NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 209. AKHIR CERITA CINTA


__ADS_3

Akhirnya acara makan malam itu sudah selesai. Saat ini, para anggota keluarga berkumpul di sana. Agara tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, Dylan memperkenalkan Jingga pada Milley.


"Sayang, aku akan memperkenalkan kamu pada seorang dokter yang sudah membantuku untuk pulih saat aku hampir putus asa saat ka dikabarkan meninggal."


Sontak saja, tangan Milley menutup mulut Dylan agar tidak meneruskan kata-katanya.


"Jangan diteruskan lagi, aku sudah ikhlas dengan takdir kita saat itu, kini aku masih berdiri di depanmu. Keluarga kita juga sudah berkumpul dan semuanya sangat berbahagia karena hal itu."


"Iya, terima kasih sudah hadir di dalam hidupku dan menyempurnakan hidupku, Chamomille Milley atau aku boleh menyebut nama kecilmu?"


"Boleh, lah."


"I love you Virgo Anastasya Virginia," ucap Dylan sambil mencim kening Milley.


"Love you too Dylan Joshua."


Sesaat kemudian, terdengar suara tepuk tangan dari Jingga dan anggota keluarga yang lainnya. Lalu Jord muncul di tengah-tengah mereka dan kemdian Dylan mengangkat tubuhnya.


"Oh iya, aku sampai lupa, dokter Jingga kemarilah!" ucap Dylan memanggilnya.


Dokter Jingga kemudian mendekati Dylan dan Milley dan tersenyum ke arahnya.


"Milley ini dokter Jingga dan ini Milley istriku tercinta."


Jingga mengulurkan tangannya dan Milley menyambutnya.


"Milley ...."


"Jingga ...."


Milley melirik suaminya dan mengatakan sesuatu kepada suaminya tersebut.


"Kalau kamu sudah memperkenalkan orang yang berjasa dalam lima tahun ini, maka aku jga mempunyai orang yang berjasa dalam masa kecil Jord, aku perkenalkan pada kalian."


"Rain, kemarilah!"


Rian yang merasa terpanggil segera mendekati Milley. Pandangan mata Jingga tidak pernah berkedip saat melihat Rain datang.


"Hai, Milley dan semuanya. Namaku Abimanyu Rain Wijaya."


Sesaat kemudian terdengar bisik-bisik tentangnya.


"Jadi penerus perusahaan Abimanyu masih hidup, bukankah seluruh keluarganya sudah dihabisi beberapa tahun yang lalu?"


"Entahlah, kita dengar saja penjelasan darinya."


Sesungguhnya orang pertama yang syook akan hal itu adalah Jingga. Dugaannya saat itu ternyata benar, Rain adalah kekasihnya yang telah menghilang lima tahun yang lalu.


Rain yang menyadari jika kemunculannya sama menggemparkan seluruh tamu undangan yang hadir hanya bisa tersenyum.


"Mungkin banyak yang menduga jika hari itu saya juga meninggal bersama seluruh keluarga saya, namun ternyata Tuhan masih berbaik hati pada saya."


"Hingga hari ini saya bisa berdiri di hadapan Anda semua."


"Lalu apakah kau akan menuntut keluarga yang telah melakukan itu kepadamu?"


Rain menggeleng perlahan.

__ADS_1


"Biarkan tangan Tuhan yang melakukan bagiannya. Saya tidak ingin menjadi orang jahat seperti mereka. Secara pribadi saya telah memaafkan mereka."


"Sungguh mulia hatimu, Mas. Tidak seperti hati kedua orang tuaku yang selalu berisi hal-hal buruk," ucap Jingga dalam hatinya.


Ucapan Rain barusan seolah menusuk jantung Jingga, ia sadar jika keluarganya yang telah berbuat demikian.


"Maafkan seluruh keluargaku," ucap Jingga sambil menunduk.


"Aku juga tidak pantas bersanding denganmu," ucapnya kemudian lalu beranjak pergi.


Namun, dugaan jika Rain sudah tidak mengenalinya salah. Saat, Jingga hendak melangkah ternyata tangan Rain mencekal tangan Jingga.


Sontak Jingga menoleh, ditatapnya dalam-dalam mata Rain.


"Wanita ini adalah alasan terbesar saya untuk tetap bertahan hidup."


Kedua mata Jingga berkaca-kaca, tidak kuasa menahan perasaannya yang nano-nano.


"Aku sangat mencintai wanita ini, tetapi aku tidak yakin jika aku pantas bersanding dengannya."


Kepala Jingga menggeleng perlahan.


"Kamu salah besar. Justru akulah yang tidak pantas bersanding denganmu," ucap JIngga dengan bibir bergetar.


Melihat jika ada sebuah rasa cinta yang sangat besar di dalam mata Rain dan Jingga, Milley menyatukan tangan mereka.


"Jika kalian saling mencintai maka perjuangkanlah cinta sejati kalian. Seperti cinta kami yang sudah melewati banyak cobaan hidup."


Rain mengangguk, lalu selanjutnya ia sudah berjongkok sambil mengutarakan isi hatinya.


"Menikahlah denganku Permata Jingga."


Akhirnya setelah beberapa saat menunggu Jingga mengangguk setuju.


"Ya, aku menerima pinanganmu."


"Yeay, akhirnya mereka semua bersorak.


Secara tidak sengaja pada saat yang sama, Jo memegang tangan Eva. Tentu saja Eva terkejut lalu sedikit membungkuk.


"Apa ada yang bisa aku bantu?"


"Eh, tidak Nyonya Eva. Maaf tadi reflek saja aku memegang tanganmu."


Semburat merah tidak bisa menyembunyikan rasa malu yang dirasakan oleh Jo. Hingga tidak lama kemudian Eva tersenyum.


"Tidak mengapa, jika ada sesuatu hal yang Anda butuhkan sebaiknya katakan saja."


"Tentu, terima kasih sebelumnya."


"Sama-sama, Tuan Jo."


Melihat banyaknya kebahagiaan yang terjadi di hari itu membuat Tuan Chryst bahagia. Lalu ia mendekati Dylan dan Milley.


"Dua pasangan sudah bahagia, bagaimana dengan pasangan yang itu?" tunjuk Tuan Chryst kepada Jo dan Eva yang tampak saling berbahagia satu sama lain."


Keduanya tampak berbincang-bincang dengan hangat kali ini. Hingga membuat mereka terlihat seperti pasangan suami istri yang sedang berbahagia.

__ADS_1


Milley menyenggol lengan Dylan.


"Apa mereka saling menyukai juga?" tanya Milley penasaran.


"Tentu saja, iya. Justru karena mereka tidak menampakkan rasa sukanya, tetapi hati kecil kakek mengatakan jika mereka berdua sangat cocok."


"Lagi pula selama ini Jo jarang sekali bersikap ramah kepada wanita, baru bersama Eva ia bisa mengalah."


"Wah, kalau begitu sebaiknya kita mendekatkan mereka berdua, Yeay!" teriak Milley kegirangan.


Dylan yang sangat mengerti jiwa Milley yang suka menjadi mak comblang hanya bisa mendukungnya dari balik layar. Sebelumnya ia menoleh kepada Rain dan Jingga yang sudah bersatu. Namun, hatinya masih merasa ada yang kurang.


"Mas, kenapa hatiku masih merasa ada sesuatu yang belum selesai, ya?"


Kening Dylan berkerut, "Masalah yang mana?"


"Oh, iya. Selama aku kembali kenapa aku belum pernah bertemu dengan Kak Mich sama Viola, bukankah mereka baru saja menikah?"


Dylan merangkul bahu istrinya, "Beberapa hari yang lalu saat aku mengirimkan undangan kepada mereka, katanya mereka sudah pindah rumah dan mungkin saat ini entah sedang berada di mana.


"Sayang banget, dong. Seharusnya kamu bisa berbahagia jika ia tidak ada," ucap Dylan bersungut-sungut.


"Memangnya kenapa?"


"Karena Viola tidak sebaik yang aku kira."


"Masa?"


"Awalnya aku mengira ia adalah wanita yang baik, tetapi ketika ia menyalahkanmu karena telah mencuri hati Michael membuatku sangat membencinya."


"Mas, tidak boleh berkata begitu, memangnya Michael belum mencintainya."


"Andai saja Michael tahu jika aku hanya mencintaimu, sudah pasti dia akan patah hati."


"Jelas saja, iya. Lagi pula siapa yang berani mencintai istriku, maka aku akan menghajarnya."


"Karena selamanya kalian berdua ...."


Dylan menggendong Jord bersamanya.


"Kalian berdua adalah permata hatiku yang sangat berharga."


"Terima kasih, Papa."


Akhirnya badai yang menghantam perjalanan cinta Dylan dan Milley sudah berakhir. Kini mereka bersiap untuk hidup bahagia. Meskipun banyak badai yang terjadi tidak membuat cinta mereka luntur. Justru cinta mereka telah berubah menjadi semakin kuat.


Akhir dari cerita cinta yang berawal dari sebuah perjanjian hutang piutang kini justru yang membuat takdir Dylan berubah menjadi lebih baik. Restu dan doa dari sang Kakek selalu mengiringi langkah mereka. Semoga saja cinta mereka abadi selamanya, Aamiin.


...TAMAT...


Terima kasih untuk pembaca setia Milley dan Dylan sampai sejauh ini, setelah ini masih akan ada kisah lain tentang perjalanan CEO yang sedingin es bertemu dengan seorang gadis penjual bunga.


Apakah kisah cinta mereka akan lebih manis dari kisah cinta Dylan dan Milley?


Temukan kisah selengkapnya di dalam kisah "MY HUBBY IS GHOST" yang akan segera rilis di bulan September.


__ADS_1


Dan buat pencinta seri horor yuk mampir di kisah "WANITA BAHU LAWEYAN" kisahnya semakin seru, loh. Jangan lupa mampir guys 😘



__ADS_2