
Lidah Dylan kembali asyik bermain-main di leher Milley hingga membuat pemiliknya mele-nguh karena perbuatan Dylan. Dylan semakin asyik menciu-mi tubuh istrinya dan mulai turun ke bagian bukit kembar milik istrinya itu.
Milley terus mele-nguh ketika Dylan mulai mengekspos bagian da-danya yang menantang untuk siap dinikmati. Apalagi saat ia mulai merasakan lidah Dylan bermain-main di puncak bukit miliknya.
"Sa-sayang ...." Milley mencengkeram erat bahu Dylan dengan erat ketika merasakan gelenyer-gelenyer aneh mulai membakar dirinya.
Dylan tersenyum puas ketika melihat istrinya mulai terbakar bi-ra-hi yang sama dengan yang ia rasakan saat ini. Milley mulai meliuk-liukan tubuhnya menahan sebuah gelombang-gelombang aneh di dalam tubuhnya saat Dylan memperlambat alur pemanasan yang ia lakukan.
Dylan segera menarik kedua tali yang ada di sisi pinggul Milley agar bagaian tubuh bagian bawah milik Milley terekspos sempurna. Dylan tidak bisa lagi menahan gejolak yang terasa semakin membakar dirinya saat ini.
Tanpa Milley minta, Dylan melepas sendiri penutup tubuhnya bagian bawah. Dylan meminta ijin untuk menyatukan miliknya dengan milik Milley. Dengan mata sayu, Milley mengangguk. Ia sudah tidak bisa menguasai dirinya saat ini.
Dylan yang baru pertama kali melakukan hal itu sedikit kesusahan ketika ia harus mengoyak gua milik Milley. Masih terasa sangat sempit hingga membuat senjata miliknya kesakitan.
"Awh ...." rin-tih keduanya secara bersamaan.
Meski bagian luarnya sudah basah, tetapi Dylan harus terpeleset beberapa kali saat ingin memasukinya. Akan tetapi saat ujung senjatanya mulai masuk, Milley meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Ah, sa-sakit, Sa-sayang ...." rin-tih Milley saat senjata laras panjang milik Dylan telah masuk sempurna ke dalam gua garba milik Milley.
Dylan yang tidak tega mendengar runtihan istrinya akhirnya membungkam bibir Milley dengan ciu-man yang memabukkan darinya.
Hentakan demi hentakan terus dilakukan dengan keras oleh Dylan. Nafasnya mulai memburu karena ade-gan panas yang ia lakukan saat ini.
Era-ngan demi era-ngan terdengar menggema di dalam ruangan itu. Milley yang awalnya menangis kini mulai menikmati setiap sentuhan dari Dylan.
Waktu terus berlalu dengan cepat, beberapa kali Dylan maupun Milley telah mencapai puncak ke-nikmat-an itu. Ia tidak menyangka jika durasinya terlalu panjang.
Milley mulai mencengke-ram erat sprei putih itu ketika merasakan tubuh Dylan semakin menegang seiring datangnya gelombang yang datang menghantam tubuhnya.
"Aahhh ...."
Keduanya sama-sama berteriak ketika merasakan gelombang tsunami yang barusan datang dan menghantam keduanya. Dylan masih mengukung tubuh Milley dan menghujaninya dengan berjuta ciuman kasih sayang.
"Terima kasih, Istriku Sayang."
__ADS_1
Milley tersenyum ketika ia sudah selesai melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Meskipun rasanya sangat sakit dibagian bawah, tetapi ia bersyukur bisa memberikannya pada orang yang benar-benar ia cintai.
"Aku sangat mencintaimu, Dylan," ucap Milley sambil memeluk tubuh Dylan.
Begitu pula dengan diriku, Sayang. Aku sangat mencintaimu Chamomille Milley."
Dylan menutup pergulatan panasnya malam itu dengan sebuah kecupan kasih sayang di kening Milley. Malam yang begitu membahagiakan membuat sepasang suami istri baru itu benar-benar kelelahan. Hingga akhirnya keduanya terlelap di dalam malam yang indah.
...***...
Untung saja kamar mereka di desain kedap suara, sehingga para pelayan tidak bisa mendengarkan apa pun yang terjadi di dalam sana semalam.
Mungkin karena kelelahan membuat Dylan harus membiarkan Milley tertidur lebih lama. Pemandangan yang menakjubkan tersaji pagi itu. Pakaian mereka berce-ceran di atas lantai, membuktikan jika keduanya mereka benar-benar telah melakukan penyatuan.
"Rasanya semalam seperti mimpi, tetapi aku sangat menyukainya," gumam Dylan sambil melangkah ke kamar mandi.
.
__ADS_1
.
Akh ...lelahnya, othor mau nafas dulu ya😆