NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 13. SEBUAH KEPUTUSAN


__ADS_3

"Seharusnya aku tidak kembali ke Indonesia kalau pada akhirnya seperti ini."


"Seharusnya aku tadi tinggal di sana saja. Andai Tuhan memberikan waktu lagi, aku pasti akan membalaskan semuanya."


Lena mengusap air matanya, dadanya masih bergemuruh. Masih merasa tidak terima dengan keadaan ini.


"Bagaimana kabar Virgo? Bagaimana dengan kuliahnya?"


Lena bangkit dari tempat tidurnya. Mencoba membawa tubuhnya ke arah balkon. Ia tidak tau kapan ia dipindahkan. Kemarin ia masih berada di Rumah Sakit, tetapi saat ini suasananya seperti villa.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, muncullah sosok perawat yang biasa merawatnya di Rumah Sakit. Ternyata ia mengikutinya, perawat itu menoleh dan memandang ke arah Lena.


"Maaf Nyonya, kesehatan Anda belum sepenuhnya membaik. Kenapa Anda tidak beristirahat saja, kenapa malah berada di balkon?


"Oh ya, sebaiknya Nyonya sarapan dulu lalu setelahnya minum obat."


Lena masih mengabaikan perkataan perawat itu. Ia masih asyik memandang hamparan kebun teh di depannya.


"Sebenarnya aku berada di mana? Kenapa aku merasa dipisahkan dengan putriku?"


Perawat itu terdiam, ini bukan kapasitasnya untuk menjawab pertanyaan Lena. Ia hanya ditugaskan untuk merawat Lena sampai sembuh. Setelah itu ia pun masih menunggu perintah dari kakek Chryst.


Lena sesekali mencuri pandang. Dipandanginya perawatnya yang seperti robot itu. Ia hanya bisa menghela nafasnya. Lena kembali ke kamarnya dan segera memakan sarapan pagi. Beberapa butir obat langsung ia makan dan melarutkannya dengan segelas air putih.


Terdengar telepon di ruangan itu berbunyi, dengan sigap perawat itu langsung mengangkat telepon tanpa diperintahkan olehnya Lena heran, kenapa responnya begitu cepat ketika mendengar telepon berdering. Sedangkan di tanya olehnya saja tidak menjawab.


Saat berbicara dengan seseorang di seberang sana, ia melakukan dengan berbisik-bisik. Ingin rasanya menyadap telepon itu, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. Kesehatannya saja belum pulih.

__ADS_1


Sementara itu di rumah kediaman Tuan Chryst. Milley sedang bersiap untuk berangkat ke kampus. Tuan Chryst sudah mendaftarkan ia satu kampus yang sama dengan Dylan.


Hari itu juga ia akan langsung bersekolah disana. Karena beberapa berkas dan data-data dengan identitas yang baru sudah didaftarkan ke sana.


"Ya, gue sekarang bernama Milley, gue harus merubah beberapa sikap, agar mereka tidak curiga dengan gue."


Ditatap pantulan cermin di hadapannya. Melihat dalam ke bola matanya. Ia seperti kehilangan jati diri.


Dylan yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut mendapati Milley yang sudah berpakaian rapi.


"Cantik," gumamnya.


Selesai melakukan kegiatannya masing-masing, mereka berdua turun ke bawah bersama-sama. Mesra seperti biasanya. Jika orang lain yang tidak mengenal pasti salah menilai.


Seolah tidak terjadi apa-apa, mereka berdua mampu berkomunikasi dengan baik di hadapan Tuan Chryst. Mampu melakukan peran masing-masing tanpa ada yang tahu jika mereka berpura-pura.


"Siap Kakek."


Beberapa saat kemudian, seperti biasanya Rose sudah bersiap menyambut kedatangan Dylan, tetapi ia tersentak karena Milley turun dari mobil yang sama dengan Dylan.


Tanpa merasa malu, Rose langsung mendekati Dylan dan bergelayut manja di lengannya.


"Pagi sayang, siapa wanita itu?" tanya Rose memandang remeh ke arah Milley.


"I-itu ...."


Dylan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Rose dan semakin terlihat bingung. Bahkan dengan pasrah ia mengikuti kemauan Rose yang mengajaknya pergi.

__ADS_1


Milley menyunggingkan senyumnya. Dengan langkah anggun ia juga menggandeng lengan Dylan dengan menggeser posisi Rose. Tentu saja Rose marah dan hendak memaki Milley.


"Maaf Nona, saya tunangan Dylan dan sebentar lagi kami akan menikah? Tolong minggir dan sopan sedikit sama jodoh orang."


Gigi Rose gemertak tidak terima. Ia mendorong tubuh Milley dengan kasar. Hampir saja terjadi perkelahian kalau Dylan tidak menengahinya.


"Sorry Rose kita putus. Milley adalah tunanganku dan sebentar lagi kita menikah."


"Apa! Kamu keterlaluan Dylan."


Rose berlari menjauhi Dylan. Rasanya benar-benar hancur saat orang yang ia sayangi memutuskan dirinya.


.


.


.


Jangan lupa mampir di karya kak Uma bie judulnya "Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard."


Blurb.


Hati siapa yang tidak hancur, saat sebuah hari istimewa yang diharapkan akan berbuah kebahagiaan. Tapi apa yang di dapatkan oleh Amber Wilson sang wanita tangguh ini, sebuah kesedihan dan perasaan kecewa, ketika sang kekasih tak kunjung datang tepat dihari pernikahan mereka. Sang kekasih yang begitu ia cintai mendadak menghilang dan tanpa jejak.


Hari-hari Amber ia habiskan hanya untuk menunggu sang kekasih, ia masih sangat berharap kekasih hatinya itu datang dan kembali padanya, tapi lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan.


__ADS_1


__ADS_2