NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 148. MENCINTAI MILIK ORANG


__ADS_3

Cinta memang kadang datang terlambat, tetapi tidak ada kata terlambat untuk memulai mencintai seseorang. Meskipun pada akhirnya kadang apa yang kita rasakan tidak menjadi seperti keinginan kita, tetapi setidaknya dengan berjuang kita bisa mengerti apa yang seharusnya kita perjuangkan dan apa yang harusnya kita tinggalkan. Jika mencintai sesakit ini lebih baik tidak ada kata mencinta. Begitulah pemikiran Michael.


"Apa ini jalan takdir yang aku pilih? Kenapa menyakitkan?"


Saat ini Michael sedang berada di villanya. Hari ini ia tidak menemui Viola ataupun melakukan kontak dengan dia. Seperti biasanya ia lebih suka untuk merenungkan semua kejadian yang telah menimpanya selama beberapa hari ini.


"Harusnya aku menyadari jika dia memang bukan Milley?"


Ucapan Viola kemarin tentang apa yang ia rasakan selama menjadi Milley palsu, telah memenuhi rongga kepala Michael. Sebenarnya ada sesuatu yang membuat ia tidak bisa menjadi seperti dulu. Akan tetapi ia tidak tahu apa yang sebenarnya baik untuk dirinya. Ia juga tidak mau memaksakan keinginan hatinya pada Viola, karena sesungguhnya ia takut terluka untuk kedua kalinya.


"Apa mungkin ingatanku tidak akan pernah kembali?"


"Akan tetapi kenapa menjadi orang yang seolah menolak kenyataan sangatlah menyakitkan?"


Michael mengusap gusar wajahnya. Sekali lagi ia terluka maka tidak akan pernah lagi dirinya membuka hati.


Michael memang tidak ingin berpisah dengan Milley, mungkin itu alasan yang tepat untuk semua pertanyaan yang telah membelenggunya selama ini. Namun, Milley telah menemukan tambatan hatinya.


Saat ini Michael baru menyadari jika Milley sudah menikah dengan Dylan dan kedatangannya ke Indonesia untuk membantu perusahaan Dylan yang sedang mengalami colabs. Informasi tersebut diperoleh dari asistennya dan juga Adam, dokter pribadinya.


Akan tetapi sebuah kecelakaan yang terjadi beberapa waktu yang lalu telah merenggut semua impiannya. Bahkan semua kenangan yang di masa lalu yang tidak ingin ia lupakan terpaksa terhapus dan tidak akan bisa kembali lagi.


Tidak terasa air mata Michael menetes tanpa bisa ia bendung kembali. Michael memang tidak menyadari hal ini karena sebagian memorinya yang hilang. Atau memang seharusnya ingatan itu hilang agar tidak ada hati yang tersakiti kembali. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.


"Kedatanganku bahkan sangat terlambat saat ini. Jika aku kembali pun tidak akan bisa mengubah kenyataan bahwa Milley sudah menjadi milik Dylan."


"Kenapa harus aku yang mengalami semua ini? Kenapa harus aku, Tuhan?"

__ADS_1


Ada banyak hal yang membebani pikiran Michael hingga sesaat kemudian kehilangan kesadarannya.


BUGH


Michael kembali pingsan untuk kedua kalinya. Salah satu perawat yang mengetahui hal itu langsung menghubungi Adam. Kebetulan Adam secara khusus datang dari Perancis untuk Michael.


"Hallo Tuan Adam, Tuan Michael kembali pingsan!"


"Baiklah aku akan segera ke sana."


Sementara itu di tempat lain.


Milley sedang duduk di halaman belakang rumah sambil menunggu kedatangan Dylan. Padahal sejak lama Dylan sudah menunggu di balik pintu. Ia masih takut jika Milley panik melihat luka lebam di wajahnya.


"Kenapa dia belum datang?"


Sampai tidak sengaja saat Dylan hendak berbalik ada Nanni di hadapannya, hingga keduanya sama-sama berteriak.


"Aaaa ...."


Sontak Milley terjingkat dari tempat duduknya.


"Ma-maaf Tuan, maafkan saya," ucap Nanni menunduk.


Ia benar-benar tidak tahu jika Tuan Mudanya berdiri di hadapannya saat ini.


"Maafkan saya."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, bukan sepenuhnya salah kamu juga."


Dylan berusaha untuk membersihkan bajunya yang terkena tumpahan air teh. Sedangkan Milley sudah berdiri di belakang Dylan.


"Kamu kenapa, Sayang?"


Dylan menoleh, "Cuma ketumpahan air teh saja, kok."


"Kata siapa? Itu kenapa mukanya lebam?"


Milley yang ingin marah seketika mengurungkan niatnya karena melihat sudut bibir Dylan ber-da-rah.


Milley mengusap lembut wajah Dylan lalu menyuruh Nanni mempersiapkan kotak P3K.


"Nanni, ambilkan kotak P3K sekaligus air es buat kompres luka Dylan."


"Baik, Nyonya."


Dylan menyentuh tangan Milley yang memegang pipinya.


"Sudah tidak apa-apa sayang, oh ya gimana kandungan kamu?"


"Nggak usah mengalihkan pembicaraan, yang penting obati luka kamu dulu."


"Oke, siap Sayang."


Milley mencubit gemas perut Dylan karena suaminya bertingkah kemayu.

__ADS_1


"Dasar ganjen!"


__ADS_2