
Sementara itu Milley sedang menjalani operasi pengangkatan peluru dari lengannya. Kondisi Milley yang lemah karena sedang mengandung membuat kecemasan yang dirasakan oleh Dylan bertambah.
Para tenaga medis sedang berjuang di dalam ruang operasi. Darah yang dikeluarkan Milley cukup banyak, sehingga membutuhkan transfusi. Beruntung, stok golongan darah masih cukup, sehingga tidak perlu meminta pendonor.
"Bagaimana keadaan Milley?" tanya Tuan Chryst yang baru saja tiba.
"Masih dioperasi, Kek."
"Sabarlah!"
Tuan Chryst menepuk bahu Dylan dengan lembut. Berusaha untuk memberikan semangat dan dukungan kepadanya.
"Aku yakin Milley dan putra kalian akan selamat."
Dylan mengangguk setuju lalu kemudian mendoakan keselamatan Milley dan calon anak laki-lakinya.
Ia sengaja datang terlambat karena harus membujuk Lena untuk kembali dan berpikiran tenang.
"Tapi, dia putriku? Harusnya kamu tau jika aku sangat menghawatirkannya?" ucap Lena dengan mata berkaca-kaca.
"Percayalah padaku, aku mohon beri aku kesempatan Lena."
Lena menatap jengah orang tua di depannya itu. Kalau ia tidak mengingat kebaikannya mungkin ia akan mencerca laki-laki tua itu. Namun, setelah sekian tahun ia datang dan meminta maaf untuk semua kesalahan anak dan istrinya.
"Baiklah, aku memberimu satu kesempatan lagi."
"Terima kasih, Lena."
Selepas membujuk Lena, ia menuju Rumah Sakit untuk menemui cucunya, Dylan. Saat sampai, Dylan benar-benar terlihat sangat kacau. Ia juga telah mengetahui jika kakeknya datang.
__ADS_1
Dylan memandang kakeknya dengan tatapan sendu. "Apa pelakunya sudah diketemukan?"
"Sebentar lagi kita pasti bisa menemukannya, kakek berjanji!"
"Aku harap kakek bisa memenuhinya."
"Pasti."
Dylan terus menundukkan wajahnya. Tatapan matanya kosong, tetapi ada amarah yang terpendam di sana. Meskipun begitu ia tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
"Milley kamu harus bertahan!"
"Aku tau kamu kuat."
Satu jam telah berlalu, tetapi operasi tetap berjalan. Terlihat para tenaga medis sangat sibuk sekali dalam operasi kali ini. Banyak kejadian yang terjadi di hari itu, jadi Rumah Sakit terlihat sibuk dalam satu hari tersebut.
Di saat Tuan Chryst masih memikirkan nasib Milley, tiba-tiba masalah baru datang kembali. Lena dikabarkan pingsan karena Milley yang tidak kunjung siuman.
"Siap, Tuan Besar."
Setelah mendapatkan instruksi, Jo segera pergi. Meskipun begitu pengawalan di Rumah Sakit tetap diperketat. Siapa tau masih ada pelaku lain yang sedang menuju ke sana. Tuan Chryst dan Jo tidak mau mengambil resiko. Apalagi orang-orang penting semuanya ada di Rumah Sakit.
Sepeninggal Jo, akhirnya datang beberapa pengawal tambahan. Bahkan satu unit lantai yang dipakai Milley untuk operasi sudah disterilkan. Kelihatannya sangat spesial di mata orang-orang, padahal memang keadaannya seperti itu.
Akhirnya sebuah keajaiban datang. Operasi selama satu setengah jam berlangsung dengan lancar. Seusai operasi, dokter yang memimpin operasi Milley keluar, Dylan segera menyambutnya.
"Ba-bagaimana keadaan pasien?"
"Pasien harus dirawat di ruang transisi terlebih dahulu, untuk memudahkan pengawasan dan penyembuhan pasien."
__ADS_1
"Tapi pasien selamat, kan, dokter?"
"Semoga saja, tadi pasien banyak kehilangan darah, sehingga perlu transfusi. Namun, setelah ini pasien masih mengalami masa kritis dan kita tinggal menunggu keajaiban berlangsung, dimulai selama dua belas jam, mulai dari sekarang."
Melihat Dylan yang masih syok, Tuan Chryst mewakilinya untuk mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, dokter."
"Sama-sama. Kalau tidak ada yang ditanyakan, saya permisi."
Setelah dokter pergi, brankar yang berisi Milley segera dipindahkan ke ruang transisi. Dylan maupun keluarga yang lainnya tidak ada yang boleh mendekati pasien selama dua belas jam ke depan. Hanya keajaiban yang bisa membuat Milley membuka mata.
"Siapa yang melakukan ini, Kek?"
"Kakek juga tidak tahu, kamu yang kuat. Aku yakin Milley pasti bisa selamat."
Tuan Chryst menepuk bahu Dylan agar ia sedikit kuat menghadapi hal tersebut.
"Biarkan Kakek yang menyelidikinya, kamu tetap jaga Milley di sini!"
"Baik, Kek."
Dengan kekuatan yang dimiliki Tuan Chryst sebenarnya hal ini mudah diprediksi, tetapi ia belum menemukan bukti yang cukup, sehingga mau tidak mau ia tidak boleh gegabah dalam memutuskan.
Setelah mempelajari situasi, orang-orang kepercayaan Tuan Chryst mulai mengirimkan laporan secara berkala kepadanya. Tuan Chryst sangat teliti saat ini. Ia juga tidak akan mudah memutuskan sesuatu hal, karena ia tidak ingin Dylan atau celaka.
"Sebaiknya aku membuat berita lain untuk menutup kasus ini dari media."
.
__ADS_1
.