
Merasa tidak nyaman dengan kehamilannya membuat Viola ingin pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilannya. Entah kenapa ada rasa tidak nyaman di sana.
Saat ini usia kandungan Viola baru tiga bulan, sehingga selama masa periode kali ini masih sangat rawan untuknya.
"Bagaimana ini, kenapa perutku kram?" keluh Viola saat memegang perutnya.
Belum lagi rasa pegal yang sangat terasa di bagian punggung membuatnya kesakitan ketika ia hendak bangun. Sementara itu Michael masih sibuk dengan pekerjaannya.
Viola melirik jam dinding di kamarnya. Penunjuk waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Akan tetapi tempat tidurnya yang biasa digunakan untuk Michael tidur masih dingin. Apakah itu artinya suaminya masih belum tidur sedari sore.
Pikiran Viola berkecamuk saat ini. Ingin rasanya ia diperhatikan saat kehamilannya masih rentan seperti ini, tetapi apa daya, pekerjaan lebih penting daripada calon anak mereka.
"Sampai kapan aku harus bertahan dengan semua ini, kenapa rasanya semakin sakit saat menunggumu kembali mencintaiku sama seperti awal kita kenal?"
Viola terisak dalam kesendiriannya. Jika ia tidak sedang sakit seperti ini sudah bisa dipastikan ia akan mendatangi ruang kerja suaminya dan menemaninya sampai pagi. Meskipun dengan begitu rasa cinta untuknya belumlah muncul, tetapi setidaknya ia sangat bahagia bisa dekat dengan suaminya.
"Kenapa kau hadir disaat kami belum saling mencintai, Sayang?" ucap Viola sambil membelai lembut perutnya yang masih datar itu.
__ADS_1
Di ruang kerjanya, sejak tadi rasa kantuknya sudah mendera dengan begitu kuat. Akan tetapi entah kenapa kakinya sangat enggan untuk digerakkan. Mungkin ia enggan kembali ke kamar karena ada Viola di sana.
"Kenapa aku begitu gegabah untuk menyentuhmu? Seharusnya aku tidak pernah menyentuh dirimu agar luka yang aku berikan tidak semakin lama kamu dapatkan."
Michael memijit pelipisnya dengan kuat. Rasa kantuknya yang tidak tertahan membuatnya ketiduran di meja kerja. Hingga pagi pun menjelang.
Keesokan harinya.
Michael sudah selesai berganti pakaian, sementara itu Viola baru saja membuka mata. dipandanginya lelaki yang sudah menjadi suaminya itu dengan seksama.
Saat ia hendak bangun, Michael melihatnya. Ia bergegas mendekati istrinya dan membantunya duduk.
"Sama-sama."
"Kamu kenapa, sepertinya kamu kurang sehat?"
Michael bisa melihat dengan jelas raut wajah Viola yang memucat. Lingkaran hitam di kedua mata membuat rasa khawatir di dalam hatinya.
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang jika kamu sedang sakit?" tanya Michael benar-benar khawatir dengan keadaan Viola saat ini.
"Apakah aku sedang bermimpi saat ini?" ucapnya dalam hati.
Meskipun begitu ia tetap bisa merasakan jika suaminya itu benar-benar perhatian kepadanya.
"Kenapa diam? sudahlah, lagi pula kamu tidak pernah mendengarkan ucapanku."
"Tidak, Sayang. Aku benar-benar sakit saat ini. Jika jadwalmu tidak padat sebaiknya kamu mengantarkan aku ke tempat dokter Richard."
Melihat keadaan istrinya, apalagi saat tahu jika ia sedang tidak baik-baik saja membuat Michael mengurungkan niatnya pergi ke kantor.
"Ayo, segera ganti pakaianmu. Aku akan mengantarmu ke tempat praktek dokter Richard pagi ini."
Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya ia segera bangkit dan berganti pakaian. Rasa sakit yang semalam terasa sudah hilang.
Akhirnya setelah sekian lama ia berhasil mengantarkan Viola ke Rumah Sakit. Tidak lupa sebelum ia pergi, Michael sudah memberikan pesan kepada asistennya agar menunda rapat hari ini dan menjadwal ulang rapat hari itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG