NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 100. KANGEN


__ADS_3

"Akhirnya kita bisa kembali pulang saat ini," ucap Dylan sambil meletakkan koper miliknya di kamar.


"Ah rasanya begitu capek dan melelahkan sekali."


Milley langsung meregangkan semua ototnya agar lebih terasa lebih enak. Perjalanan selama hampir dua belas jam lamanya, sedikit banyak membuatnya kelelahan.


Dylan yang sedari tadi memperhatikan Milley sungguh tidak menyangka jika hal itu bisa membuat dirinya menjadi penjaga untuk seorang wanita yang bernama Chamomille Milley. Namun apapun alasannya ia tidak pernah merasa terbebani justru perasaannya yang sebelumnya selalu membuatnya yakin jika cinta untuk Milley benar adanya.


Ternyata mereka dari pasar untuk membeli bahan makanan dan kelapa muda sebagai celengan ataupun sebuah karya dengan. Sehingga apapun yang ia miliki agar pantas untuknya saat ini.


"Kamu beli itu semua buat apa, Sayang?" tanya Milley heran.


"Rahasia dong sayang kalau dipakai kasih tau sekarang, bisa berabe."


"Ya sudah tinggalkan mereka dan seolah tidak terjadi apa-apa."


Dylan yang mendengar hal tersebut, perlu meluruskan semuanya.


"Maaf, kakek sepertinya kami bersiap untuk memaknya.


Kediaman Dita.


Namun sebelum asyiknya membawakan semua kopi untuknya.


Saat ini, Milley dan Dylan kembali berada di dalam kamar mereka yang dahulu. Milley masih melihat-lihat kondisi kamarnya. Semua kenangan seolah berputar pada saat yang sama.


Kenangan di mana Dylan dan Milley harus bersama karena ia diberi tugas untuk mengajari Dylan mengerjakan skripsinya. Belum lagi tugas lain yang tidak pernah selesai diberikan oleh Tuan Chryst padanya.

__ADS_1


"Gimana, kamu pasti merindukan tempat ini bukan?" tanya Dylan yang sudah berdiri tepat di belakang tubuh Milley.


Hembusan nafasnya saat berbicara bahkan bisa dirasakan dengan jelas oleh Milley.


"Apa-apaan sih nih anak, gemas banget sama dia. Apa otaknya korslet lagi?" gumam Milley.


"Loh, kok diem, apa ucapanku salah?"


Dylan membalikkan tubuh Milley agar ia bisa melihat ekspresi Milley yang menggemaskan itu. Entah kenapa tingkah Milley dan semua yang berada di dalam tubuh Milley sudah menjadi candu padanya.


"Enggak kok, nggak ada yang salah, cuma aku tidak enak kalau kamu selalu nempel kayak perangko seperti ini."


"Maksud kamu begini, atau begini?"


Dylan sengaja mengerjai Milley dan terus mengerjainya.


"Oh, ya?" jawab Milley semakin gugup.


"Tentu saja, kau kira aku berbohong begitu?"


Dylan semakin memajukan langkahnya hingga tubuh Milley membentur tembok. Kedua tangan Dylan mengukung tubuh Milley. Satu tangan Dylan menekan tombol kunci otomatis pada pintu sehingga moment romantis yang akan ia ciptakan tidak akan terganggu oleh orang lain.


Sebuah rencana yang sangat matang, karena sepertinya Tuhan pun mengijinkan hal ini terjadi. Buktinya Milley semakin terlihat malu-malu dan ketakutan.


"Dylan, kamu mau ngapain?"


Milley yang ketakutan berusaha untuk mendorong tubuh Dylan, namun usahanya sia-sia. Dylan sudah berlatih cukup lama akan hal ini, sehingga apapun yang akan dilakukan Milley akan berujung dengan sia-sia.

__ADS_1


"Dylan, please, aku kebelet!" ucap Milley berbohong.


"Oh, ya. Suruh siapa kamu begitu menarik dimataku saat ini."


Tidak butuh waktu yang lama, kini Dylan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Milley lalu kedua tangannya menahan agar Milley tidak memberontak dan cup, akhirnya kedua bibir mereka bertemu.


Awalnya memang Milley masih menutup mulutnya tetapi lama kelamaan akhirnya ia terbuai dan terjadilah ciuman di antara keduanya.


Sudah cukup lama Dylan menahan hal tersebut, tetapi kali ini ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Toh, sebentar lagi mereka akan menjadi sepasang suami istri, batin Dylan.


Meski awalnya terpaksa, tetapi lama kelamaan keduanya saling menikmati satu sama lain, hingga salah satunya mulai kehabisan nafas. Milley yang tidak biasa berciuman hanya bisa menginjak kaki Dylan agar melepaskan tautan bibir mereka.


Namun tidak dengan Milley yang tidak biasa melakukan hal tersebut membuatnya salah tingkah. Oleh karena itu Milley segera menginjak kaki Dylan.


Lalu setelahnya mereka berdua saling berlomba berebut oksigen di dalam kamar tersebut. Tanpa rasa jijik, Dylan mengusap bekas ciuman mereka yang tersisa di bibir Milley.


Entah kenapa Dylan malah tersenyum manis lalu membisikkan kata, "I love you calon istriku, lain kali kita ulang lagi yang lebih mesra daripada kali ini, ya."


Sontak saja wajah Milley memerah karena malu. Lalu ia berlari kecil ke kamar mandi sambil mengumpat, "Dasar mesum!"


Dylan terkekeh karena hal tersebut. Baginya Milley yang apa adanya seperti inilah yang membuatnya semakin jatuh cinta.


.


.


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2