
"Bagaimana, tidak ada yang terluka bukan?"
Tuan Chryst tampak khawatir, sehingga ia segera memanggil semua pihak kepolisian dan beberapa diantaranya bertugas jaga di rumah itu. Banyak sekali hal yang menjadi kejutan di rumah itu.
Sehingga ia harus meningkatkan pengawalan di rumah itu sekali lagi. Dylan langsung memeluk erat tubuh Milley, sementara itu Andreas menggenggam tangan Lena.
"Percaya padaku!"
Sesaat kemudian, Andreas memandang Dylan.
"Jangan khawatir, Dylan kamu jaga Milley di lantai atas, biar ayah dan Jo melihat situasi di luar!"
Lena menatap ke arah Andreas.
"Kamu hati-hati, jangan lupa berdoa, ingat percayakan semuanya pada Tuhan."
Andreas mengangguk dan melihat ke arah ayahnya.
"Ayah ijinkan aku memeriksa kondisi di luar. Sebaiknya ayah istirahat saja, biar aku dan Jo yang berjaga."
"Berhati-hatilah!"
Andreas memberikan kode pada Jo yang kemudian dianggukinya. Banyak hal yang masih membebani pikiran Tuan Chryst, akan tetapi ia tetap memberikan kesempatan pada Andreas.
__ADS_1
"Semoga kamu baik-baik saja!"
Tidak lama kemudian, Milley bersama Dylan, Lena dan Tuan Chryst segera naik ke lantai atas. Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing.
Tidak ada pembicaraan di saat itu. Sementara itu Andreas dan Jo menuju halaman. Mereka berdua berbincang-bincang pada kepala polisi yang berjaga tersebut.
Akan tetapi mereka tidak bisa menemukan pelaku penembakan tadi karena penembak itu sudah melarikan diri. Sayangnya, pelaku membuang pistolnya tidak jauh dari kediamaan Tuan Chryst, kini pihak kepolisian tinggal mencari informasi dari barang bukti yang ditinggalkan.
"Bagaimana ini, apakah ada yang kalian temukan?" tanya Andreas pada pihak kepolisian.
"Ada, Pak!"
"Ini barang buktinya!"
"Kenapa aku merasa sangat familiar pada kode unik yang terdapat di pistol ini?"
"Coba kalian teliti kode unik ini, karena sepengetahuanku kode ini hanya ada beberapa seri dan hanya orang yang mempunyai uang banyak yang bisa mendapatkannya."
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi."
Jo menoleh ke arah Andreas, ia bahagia karena melihat putra pemilik rumah sudah kembali lagi. Jiwa kepemimpinannya sudah terlihat kembali. Setidaknya ada rasa ketenagangan yang bisa ia rasakan saat ini.
"Jo, sebaiknya kamu juga istirahat. Aku yakin penembak itu hanya ingin membuat kita khawatir saja, selebihnya ia tidak akan berbuat apapun."
__ADS_1
"Baik, Tuan. Sebaiknya Anda juga begitu."
Kedua orang itu segera masuk ke dalam rumah. Sementara itu, beberapa aparat kepolisian sudah berjaga di halaman rumah dan di beberapa titik rawan.
"Semoga tidak terjadi apa-apa, nanti," doa Andreas di dalam hatinya.
Ia segera masuk kamar dan beristirahat.
Keesokan harinya, di kediaman Sebastian Alex.
"Rose, apa yang kamu lakukan!" gertak Alex pada istrinya itu.
Ia tidak menyangka jika Rose berani mengambil barang yang ia sembunyikan bahkan dari istri sahnya. Kilatan amarah terlihat jelas di dalam bola mata Alex. Nafas Rose bahkan tercekat karena hal tersebut.
"Memangnya kenapa, bukankah itu hanya sebuah pistol?" ucap Rose dengan entengnya.
"Lagi pula itu sama sekali tidak pernah kamu gunakan jadi sebaiknya aku pakai saja."
"Beraninya kau!"
Alex tampak mengepalkan tangannya dengan erat. Ia sangat marah akan hal tersebut. Bisa-bisanya orang yang ia perjuangkan malah bersikap seperti ini.
"Kamu kenapa, sih. Sudahlah, sebaiknya kamu segera pergi ke kantor dan hasilkan pundi-pundi rupiah yang banyak untukku!"
__ADS_1