
Melihat banyak da-rah yang tercecer di lantai, membuat Lena semakin panik. Apalagi saat Lena masuk, Milley dalam keadaan pingsan.
"Milley bangun, Sayang. Please, ini Ibu," ucapnya sambil tergugu.
Tidak ada respon dari Milley, membuat Lena tidak bisa berbuat banyak kecuali berteriak untuk meminta pertolongan.
"Mas ... Mas Andreas cepat naik ke atas!" teriaknya.
Saat mendengar teriakan Lena dari lantai atas, maka Andreas yang berada di lantai bawah segera naik ke atas. Ia melepas paksa tautan tangan Rebecca. Pikirannya sudah tidak bisa berpikir jernih saat itu. Perasaannya mengatakan pasti ada sesuatu hal yang tidak baik.
"Mas, mau kemana?" tanya Rebecca lembut.
Sementara itu dari lantai atas, Lena semakin mengeraskan suaranya karena Andreas tidak kunjung tiba.
"Mas!" jerit Lena.
Seketika pikiran Andreas hanya tertuju pada Lena dan Milley. Bahkan ia menghiraukan teriakan Rebecca yang terus memanggil namanya di bawah.
"Andreas tunggu!"
Tidak mendapatkan respon sesuai keinginannya maka ia segera menyusul Andreas naik.
"Semua gara-gara wanita itu!" pekiknya kesal.
Tidak perlu membutuhkan banyak waktu, saat melihat Milley dan Lena, Andreas berlari ke arah mereka.
"Ada apa ini?" teriaknya.
"Cepat bawa Milley ke dokter!" ucap Lena sambil menunjuk ke arah da-rah yang tercecer.
"Cu-cucu kita, Mas ... hu hu hu ...."
Tidak membutuhkan banyak pertanyaan lagi, Andreas langsung membawa Milley ke bawah. Ia tidak perlu menaiki tangga, mereka melalui lift khusus karena Dylan sudah menyiapkan lift yang diperlukan jika terjadi keadaan darurat seperti saat ini.
Rebecca yang melihat hal itu hanya bisa bengong dan membiarkan mereka pergi meskipun dalam hatinya ia masih merasa marah.
Dengan cepat mereka masuk mobil, Milley berada di belakang dengan ditemani Lena, sementara itu Andreas memegang kemudi. Sepanjang perjalanan Lena mengutuk dirinya karena membiarkan Milley sendirian.
"Maafkan Ibu, Nak."
Sementara itu dengan keadaan yang marah, Rebecca kembali turun ke bawah. Saat itu ia melihat Nanni di seberang sana. Seketika niat berbuat jahat muncul.
"Sekarang kau tidak akan selamat pelayan bo-doh!"
Rebecca mendekati Nanni secara perlahan dan sambil menyeringai. Ia pun melampiaskan kekesalannya dengan memukul Nanni dengan bertubi-tubi.
"Rasakan ini!" teriaknya.
__ADS_1
"Argh!"
"Jangan berteriak, nikmati sajalah!"
Rebecca menjambak rambut Nanni. Lalu mulai menghajarnya kembali. Seperti orang kerasukan ia tidak memberikan kesempatan pada Nanni untuk melawan kembali.
Dari arah halaman rumah, terdengar suara mobil Michael mulai memasuki halaman rumah kediaman Tuan Chryst. Samar-samar ia mendengar teriakan di dalam. Sontak saja Michael berlari dan ternyata apa yang dilihat saat ini sungguh tidak pernah terbayangkan.
Nanni sudah dalam keadaan bersimbah darah di sana. Sementara itu, Rebecca menoleh. Tatapan ketakutan terlihat di wajah tua itu, ketika ia melihat Viola yang sedang melakukan panggilan telepon.
Perjalanan ke Rumah Sakit berjalan lancar. Tidak perlu menghabiskan banyak waktu, Andreas segera menggendong Milley keluar dari mobil. Melihat ada yang terluka, pihak Rumah Sakit langsung mendekati Andreas dengan mengunakan brankar.
Tubuh Milley dibaringkan di atas brankar lalu segera dibawa masuk ke dalam ruang pemeriksaan UGD. Semua dokter terbaik dikerahkan Andreas untuk menolong menanti dan calon cucunya tersebut. Pemeriksaan menyeluruh menyimpulkan bahwa harus segera dilakukan tindakan medis untuk menyelematkan nyawa mereka.
"Apa tidak ada cara lain, dok?"
Dokter Rhicard menggeleng, "Sepertinya tidak ada cara lain. Hanya dengan melakukan operasi Caesar semua baru bisa diatasi."
Wajah Andreas terlihat pucat pasi, tetapi ia tidak mau kesempatan dalam kesempitan.
"Biarkan aku menghubungi ayah dari calon cucuku itu," ucapnya lesu.
"Silakan Tuan."
Dengan cepat Andreas menghubungi Dylan. Ia yang baru saja menyalakan ponselnya kebingungan ketika melihat banyaknya panggilan yang tertuju padanya dari Nanni. Di saat ia hendak menghubungi Nanni, panggilan masuk dari Andreas tiba. Tentu saja ia segera mengangkatnya.
"Hallo, Dylan kamu bisa ke Rumah Sakit, sekarang?"
"Milley pendarahan dan saat ini sedang dibawa ke Ruang Bersalin karena kondisinya kritis. Dokter memutuskan untuk mengambil langkah operasi, bisakah kau ke sini dengan cepat?"
Seketika kedua lutut Dylan merasa lemas, bahkan hal itu membuat asisten Dylan dan Leo menopang tubuh atasannya itu.
"Hallo, Dylan kau masih mendengar suaraku, bukan? Hayolah jangan menjadi lelaki cengeng, cepat datang kemari!"
"I-iya, Yah. Aku akan segera pergi ke sana."
Dylan menoleh ke arah Leo, "Antar aku ke Rumah Sakit, Nyonya akan segera melahirkan!"
"Baik, Tuan."
Mobil yang dikendarai Dylan melaju kencang di jalanan. Sedangkan Milley hendak berjuang di dalam ruang operasi sesaat setelah Andreas menjadi wali yang menandatangi dokumen persetujuan saat diambil keputusan terbaik karena calon ibu belum siuman.
Akan sangat berbahaya jika membiarkan hal ini terjadi begitu saja. Oleh karena itu, dokter Richard memutuskan untuk melakukan jalan pintas menyelamatkan ibu dan calon bayi dengan operasi Caesar.
Namun, keajaiban datang. Seolah mendengar bisikan dari Dylan yang terus memangil namanya membuat Milley siuman. Hampir semua tenaga medis terkejut akan hal itu. Tentu saja dokter Richard menghentikan tindakannya.
"Dokter apa yang sedang kalian lakukan?"
__ADS_1
"Maaf kami akan melakukan operasi Caesar kepadamu."
"Nggak, aku nggak mau. Aku mau melakukan persalinan normal," ucap Milley sungguh-sungguh.
Semuanya saling berpandangan tetapi dokter Richard selalu menghargai niat baik pasien.
"Apa kau kuat mengejan?"
Milley mengangguk.
"Baiklah. Semuanya kita lakukan persiapan persalinan normal!" seru dokter Richard seketika.
Meski hampir semuanya menolak, tetapi keputusan tertinggi ada di tangan dokter Richard. Sehingga tidak membutuhkan banyak waktu persalinan normal segera dilakukan.
Di luar ruang operasi Dylan sudah sampai di sana. Terlihat raut kecemasan di wajah Dylan. Andreas hanya bisa menepuk bahunya perlahan agar putranya diberikan kekuatan dalam menghadapi situasi genting saat ini.
"Kamu yang kuat, Nak. Istri dan calon anakmu sedang berjuang di dalam sana."
Dylan mengangguk. Sesaat kemudian ada seorang suster yang keluar dari ruang operasi dan meminta agar suami pasien segera masuk.
"Maaf, suami pasien atas nama Chamomile Milley?"
"Saya, suster."
"Mari ikut saya masuk!"
Buru-buru Dylan mengikuti langkah suster dan segera berganti pakaian medis. Terlihat dari kejauhan jika Milley sedang berusaha untuk melakukan persalinan.
Mengetahui jika suaminya tiba, Milley menoleh. Seolah mendapatkan kekuatan penuh. Ia mulai mengejan sesuai instruksi dari dokter. Salah satu tangannya berpegangan dengan tangan Dylan.
"Berjuanglah sayang, kamu pasti kuat!" bisik Dylan di salah satu telinga Milley.
"Ayo, Bu ikuti instruksi dari saya. Jangan menutup mata dan lakukan dengan menarik nafas panjang terlebih dahulu."
"Satu ... dua ... tiga .... tarik nafas, hembuskan perlahan dan lakukan kembali ...."
"Betul, lakukan dengan ritme yang lebih lama lagi. Mulai ....!"
"Arghhhh ... Milley mulai mengejan dengan sekuat tenaga.
"Sekali lagi, ya bagus. Kepala bayi sudah kelihatan!" seru dokter Richard.
Milley pun mengejan untuk yang ketiga kalinya, "Arghhhh ... oek ... oek ...."
Akhirnya Baby J lahir ke dunia dengan selamat. Ketegangan di ruang persalinan akhirnya berakhir sudah.
Suara tangisan dari Baby J terdengar sangat keras, tetapi hal itu membuat senyum di wajah Milley dan Dylan terukir dengan indah.
__ADS_1
"Anak kita," ucap keduanya hampir secara bersamaan.
BERSAMBUNG