mau pergi, sih!" gerutu Dylan yang sangat takut akan kehadiran monyet kecil tersebut.
Akan tetapi tidak dengan Milley yang malah terlihat bahagia di sana. Ia seolah sedang berada di komunitas monyet. Terlihat ia ingin memberi makan monyet tersebut tetapi Dylan menahannya.
"Apa yang akan kamu lakukan, Sayang?"
"Ya memberi makan dia, memangnya kamu mau mereka semakin betah di sini?" tanya Milley dengan alis menyatu.
"Hehehe, tentu saja tidak, sayang. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka betah ketika berada di sini."
"Trus, kamu mau apain mereka?"
"Tentu saja mengusirnya."
Bukannya maju, Dylan malah meringis tidak karuan.
"Aku nggak mau, Sayang. Kamu kan tahu jika aku alergi bulu."
Milley yang berkacak pinggang melotot tajam ke arah Dylan.
"Sejak kapan? Perasaan hal itu tidak pernah terlihat?"
"Hehehe, sejak saat ini, Sayang."
"Dasar!"
Namun, Dylan dan Milley tidak perlu bertindak saat itu, karena akhirnya ada salah satu kru yang bisa menghalau monyet itu sampai mereka kembali ke habitat aslinya.
"Hhh, akhirnya ...." seru mereka bersama-sama.
FLASH BACK OFF
__ADS_1
Milley memang jarang berdandan terlihat cantik, tetapi saat ia berdandan maka kecantikan yang dimilikinya akan bertambah berlipat-lipat. Oleh karena itu, Dylan tidak pernah merasa jemu ketika ia harus memandang Milley dalam waktu yang lama.
Namun, Milley merasa aneh saat Dylan terus memandanginya. Ia merasa risih karena hal itu.
"Dylan, please jangan mandangin aku mulu, kenapa?"
"Emangnya ada tulisan dilarang melihat wajah calon istrinya?"
Milley tergelak karena hal ini, Dylan yang melihatnya menjadi bertanya-tanya karena hal ini.
"Kenapa ketawa?"
"Suka-suka aku, dong."
"Ya, emang suka-suka kamu, kalau aku aja nggak boleh begitu," ucap Dylan seolah tertindas.
"Kata siapa, emang enggak ada yang bisa mematahkan ucapan kamu, kan? Lagi pula ucapan Tuan Muda Dylan adalah sebuah titah."
"Wkwkwk, istri yang manis. Aku suka."
"Dih, dasar Tuan Muda Arogan," cibir Milley.
Saat mereka sedang asyik bercengkerama tiba-tiba muncul menganggu yang membuat Dylan bersungut-sungut.
"Duh yang mulai bucin ...." seru Davin yang tiba-tiba muncul di belakang calon pengantin.
Davin adalah owner Wedding Organizer tempat Dylan dan Milley melakukan pernikahan nanti. Bahkan sesi pemotretan pre-wedding ini adalah bagian dari konsep pernikahan yang diambil oleh Dylan dan Milley, tetapi tetap saja mereka sering berkonsultasi dengan Davin.
"Apa-an sih, Bro. Kedatangan Lu nganggu aja!" protes Dylan sambil menonyor bahu Davin.
Meskipun begitu Davin tidak merasa jera, ia semakin asyik mengerjai Dylan dan Milley. Kapan lagi bisa mengerjai Dylan seperti itu.
Namun, kedekatan seperti ini memudahkan ia menuangkan konsep pernikahan di WO-nya dengan ide dari calon mempelai.
.
.
Akankah kedatangan Davin memudahkan segalanya? Semoga saja.
__ADS_1
Milley merasa risih ketika Dylan terus memperhatikan dirinya, tetapi Dylan tidak peduli. Baginya kehilangan satu jam dengan Milley bisa membuat Dylan sakit. Apalagi beberapa bulan yang lalu, Dylan sempat amnesia hingga membuatnya kehilangan banyak waktu dengan Milley. Oleh karena itu, saat ini Dylan terus menempel pada Milley.