
Setelah menikmati pemandangan pagi, maka Dylan dan Milley segera sarapan.
"Sayang, sarapan dulu, yuk. Lapar ...."
"Eh, iya sorry."
Milley mengecup pipi Dylan sebagai permintaan maafnya lalu berlari kecil ke dalam hotel. Sejenak Dylan terhipnotis atas tingkah Milley, lalu setelah sadar ia segera mengejar Milley yang sudah berani meninggalkannya.
Sementara itu Jo memijit pelipisnya yang berdenyut kencang. Bagaimana bisa Dylan begitu ceroboh membiarkannya memimpin rapat hanya dengan soft copy file presentasi.
"Ya Tuhan, kenapa bisa orang seceroboh Dylan berani melakukan hal seperti ini. Awas saja ia mengulanginya kembali."
Beruntung tidak terjadi apapun dan meeting berjalan lancar. Sementara itu Andreas, Lena dan Tuan Chryst sedang menuju Inggris untuk pengobatan Lena.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?"
"Cukup tegang, biasanya ada Milley yang menemaniku," ucap Lena mencoba jujur.
Andreas memegang tangan Lena dan mengecupnya perlahan.
"Ada aku di sini saat ini, biarkan anak-anak merasakan kebahagiaannya. Kita fokus pada penyembuhan kamu saja."
__ADS_1
Tuan Chryst yang melihat kebucinan Andreas hanya bisa berdehem untuk sejenak.
"Ehem, bisa tidak melihat situasi kalau mau bucin."
"Maaf, Pa. Maafkan untuk sikapku yang terlalu jujur."
"Ah, anak muda selalu saja tidak tahu tempat, apalagi anak muda yang baru saja merasakan puber kedua. Anaknya honeymoon, dianya mau ikutan, heleh ...."
Tuan Chryst hanya geleng-geleng melihat kebucinan Andreas. Daripada matanya ternoda oleh hal itu, ia lebih memilih menutup matanya dengan kaca mata hitam.
"Lebih baik seperti ini," gumam Tuan Andreas.
Sesaat kemudian datanglah seorang pramugari cantik yang menawarkan makanan dan minuman sebagai camilan. Melihat hal tersebut, Tuan Chryst tidak ingin membuang kesempatan tersebut. Ia langsung mengalihkan perhatiannya pada pramugari teesebut. Beruntung ia sangat ramah meskipun tingkah Tuan Chryst sedikit menyebalkan.
.
.
"Makanan yang kamu buat enak banget Milley, nanti bisa bikin kaya gini lagi, kan?"
"Bisa, asalkan ada bahan-bahannya."
__ADS_1
"Siap."
Terkadang Milley bingung akan sikap Dylan yang berubah-ubah, tetapi dibalik semua itu hal yang terpenting adalah ia tetap mencintainya meskipun banyak badai yang menghalangi perjalanan cinta mereka.
"Jika cinta butuh pengorbanan, maka aku siap mengabdi kepadamu suamiku." Chamomille Milley.
"Kau lah pelita hidupku, dalam kegelapan dunia dan kejamnya hidup kau mampu menggandeng dan menuntunku untuk tetap sabar dalam menghadapi semua ujian kita, aku harap cinta kita akan abadi selamanya," Dylan Joshua.
Setelah sarapan yang kesiangan, Dylan dan Milley segera pergi berkeliling kepulauan Maldives. Tidak banyak yang tau jika banyak spot menarik di kepulauan itu.
Saat ini pasangan pengantin baru tersebut pergi ke Whale Submarine. Salah satu tempat wisata yang bisa ditemukan di pulau Male.
Whale Submarine merupakan tur kapal selam yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Dylan sengaja mengajak Milley untuk ikut dalam tur ini. Dengan menggunakan kapal selam, Dylan dan Milley diajak menikmati pesona bawah laut di sekitar Male.
Beragam pesona kekayaan bawah laut, keragaman hayati hewan laut, dan keindahan terumbu karang bisa dilihat dengan jelas melalui kapal selam ini. Selama empat puluh lima menit, mereka terpuaskan dengan pesona birunya laut Maldive.
"Sayang kamu suka?" tanya Dylan.
"Suka banget, Sayang."
Milley tampak menikmati tur kali ini, sementara Dylan tidak pernah lupa untuk mengabdikan semua moment tersebut.
__ADS_1
Saat melihat senyuman Milley ada kehangatan yang menjalar di hati Dylan.
"Ijinkan aku untuk selalu mencintaimu Milley, melukiskan senyuman di wajah cantikmu dan memberikan kebahagian untuk keluarga kecil kita. Aamiin."