
Michael sudah menganggap Milley sebagai seseorang yang sangat penting untuk dirinya. Oleh karena itu saat mendengar Milley berada di Rumah Sakit membuatnya khawatir. Michael akhirnya mencoba mencari info tentang tempat tinggal Milley saat ini. Beberapa hari yang lalu ia mengatakan jika ia tinggal di sebuah hotel. Oleh karena itu ia segera datang untuk menemuinya. Mungkin langkah kaki Michael yang terburu-buru membuatnya menabrak seorang wanita.
"Kamu tidak apa-apa, Nona?"
Secara wanita tersebut terlihat buru-buru. Milley yang mengenal dengan jelas suara Michael perlahan mendongakkan wajahnya ke atas.
Milley menutup mulutnya, matanya menatap Michael dengan perasaan haru. Sudah lama ia merindukan lelaki di hadapannya saat ini. Ingin rasanya ia segera memeluk lelaki di hadapannya saat ini. Akan tetapi mungkin saat ini Michael tidak menyadari jika itu dirinya, maka Milley mengurungkan niatnya.
"Kak Michael ...." gumam Milley.
"Maaf, Nona saya buru-buru, maafkan karena telah menabrak Anda."
Milley hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat respon dari Michael. Ia juga bisa apa jika lelaki yang ia harapkan seperti orang lain saat ini. Saat Milley hendak berucap Michael malah memilih pergi.
"Kak Michael, kenapa kamu seperti orang lain?" gumam Milley.
Milley menoleh ke arah Michael pergi. Ia tidak menemukan Michael yang hangat seperti dulu. Kecelakaan itu semakin membuat jarak terbentang di antara mereka berdua. Mungkin memang itulah yang ia rasakan saat itu. Atau hal itu adalah sesuatu yang terbaik untuk mereka berdua. Tepukan halus dari Dylan menyadarkan Milley.
"Kamu kenapa, Sayang. Katanya mau ninggalin aku, buktinya kamu masih menunggu aku."
"Dih kenapa malah ketemu Dylan yang super nyebelin ini ya, Ampun," umpat Milley kesal.
Milley yang kesal segera menginjak kaki Dylan, lalu sesudahnya ia pergi menuju tempat parkir. Dylan yang belum bisa menyamai emosi istrinya segera menyusul Milley. Ia sangat khawatir dengan keadaan istrinya itu. Terlebih keadaannya membuat Dylan harus lebih banyak mengalah saat ini.
Tentu saja Michael tidak mengenali Milley yang sedang menyamar. Apalagi tadi Milley berpakaian berbeda dengan memakai syal dan aksesoris lainnya.
Mungkin karena saat itu Milley terlihat memakai sebuah syal dan kaca mata yang membelit lehernya, sehingga Michael tidak menyadari jika orang yang dicari sudah ia ketemukan. Namun, takdir Michael bukanlah pada Milley kembali. Akan ada seseorang yang akan bisa menyembuhkan luka hati Michael.
Sementara itu di sebuah ruang lainnya. Sosok laki-laki yang sangat Milley benci akhirnya dinyatakan sembuh. Ia bisa keluar dari Rumah Sakit, akan tetapi demi membayar semua biaya perawatannya, maka ia harus bekerja di Rumah Sakit tersebut sampai tagihannya terpenuhi.
"Bagaimana jika Anda bekerja di sini saja daripada Anda harus meninggalkan sisa tagihan yang begitu banyak."
"I-iya, dok."
"Daripada aku harus hidup sebagai gelandangan lebih baik aku tinggal di Rumah Sakit ini," gumamnya.
"Ta-tapi Pak dokter, saya tidak punya tempat tinggal lalu dimana saya tidur?" Robby mengajukan pertanyaan yang mengganjalnya.
__ADS_1
"Ada kamar kosong di belakang Rumah Sakit dekat dengan gudang. Kalau kau mau, silakan pakai."
Mata Robby terlihat berbinar, lalu sesaat kemudian ia mengangguk bahagia.
"Baik, saya setuju, Pak dokter. Terima kasih banyak."
Robby menjabat tangan dokter laki-laki tersebut dan tidak lupa untuk berterima kasih. Entah kebaikan hati mana yang membuat Robby masih bisa mendapatkan kebaikan dari orang lain.
"Setidaknya aku bisa bertahan hidup kali ini dan tidak akan membebani orang lain kembali setelahnya."
Sementara itu, Milley merasakan hal yang tidak nyaman dengan perutnya. Rasanya sangat menyiksa dan melilit. Peluh mengucur deras dari keningnya. Dylan yang mengetahui hal tersebut langsung menepikan mobilnya.
"Kenapa lagi dengan perutku?"
Milley mengelus perlahan perutnya, namun rasa itu tidak kunjung berkurang atau membaik.
"Ada apa, Sayang?"
"Sa-sakit, Mas."
"Sa-sayang, kamu ber-da-rah. Sebaiknya kita ke Rumah Sakit saja."
Dylan segera memutar balik laju mobilnya. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Hingga hanya butuh sepuluh menit mereka sudah sampai di Rumah Sakit.
Tanpa menunggu waktu yang lama, Milley kini sedang berada di dalam gendongan Dylan. Seperti ketakutan, Dylan tidak memperdulikan panggilan satpam dan segera membawa Milley ke poli kandungan.
"Sakit banget, Mas."
Milley tidak henti-hentinya merintih. Entah kenapa rasanya perut Milley sangat kram. Sehingga tanpa ia sadari, kandungannya sudah mengeluarkan flek.
Dokter memang tidak mau mengatakan jika saat itu Milley sedang mengandung tetapi kandungannya lemah. Sehingga sedikit saja guncangan dalam pikirannya bisa membuatnya seperti saat ini. Terlebih lagi usia kandungan Milley masih muda sehingga seharusnya harus penuh penjagaan yang ekstra.
"Ada apa ini?" tanya dokter khawatir.
"Tolong istri saya, Dok. Saya tidak tahu kenapa dia menjadi seperti ini."
"Baiklah, sebaiknya Anda menunggu di depan. Biar pasien lebih mudah untuk saya tangani."
__ADS_1
"Baik, Dok."
Tidak perlu menunggu lebih lama, Dylan segera pergi ke luar ruangan. Beberapa saat kemudian, setelah ditangani beberapa tenaga medis, Dylan merasa lebih bisa bernafas.
Apalagi dokter sudah mengatakan jika janin mereka selamat. Hanya saja kandungan Milley sangat lemah. Melihat dokter sudah keluar, Dylan segera berlari untuk menghampirinya.
"Bagaimana dengan kandungan istri saya, Dok?"
"Alhamdulillah selamat, seperti yang saya ucapkan tadi seharusnya Anda menjaganya dengan lebih ekstra. Bagaimana hal itu bisa terjadi padanya?"
"Maafkan untuk kelalaian saya," Dylan tampak menunduk.
Dokter Richard menepuk bahu Dylan.
"Sudahlah yang terpenting ia selamat, sehingga kamu tidak perlu meminta maaf. Jika kamu mau meminta maaf sebaiknya kamu melakukannya pada istrimu."
"Baiklah, Dok."
Setelah cukup lama berbincang dengan dokter, Dylan segera masuk ke dalam ruang rawat Milley. Terlihat sekali saat ini Milley sedang terbaring lemah di atas brankar.
Perlahan Dylan berjalan mendekati brankar istrinya. Rasa haru menyelimuti dirinya saat ini. Ia sungguh tidak akan memaafkan dirinya jika sampai terjadi apapun pada kandungan Milley.
Saat ini, selang infus menghiasi tangan Milley sebelah kanan, sementara demi menjaga kondisi Milley agar lebih stabil, dokter memberinya obat tidur dengan dosis rendah.
"Semoga saja, ia bisa sehat selalu," ucap Dylan sambil membelai lembut wajah istrinya.
"Maafkan jika perbuatanku membuatmu menderita," ucap Dylan perlahan sembari terduduk di samping brankar.
Wajahnya menunduk dengan kedua tangannya memegang salah satu tangan Milley dan mengecupnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dylan tidak pernah mengetahui jika hamil bisa menjadikan istrinya seperti saat ini. Ia mengira jika semuanya bisa baik-baik saja asalkan ia selalu bersamanya.
Semoga saja kandungan Milley akan baik-baik saja sampai saat melahirkan tiba, Aamiin.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1