
Akhirnya hari yang ditunggu telah tiba, kini Milley sudah memakai pakaian kebaya berwarna putih. Rambut yang biasanya terurai kini sudah disanggul sedemikian rupa dengan taburan perhiasan di kepala.
Begitu pula dengan beberapa bagian dari tubuh Milley yang juga di hias. Kedua tangannya terlihat lukisan hena di sana. Tentu saja semuanya membuat Milley semakin terlihat sangat cantik.
Wajah Milley sudah dimake up dengan gaya khas Jawa. Begitu pula dengan Dylan yang sudah mengenakan pakaian yang bernuansa sama dengan Milley, kini sudah duduk di tempat ijab kabul berlangsung.
Keduanya tampak tegang, tetapi perbedaannya adalah saat ini Dylan sedang duduk di hadapan penghulu dan beberapa orang saksi. Sementara Milley masih menunggu Dylan agar mengucapkan ijab kabul dan bersiap untuk ks
situ.
Seketika ketegangan mulai melanda Dylan. Apalagi saat ini, semua mata dan perhatian tertuju padanya. Jika ia salah dalam berucap, maka bisa dipastikan bahwa Dylan tidak akan selamat darinya.
“Kalau gue salah ngucap ijab kabul apakah pernikahannya akan dibatalkan?” tanya Dylan di dalam hati.
Padahal sebelum ini semuanya baik-baik saja. Akan tetapi hari ini nuansanya sudah berbeda jauh.
“Dibatalkan? Enak saja dibatalkan, memangnya mereka tidak langsung membawa Milley agar duduk bersanding dengannya?"
__ADS_1
Dikira membiarkan kita untuk berpisah itu semudah kita membalikkan kedua tangan, yang akan berakhir sama saja, yaitu semakin membuatnya terluka lebih dalam. Dylan sudah mengantisipasi semuanya. Pokoknya hari ini Dylan dan Milley akan menikah dan hidup bersama.
“Yuk yang mau ikut, segera merapat, biar gampang carinya kalau sudah mulai acaranya semakin ketat bukan.”
Jangan-sekali lagi keluar dari rumah dan melakukan hal sama? agar ia tidak semakin marah.
Pada kesempatan yang digunakan saat ini, Milley memilih untuk menggunakan wali hakim saat pernikahannya. Sementara itu, Tuan Chryst juga menjadi saksi bersama dengan Andreas dan Lena. Sementara Rebecca tidak mau datang ke dalam hari pernikahan putranya tersebut. Ketidakhadirannya.
Ia lebih memilih pergi dan menjauh dari keluarga Anggara karena banyak orang yang mencarinya saat ini. Kalo dia muncul sudah pasti bisa dimasukkan ke penjara ataupun di sekap di dalam rumah kok.
"Bagaimana Dylan?"
"Semuanya berjalan lancar, semoga saja setelah ini akan datang dan lebih banyak rezeki dari pintu yang tidak terduga."
"Aamiin, sayang. Maafkan jika kemarin mama Lupa ngasih ini sebelum maghrib," ucap Lena sambil menyeka air matanya untuk sesaat.
Setelah memastikan semuanya akan terjadi, ia memanggil nama dari salah kunpulan mereka yang memang berjenis rambut biasa tapi segi.
__ADS_1
Memang tugas dari seorang laki-laki tersebut adalah membahagiakan. Lalu setelahnya ia bisa metibutkan pekerjaan salam.
"Para hadirin yang sangat di hormati, baik jauh ataupun sumber yang saya hormati."
"Untuk mempersingkat waktu maka sebaiknya acara ijab kabul segera dilaksanakan."
"Baik. Bagaimana Saudari Dylan?"
"Setuju, Pak."
"Baiklah kalau begitu kita mulai sekarang."
Kini Dylan sudah memegang tangan penghulu. Bersiap karena sebentar lagi akan mengucapkan lafal akad.
“Saudara Dylan Joshua bin Andreas Wicaksono, Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Chamomille Milley bin Robby Sanjaya yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan Anda dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat dan emas sebelas gram, Tunai.”
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Chamomille Milley bin Robby Sanjaya dengan maskawinnya yang tersebut, dibayar tunai.”
__ADS_1