
Pancaran kebahagiaan terlihat jelas di wajah Lena ketika mendapatkan kabar dari Kean tentang keberadaan putrinya yang telah diketemukan oleh Dylan. Tidak henti-hentinya ia bersyukur. Lena memang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat ini.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, karena saat ini Michael sudah menikah dengan Viola.
“Bagaimana aku menyembunyikan hal ini darinya? Padahal aku tahu betul jika Michael sangat mencintai Milley.”
Lena terlihat mondar-mandir di dalam kamar. Sampai ia tidak tahu jika Andreas sudah berdiri di belakangnya. Sampai tepukan hapus dari Andreas mampu membuatnya terjingkat.
“Sebenarnya, apa yang sudah terjadi?”
“Astaga, Mas. Kamu sungguh mengagetkanku!” ucap Lena sambil memegang da-da-nya.
“Ha ha ha, maafkan aku ....”
“Sudahlah, itu tidak penting. Saat ini aku jauh mempunyai berita yang lebih dari itu.”
“Apakah itu?” tanya Andreas penasaran.
Lena menarik lengan Andreas hingga mereka saat ini duduk di kursi panjang. Andreas tersenyum melihat tingkah Lena yang kelihatan gugup.
“Katakanlah, apa yang membuatmu bahagia?”
“Anak kita sudah ketemu,” ucapnya dengan berbinar.
“Anak kita? Siapa?” ucapnya penuh kebingungan.
“Eh, salah. Anakku dengan Mas Robby. Milley dan cucu kita sudah diketemukan.”
“Sungguh?”
Lena mengangguk.
“Ka-kau tidak berbohong padaku, bukan?”
Lena menggeleng, “Apa untungnya berbohong kepadamu? Bukanlah tidak ada untungnya berbuat demikian?”
“Betul juga, tetapi kenapa ada sesuatu yang mengganjal, ya?”
“Aku ingin mengatakan hal ini kepada Ayah, pasti ia akan sangat bahagia setelah ini."
Lena sudah bersiap untuk segera beranjak pergi, namun tangan Andreas menahannya.
__ADS_1
“Lebih baik jangan, tunggu sampai Dylan yang mengatakannya sendiri kepada Ayah. Aku rasa itu akan lebih baik.”
“Kenapa begitu?” tanyanya penasaran.
“Bukankah kau tahu sendiri, jika rekan rekan bisnis Ayah dan keluarga kita tidak semuanya mendukung perkembangan bisnis kita yang sangat meningkat kali ini.”
Lena mengangguk perlahan.
“Bahkan banyak yang tidak setuju dengan kesuksesan yang telah diraih oleh Dylan."
Kini Andreas mulai berdiri dan memandang hamparan halaman belakang rumah Tuan Chryst.
"Apalagi karirnya yang sangat menanjak kali ini sudah membuat beberapa kolega bisnis Ayah terkejut. Bahkan sudah mempersiapkan putri-putrinya untuk menjadi pasangan Dylan.”
Andreas berbalik dan memandang ke arah Lena.
“Apakah kau akan membahayakan keberadaan Milley dan cucu kita?”
Sontak saja Lena menggeleng perlahan. Tentu saja di dalam hatinya ia sangat tidak rela jika orang yang sangat dinantikannya akan berada dalam bahaya.
“Jadi, biarlah Dylan yang mengatakan hal itu. Biarkan dia menjalankan sesuai dengan rencananya. Aku sangat yakin dengan apa yang telah dipersiapkan oleh Dylan, karena sudah pasti itu adalah yang terbaik untuk kita.”
“Maafkan untuk kecerobohanku, Mas.”
“Tidak apa-apa, aku hanya mengingatkan kebaikan untuk kita semua.”
Setelahnya Lena pun teringat akan suatu hal.
“Ingat jangan sampai Michael juga tahu akan hal ini."
Andreas mengangguk, ia paham dengan keinginan Lena. Hal ini juga demi kebaikan Viola dan bayinya.
Kediaman Michael dan Viola.
Satu tahun yang lalu, akhirnya Michael menikah dengan Viola. Meskipun rasa cinta untuk Milley tidak pernah pudar, namun ia juga tidak bisa menyakiti hati Viola yang selama ini telah menemaninya dalam keterpurukan.
Berkat dukungan dari Lena, ibunya Milley akhirnya ia menikah dengan Viola. Jangan tanya kenapa ia bisa hamil saat ini. Jika bukan karena Viola yang bertindak, pasti Michael tidak akan pernah menyentuh Viola.
Nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau ia harus menerima kenyataan jika Viola hamil darah dagingnya. Namun, sesuatu hal telah mengusik hati Michael.
Entah kenapa di dalam mimpinya selama beberapa hari terakhir ia sering bertemu dengan seorang anak laki-laki. Di dalam mimpinya anak itu sangatlah tampan dan pintar.
__ADS_1
Lalu setiap kali hendak berpisah, ia selalu dijemput oleh seorang wanita yang memiliki rambut panjang sebahu. Sayang, wajahnya tidak terlihat karena terlalu terang cahaya yang melingkupinya.
Kecerdasan anak itu bahkan setara dengan kecerdasan Michael sejak kecil. Terkesan arogan tapi sangat pandai dalam menyingkapi segala situasi. Namun, wajahnya sangat tidak asing baginya.
"Siapa sebenarnya mereka? Kenapa selalu muncul dalam mimpiku?"
Ingin rasanya ia bercerita tentang hal itu, tetapi ia tidak tahu harus berbagi dengan siapa? Lamunan Michael terhenti ketika Viola dengan senyumnya masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Masih lembur, Mas?”
Michael mengangguk, Viola mengelus perutnya yang masih rata. Lalu perlahan ia mulai mendekati suaminya itu.
“Anak kita ingin kau menemaniku tidur, apa pekerjaan lebih penting daripada dia?”
Michael sedang tidak berminat dengan perdebatan. Ia pun memilih untuk beranjak dan menggiring istrinya kembali ke kamar.
"Ayo kita segera tidur!" ajaknya.
Viola mengangguk lalu segera menyamai langkah suaminya untuk menuju kamar. Kening Viola mengeryit, ketika Michael langsung patuh.
“Tumben dia tidak protes, apakah ia benar-benar sedang dalam suatu masalah?” gumamnya.
“Biarlah, yang terpenting saat ini, setidaknya perlakuannya tidak kasar,” ucap Viola di dalam hati.
Selama menikah perlakuan manis dari Michael sudah berubah dan sudah tidak semanis dulu. Kini bahkan menyentuh tubuhnya saja bisa ia hitung dengan jari. Viola memang memiliki tubuh Michael tetapi tidak dengan hatinya.
Menyakitkan rasanya jika menikah karena terpaksa, tetapi rasa ingin memiliki Michael jauh lebih besar dari segalanya. Dulu Michael begitu hangat kepadanya lalu perlahan Viola menyadari jika hal itu ia lakukan demi mengisi hatinya yang sempat kehilangan Milley.
Sebanyak apapun ia berusaha, pada akhirnya hatinya tetap tidak dapat ia miliki. Belum lagi masalah pekerjaan yang sangat menyita waktunya. Meskipun Mama Marrie bersikap baik kepadanya, namun Viola masih merasa tertekan.
“Andai aku yang datang lebih dulu, apakah hatimu akan menjadi milikku?” seringkali pertanyaan itu menghampiri Viola.
Sebentar-sebentar ia masih menangis jika Michael lebih memilih meninggalkan dirinya demi pekerjaan yang darurat. Beban tanggung jawab perusahaan memang berada di tangannya. Sehingga Viola mengorbankan perasaannya.
Viola mengelus perutnya, “Semoga saja setelah ini akan ada sebuah keajaiban.”
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1