
“Jika itu yang terbaik untuk istri dan calon anak saya, maka saya ikhlas, Dok.”
“Percayalah, Tuan. Tidak ada cobaan yang diberikan Allah melebihi kemampuan hambanya.”
Dylan mengangguk, kemudian bertanya kembali.
“Lalu setelah ini, apakah masih ada hal lain lagi yang harus saya ambil?”
“Tidak ada. Semuanya sudah saya katakan barusan. Ingat, rahasiakan hal ini dari istri Anda atau jika ia sampai mengetahui, takutnya akan menambah beban pikirannya. Saya juga tidak menginginkan hal buruk terjadi padanya.”
“Lakukan yang terbaik untuk istri saya, berapapun harganya akan saya bayar!”
“Iya, iya Tuan. Percayakan semuanya pada kami.”
“Terimakasih sebelumnya.”
Setelah Dylan kembali dari ruang dokter, Jo dan Tuan Chryst mendekati Dylan.
"Kamu tidak kenapa-napa, kan? Ada masalah apa, ceritakanlah!"
Dylan mendudukan dirinya di atas kursi panjang. Ia terlihat gusar. Sesekali padangan kosong terlihat jelas di sana.
__ADS_1
"Ada sedikit masalah dengan kandungan Milley, Kek."
"Kalau begitu, cobalah bersikap wajar di depannya nanti, aku tidak mau Milley mengetahui hal ini dan membuatnya semakin drop."
"Iya, Kek. Tentu saja aku akan merahasiakan hal ini darinya."
"Baiklah kalau begitu. Aku juga berharap jika suatu saat nanti, kamu akan mengerti aku melakukan semua ini demi kebaikan hatimu!" ucap Dylan di dalam hati.
"Seharusnya aku tidak memaksakan kehendakku kepadanya, karena bagaimana pun aku telah membuat nyawanya terancam!"
Dylan merutuki kebodohannya karena ia terlalu menuntut Milley untuk secepatnya hamil. Tidak tahu kenapa, Dylan merasakan candu ketika berdekatan dengan Milley. Hingga tanpa ia sadari, ia pun selalu melakukan hal tersebut dengannya.
"Kenapa aku begitu bodoh!"
"Rasanya begitu hangat, apakah itu air mata Dylan? Apa karena kehamilan yang aku jalani bermasalah?"
Milley merasakan kesedihan yang mendalam saat ini, ia tidak bisa menutupi kesedihannya karena hal itu. Apalagi Milley baru saja merasakan kebahagiaan saat ia mengetahui jika dirinya berbadan dua.
"Andai aku tau, aku pasti akan menunda hal ini dan mengobati semuanya sebelum terjadi tetapi ...."
Dylan tidak mengetahui jika Milley sudah siuman, sementara itu Milley mengusap kepala Dylan dengan perlahan hingga membuat Dylan menengadahkan wajahnya ke atas.
__ADS_1
Buru-buru ia mengusap air matanya tetapi tangan Milley mencegahnya.
"Aku tidak kenapa-napa, Sayang. Bayi kita dan aku kuat!"
"Iya aku percaya itu, kita semua pasti kuat!"
Dipandanginya wajah suaminya dengan perlahan. Milley berusaha untuk tetap tersenyum agar Dylan tidak khawatir padanya.
"Percayalah, beberapa bulan lagi kita akan melihat wajah anak kita, dan ia pasti sekuat kamu, Sayang."
Dylan tersenyum ke arah istrinya.
"Jika bayi kita nanti perempuan, sudah pasti dia akan secantik kamu!"
Ucapan ringan dari Dylan mampu mengusir kesedihan di wajah Milley. Senyuman yang dirindukan oleh Dylan kini bisa mengobati kegundahan hati.
"Dan ... Jika nanti anak kita laki-laki pasti cakepnya kaya kamu ...."
Milley juga mengatakan apa yang menjadi keinginannya. Lalu keduanya sama-sama mengucap, "Aamiin!"
"Semoga saja jika nanti anak kita sudah lahir, aku masih bisa bersamamu membesarkan anak kita," ucap Milley di dalam hati.
__ADS_1
Di dalam hatinya Dylan pun berpikiran hal yang sama.
"Setelah anak kita lahir, maka aku tidak akan meminta kamu untuk mengandung kembali, karena aku tidak akan membiarkan kamu dalam keadaan bahaya."