
Pagi yang ditunggu telah tiba, kini kedua orang tua itu sedang menunggu kedatangan pesawat terbang yang akan mengantarkannya kembali ke Indonesia. Perasaan berdebar saat ini sedang menggelayuti Andreas.
"Kenapa rasanya sangat tidak nyaman?" gumamnya.
Hampir semua nasehat dari ayahnya kemarin benar-benar membuat Andreas tidak bisa tidur dengan nyenyak. Banyak sekali beban pikiran yang saat ini menderanya.
Bagaimana bisa ia memutuskan untuk segera kembali ke tanah air sementara dirinya belum siap untuk berpisah dengan Lena. Mungkin egonya masih terlalu tinggi sehingga nalurinya belum bisa berjalan dengan semestinya.
Andreas memandang sendu ke arah Lena, ia takut jika nanti ia akan mengecewakan atau menyakiti hatinya kembali. Lena yang menyadari jika Andreas terus menatapnya hanya bisa menoleh.
"Kamu kenapa, kok tangannya dingin sekali?" tanya Lena sambil memegang tangan Andreas dengan raut wajah khawatir.
"Aku tidak kenapa-napa, hanya saja perasaanku tidak enak saja."
"Kenapa, apa ada masalah perusahan yang menganggu? Atau ada hal lain yang mengganggu."
Andreas menggeleng perlahan. Agar Lena tidak curiga kepadanya, maka ia pun mengubah mimik wajahnya agar lebih terlihat tenang. Bahkan Andreas tidak menatap manik mata Lena karena ia tidak mau kehohongannya terbongkar.
"Sudahlah, sebaiknya kita segera naik pesawat!" ajak Andreas pada Lena.
Beberapa saat kemudian terdengar suara panggilan kepada semua para penumpang agar mereka segera naik pesawat. Lena akhirnya mengangguk dan mengikuti langkah Andreas.
Sesekali pandangan Andreas diarahkannya ke arah Lena. Istilahnya curi-curi pandang. Hanya saja jika diperhatikan dari jauh, maka pandangan orang lain akan iri dengan kemesraan mereka yang disembunyikan lewat tatapan mata di antara keduanya.
__ADS_1
"Tuhan, ijinkan hamba untuk bisa membahagiakan dia tidak akan pernah menjadi milikku lagi, maaf jika dulu aku menolak takdir untuk bersamamu. Hingga akhirnya Tuhan menghukumku dengan semua ini."
Andreas tampak sangat menyesal akan hal ini. Ia tidak menyangka jika dirinya akan berada di dalam situasi yang sangat ironi. Jika Tuhan memberikan reinkarnasi, maka ia dengan senang hati akan menerimanya asalkan bisa bersanding dengan Lena.
Tiba-tiba saja lamunan Andreas terganggu saat ada lemparan bola kecil ke arahnya. Ternyata pelakunya adalah seorang anak kecil yang sangat lucu. Ibu anak kecil itu segera menghampirinya lalu meminta maaf untuk kejadian barusan?
"Maaf, untuk kelancangannya. Kalau begitu saya permisi."
"Oh, tidak mengapa."
Lena menepuk bahu Andreas perlahan, "Mungkin cucu kita akan se-aktif itu jika lahir nanti."
"Semoga saja ya, Sayang."
"Ya, maaf. Habisnya kapan lagi bisa mengucap Sayang kalau tidak di sini."
"Ha ha ha, dasar calon kakek yang tidak mau menua!" cibir Lena.
"Ahai, biarin lah, tetapi kamu suka, kan?"
"Bisa jadi iya, bisa jadi enggak, wkwkwk."
Setelah puas bersenda gurau, akhirnya mereka sampai di kursi penumpang. Semuanya sudah terisi penuh. Hampir semua kursi di pesawat tersebut full. Hingga sesaat kemudian pesawat mereka take off.
__ADS_1
...***...
Kediaman Tuan Chryst.
Milley saat ini menyibukkan dirinya dengan membaca komik. Beberapa hari yang lalu ia sudah memborong beberapa komik detektif yang sangat menarik menurutnya. Kejadian unik terjadi saat Dylan memilihkan komik romance untuk Milley tetapi ia tidak suka dan lebih memilih komik action dan detektif.
"Dylan, Sayang. Aku nggak suka romance jadi tolong singkirkan!"
"Tapi, Sayang. Ini kan bagus."
"Heh, aku bilang nggak suka ya nggak suka, aku paling benci sama komik model romance tahu."
"Kenapa?"
"Nggak suka cara bucinnya, wek!"
"Astaga, Sayang. Kamu kok gitu sih!"
"Buang atau kamu tidur di luar!"
"Aduh, ya jangan dong."
Sontak tangan Dylan memegang perut Milley yang masih rata.
__ADS_1
"Bantu Daddy dong, Sayang. Mommy kamu sensi banget sama Daddy ...."