
Karena laju mobil Dylan terhenti karena lampu merah, terpaksa ia hanya bisa memukul stir kemudi miliknya. Sementara mobil yang membawa Milley terus melaju kencang.
"Sepertinya mobil yang mengejar kita tertahan lampu merah, Bos."
"Syukurlah kalau begitu. Biarkan saja dia, yang penting pekerjaan kita beres."
"Sip."
Merasa tidak bisa mengejar mobil tadi, akhirnya ia ingat kakeknya. Dylan mengambil ponsel lalu segera melapor pada orang rumah. Kebetulan Jo yang mengangkat panggilan telepon dari Dylan.
"Hallo, ada apa Tuan?"
"Kakek mana?"
"Tuan Besar sedang berada di dalam toilet, ada apa Tuan?"
Dylan mengusap gusar wajahnya. Berbicara dengan Jo lebih menakutkan ketimbang dengan kakeknya.
"Milley diculik!"
Tanpa Dylan duga, ekspresi Jo sangat tenang dan datar.
"Kirim lokasi Anda sekarang, dan biarkan saya menyelesaian tugas."
"Baiklah!"
Sesuai permintaan Jo, Dylan segera mengirim lokasi terkini kepada Jo. Namun sayang, perhitungan Jo kurang akurat. GPS yang dipasang di tubuh Milley terlepas dan tertinggal di mobil Dylan.
Melihat kening asistennya berkerut, Tuan Chryst mendekatinya.
"Ada apa Jo?"
"Nona Milley diculik, Tuan," ucapnya sambil menunduk.
"Sudah aku duga."
"Maksud Tuan?"
"Minggirlah, dan minumlah susu hangat sekarang. Mungkin bisa menetralkan detak jantungmu itu."
"Hh, baiklah Tuan."
Jo segera menyingkir dan membiarkan Tuan Besarnya memegang kendali.
__ADS_1
"Hal seperti ini sudah dapat aku prediksi sejak lama. Kenapa kau begitu teledor? Apa jatah liburanmu kurang?" tanya Tuan Chryst tanpa memandang wajah Jo.
Jo mengusap peluhnya dengan sapu tangan miliknya. "Sejak kapan saya punya waktu liburan, Tuan?"
Ekor mata Tuan Chryst melirik ke arah asistennya itu.
"Maksudnya aku begitu kejam? Sampai memberimu jatah berlibur saja sampai lupa?"
"Astaga salah lagi, padahal pada kenyataannya seperti itu."
"Kamu kenapa Jo, apa tidak dengar ucapanku tadi?"
"Iya, Tuan. Saya permisi."
Jo melangkahkan kakinya ke dapur untuk membuat susu hangat untuk dirinya. Tidak lupa sepotong roti panggang juga ia persiapkan untuknya. Pantatnya ia dudukan di atas kursi di ruang makan sambil pikirannya masih berfokus pada pencarian Milley.
Sementara itu di ruangan kerja Jo, senyum Tuan Chryst mengembang. Ia sudah menemukan jejak Milley di sana.
"Begini saja sampai bikin pusing, dasar Jo, kau itu terlalu banyak pikiran," gumamnya.
Tangan kanan Tuan Chryst segera mengambil ponsel yang tergeletak di sana. Lalu ia menghubungi beberapa orang di kepolisian untuk mengambil kembali Milley. Tidak lupa ia mengirimkan lokasi ke ponsel Dylan.
Dylan yang masih menepikan mobilnya terkejut ketika ponselnya menyala. Dilihatnya lekat-lekat ponsel tersebut lalu ia membaca pesan di dalamnya.
"Gue bisa tolong Lu sekarang, Milley."
🍂Kediaman Tomy
Tubuh Milley tergolek lemah di atas ranjang kamar utama milik Tomy. Sementara istri pertamanya sedang berada di rumah yang lain.
"Kamu cantik sekali Milley, tidak disangka, orang tua itu pandai sekali merawat tubuhmu."
Dipandanginya dari ujunh kepala sampai ujung kaki.
"Bahkan sikap tomboy yang kamu miliki seolah sirna dengan penampilanmu saat ini."
Tomy meraba wajah Milley. Lalu berhenti di ujung bibir Milley yang berwarna nude itu.
"Cantik dan sexy. You're beautiful."
Tidak henti-hentinya ia memuji kecantikan Milley. Sampai ia lupa jika obat bius yang dipakai oleh para penculik itu sebentar lagi akan habis.
Merasa wajahnya diraba, Milley ingin sekali berontak, tetapi ia masih mencoba membaca situasi.
__ADS_1
Samar-samar ia bisa mendengar suara laki-laki tersebut, tetapi kepalanya masih terasa pening saat ini. Ingatannya berakhir di saat ia masih berada di dalam mobil Dylan. Lalu setelah itu ia sudah pingsan.
"Astaga, apa gue diculik?" ucapnya ketakutan.
Tomy yang merasa jika Milley masih pingsan tidak mau melewatkan kesempatan emas ini. Ia mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Sesaat ia menoleh, Tomy terkejut dengan keadaan Milley yang sudah terduduk.
"Hei gadis cantik, rupanya kamu sudah siuman?" ucap Tomy sambil menyeringai.
"Si-siapa kamu?"
Tomy tergelak akan ucapan Milley.
"Sayang, kamu lupa sama aku. Aku calon suami kamu."
"Cih, aku tidak pernah punya calon suami seperti kamu!" ucap Milley dengan lantang.
"Ututu ... masa kamu melupakan aku, sayang."
Tomy mulai mendekati Milley dan mencengkeram rambutnya. Menariknya ke belakang hingga Milley kembali jatuh ke ranjang. Kekuatannya belum sepenuhnya pulih akibat obat bius tadi, oleh karena itu, Tomy dengan mudah melumpuhkannya.
"Ku peringatkan sekali lagi, menurut padaku dan nikmatilah!" bisik Tomy tepat di telinga Milley.
"Kamu akan bahagia selama kamu mau menjadi wanitaku, Milley!"
Milley yang tidak sudi dengan ucapan Tomy membuang muka, mencoba menghindari ciuman dari lelaki yang tidak ia kenal tersebut. Tubuhnya masih kesakitan karena ditindih olehnya.
"Sial, aku nggak bisa bergerak, bagaimana ini?" rintih Milley di dalam hati.
Sesaat kemudian, mobil Dylan sudah sampai di lokasi. Ia hanya tinggal menunggu barusan polisi yang akan membuka jalannya. Meskipun begitu ia amat khawatir dengan keadaan Milley.
"Gue tau Lu kuat, bertahan ya demi gue," doa Dylan di dalam hatinya.
Sesaat kemudian terdengar suara teriakan dari dalam rumah.
"Aaaaaa ...."
"Milley!" teriak Dylan.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya, mau crazy up atau enggak nih?
Tapi tunggu othor bangun dulu ya, ini masih kebius obat, wkwkwk, maafkan othor lagi tumbang 🙏🤧