
Merasa ada yang menganggu hubungannya dengan Milley, membuat Dylan naik pitam. Bagaimana ia bisa kalah dengan lelaki penyakitan seperti Evan. Sesekali ia melirik ke arah jam di dinding, ingin memastikan jika jam kerjanya sudah selesai, tetapi sayangnya itu masih lama.
"Kenapa harus ada duri di dalam hubunganku dengan Milley, sih?" protesnya.
Waktu satu jam terasa sangat lama bagi Dylan, apalagi ia bekerja di ruangan CEO sendirian, tanpa asisten ataupun teman yang menemani.
Padahal masih ada satu jam lagi yang harus ia habiskan di kantor.
Tentu saja konsentrasi Dylan sudah terpecah belah saat ini. Baginya yang terpenting segera membawa Milley kembali dan mengurungnya di kamar. Entah itu untuk mendapatkan sebuah hukuman atau pun tidak.
"Wanita itu benar-benar membuatku kacau!" ucapnya kesal.
Hampir saja ia membuat bola-bola kertas dengan dokumen penting perusahaan. Beruntung, ia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tau tempat ketika marah. Meskipun pada kenyataannya sama saja, mulutnya terus saja mengomel tiada henti.
"Nggak bisa, ia harus diberi pelajaran ketika pulang nanti!"
Mengurung Milley sama saja membuatnya bahagia, karena dengan begitu ia bisa bebas berduaan sama Milley. Meski tidak satu ranjang, tetapi setidaknya masih bisa merasakan dan menikmati kecantikan si pemilik mata emerald itu tanpa terbagi dengan lelaki lain.
Sudah ada dua pesaing di dalam hubungannya dengan Milley. Salah satunya adalah Evan, sementara itu yang lainnya adalah Michael.
Kalau Evan lebih mudah untuk disingkirkan, apalagi dia penyakitan. Namun, kalau soal Michael seharusnya Dylan lebih waspada.
Intensitas pertemuan Milley dengan dosen tampan tersebut lebih banyak daripada dirinya sendiri yang hidup satu rumah dengannya. Dylab tidak habis pikir dengan kakeknya yang malah memberikan akses pada dosen tersebut.
Dengan menjadikannya dosen pribadi sekaligus mendapatkan akses masuk ke dalam rumahnya dengan bebas, tentu saja hal itu sangat akan berpengaruh padanya. Membuat panas dan gundah gulana bagi Dylan yang baru saja mencintai Milley.
Untuk mengusir rasa jenuhnya, Dylan memainkan pulpennya. Sesekali menscrol sosial media milik Milley. Setidaknya dengan begitu ia bisa menuntaskan rasa rindunya di sana.
"Ya ampun, sosial media miliknya tidak pernah update. Sebenarnya wanita itu berasal dari kutub mana sih, kok beda sama wanita pada umumnya?"
Dylan masih saja mencari akun sosial media milik Milley yang lainnya, dan hasilnya sama saja. Hanya beberapa kali postingan dan itu pun ia update satu tahun yang lalu. Berbeda dengan dirinya yang setiap saat selalu update di akun sosial media. Meskipun ada beberapa akun yang ia setting privasinya.
Menunggu adalah hal yang paling membosankan di dalam hidup Dylan. Sebagai lelaki biasa, tentu ia akan marah jika calon istrinya pergi tanpa pamit. Apalagi seorang lelaki yang barusaja bucin tentu akan merasakan sesuatu dengan porsi yang berlebih.
__ADS_1
Sementara itu, sejak ia pergi rasanya sudah tidak nyaman. Dylan yang sangat tau jika Milley tipikal wanita yang ramah, selalu membuat nyaman di hati. Meskipun jika berduaan dengannya jarang mesra, itu tidak mengapa. Asalkan bisa berbagi oksigen dalam satu ruangan dengan Milley sudah membuat kondisi jantung dan hati Dylan lebih aman.
Sepertinya alarm otomatis di tubuh Milley bereaksi sempurna. Hal ini biasa terjadi ketika ada kerabat atau orang terdekatnya ada masalah. Mungkin ia tau akan terjadi sesuatu di sana, tetapi apapun itu, tidak ada teman untuk berbagi cerita saat ini. Ibunya saja masih ditahan dan disembunyikan oleh Tuan Chryst di suatu tempat.
"Kok, dari tadi nggak enak, ya?" ucap Milley sambil memandang jauh ke luar.
Sesekali ia mengintip gawainya tetapi sama saja, tidak ada balasan dari Dylan.
"Nih orang apa bukan, sih. Kadang suka caper, tetapi kadang sok cuek. Ujung-ujungnya nanti pasti ngamuk!"
"Kalau bukan cucu kakek, sudah pasti aku giles pakai papan cucian!" ucap Milley dengan geram.
Pak supir yang mendengar omelan Milley sedari tadi hanya tersenyum dari tempat duduknya. Baginya menjadi sopir pribadi Milley pun ia akan melakukannya dengan senang hati.
Tiga puluh menit kemudian, ia telah sampai di bangsal tempat Evan dirawat. Berita tentang pertunangan Milley dengan Dylan tempo hari telah sampai di telinga Evan. Dalam acara tersebut juga terjadi sebuah insiden yang membuatnya ingin segera bertemu dengan Milley.
"Apa Milley sudah datang?" tanya Evan khawatir.
"Bagimana kalau ia tidak datang?"
"Tuan tidak usah khawatir, undangan dari Tuan sudah saya sampaikan pada Nona Milley. Menurut kabar terkini, ia sedang dalam perjalanan ke sini."
"Baiklah, aku pegang ucapan dariku. Kembali berjaga di luar!" titah Evan.
Meskipun orang-orannya sudah memberikan laporan terkini, tetapi hati Evan belum tenang sebelum melihatnya datang. Sampai suatu saat, derap langkah di lorong Rumah Sakit tempat ia dirawat terdengar ramai.
"Mungkinkah itu Milley? Semoga saja itu benar, kamu," gumamnya.
Sesaat kemudian terdengar suara pintu diketuk. Para asisten dan orang Evan bersiap menyambut Milley. Saat Milley masuk, maka seluruh orang-orang Evan akan menunggu di luar, tetapi sebelumnya mereka memberi hormat kepada Milley dan Evan.
Milley yang bingung dengan keadaan ini segera menanyakannya ke arah Evan. "Kenapa mereka semua berkumpul di ruang rawatmu?"
"Maaf, karena aku terlalu hawatir denganmu, maka kondisiku akan semakin drop. Oleh karena itu, aku mengutus orang-orang untuk menyelamatkanmu saat itu," ucapnya sambil menunduk.
__ADS_1
"Menyelamatkan aku?" tanya Milley seolah tidak percaya.
"Ya, kalau bukan karena kamu, maka bisa dipastikan keduanya akan masuk penjara."
Milley mulai mendekati Evan, dan kini duduk di sisi brankar miliknya.
"Jangan bilang kalau kamu nggak tau tentang masalah ini dan pelakunya!" gertak Milley dengan lembut.
"Justru karena saat itu aku menolongmu, dan aku tidak ingin kehilangan jejak mereka. Mobil kami malah tertabrak karena menggunakan kecepatan maksimum saat mengejarnya."
Milley menunduk, ia tau jika Evan sebenarnya sangat cerdas dibanding dirinya. Bahkan yang mengajari ilmu peretas juga dia. Maka dari itu, ia sama sekali tidak pernah berpikiran buruk tentang Evan.
Milley menggenggam erat tangan Evan, sorot matanya yang tajam mengarah padanya.
"Kamu melakukan semua ini demi apa?" tanya Milley tiba-tiba.
"Mau aku jawab jujur atau bohong?" tanya Evan masih setengah bercanda.
"Jujur dong. Kamu kan tau sendiri aku paling benci kebohongan."
"Oke, dengerin baik-baik dan jangan mencoba untuk memotong ucapan dariku," pinta Evan.
Milley mengangguk, lalu Evan mulai mengatakan tentang maksud hatinya.
"Aku sangat mencintaimu, Milley. Jadikan aku sebagai pendamping hidupmu!"
Milley mendorong tubuh Evan. Ucapan Evan barusan seperti tidak sungguh-sungguh, tetapi hal itu membuatnya terluka, kareba persahabatan mereka akan hancur karena sebuah kata, Cinta.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1