NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 111. MANCING SESUATU


__ADS_3

Setelah insiden kemarin, Milley tidak mengijinkan Dylan bertingkah aneh. Entah kenapa sikap Dylan yang berubah membuat Milley pusing. Seperti halnya saat ini, Dylan mengajak Milley untuk menyusuri pantai. Katanya seru jika sore-sore begini berada di tepi pantai.


Padahal kenyataannya kondisi pantai sedang pasang. Angin yang berhembus di sana cukup kencang juga, tentu saja Milley tidak ingin mengambil resiko.


"Ayolah, Sayang kita pergi ke sana. Kapan lagi coba berada di pinggir pantai yang indah itu ...." rengek Dylan.


Seketika tangan Milley menempel pada kening Dylan.


"Kamu nggak demam, kan? Atau karena ini kamu jadi berubah aneh?" seru Dita sambil menunjukkan sebuah novel dengan judul "DARI BENCI JADI BUCIN"


Dylan yang semula tersenyum lebar kini menjadi berubah jadi kagok. Apa yang takutkan akhirnya terbongkar juga. Sebenarnya Dylan itu pintar atau menjadi bod*h karena cinta.


"Semua gara-gara Davin sialan!" umpat Dylan kesal.


Milley berjalan perlahan ke depan untuk mendekati suaminya.

__ADS_1


"Kenapa itu mulutnya dimonyongin mulu, apa pengen digampar pakai telenan?" ucap Milley sambil menaik turunkan alisnya.


"Wkwkwk, ampun sayang, nggak lagi-lagi deh, suer!"


Dylan mengacungkan dua jarinya ke atas guna meminta maaf untuk keanehan yang ia ciptakan selama beberapa hari ini. Milley sebenarnya tidak tega berbuat seperti itu pada Dylan, tetapi kadang sikap kekanakan dari Dylan membuatnya naik darah.


Ditangkupnya wajah Dylan dengan lembut. Lalu ia mulai duduk di depan suaminya, tentu saja Dylan menjadi salah tingkah. Milley mulai mendekatkan wajahnya, semakin lama semakin dekat hingga mengikis jarak diantara keduanya.


Lalu dalam sekejap mata, Milley sudah menempelkan bibirnya ke arah bibir suaminya. Mencoba membuka celah di dalam indera perasa milik Dylan. Mencicipi rasa yang ada di dalamnya, hingga tidak terasa Dylan terhanyut dan ******* bibir Milley dengan lembut.


Seketika bayangan indah itu sirna seiring Milley yang melepas ciuman panasnya barusan. Dylan seolah dipermainkan saat ini, padahal suhu tubuhnya sudah memanas dan siap bertempur.


Milley yang tidak sengaja melakukan hal tersebut segera berlari masuk ke dalam hotel. Hingga membuat Dylan mau tak mau mengejarnya.


"Kau yang memulai, Sayang. Kau harus tanggung jawab saat ini!" teriak Dylan sambil mengejar Milley.

__ADS_1


"Ampu ... un, Sayang."


Milley tidak mau menyerah, tetapi Dylan lebih semangat dalam mengejar Milley. Buktinya dalam sekejab mata ia berhasil mengejar Milley.


"Ketangkap, kan?"


"Oke, aku ketangkap, terus ...."


Milley memainkan jemarinya ke dada Dylan yang terbuka. Tentu saja hal itu semakin membuat gelenyer aneh di dalam dada Dylan. Membuat ia seketika menginginkan hal yang lebih dari itu.


"Stop, Milley, atau aku akan meminta lebih!" ucap Dylan dengan nafas yang memburu.


Dylan lalu menggendong Milley yang tidak menuruti ucapannya dan membawanya ke kamar. Dengan kakinya Dylan menutup pintu, sementara Milley masih menutup kedua matanya dengan tangan karena takut menatap Dylan.


"Oh, Tuhan. Mau apa lagi dia, semoga saja dia tidak menginginkan itu, aduh kenapa pula tadi aku terpancing buat mencuri ciuman Dylan?"

__ADS_1


Milley merutuki sikapnya barusan, karena dengan hal ini membuat ia terjebak dalam masalah besar.


__ADS_2