
Benturan yang terjadi di kepala Dylan cukup parah. Hal itu mengakibatkan Dylan mengalami amnesia disosiatif, sebuah kondisi ketika pengidap tidak mampu untuk mengingat berbagai informasi pribadi yang bahkan dinilai sangat penting.
Tentu saja Rose sangat bahagia mendengar hal tersebut, tetapi tidak dengan Tuan Chryst dan Jo. Sesuatu yang harusnya ia hindari malah membuatnya kesulitan.
"Sayang, bagaimana caranya kau akan tetap menjadi milikku. Mau kau lumpuh atau koma sama saja, aku akan merawatmu."
Rose mengusap wajah Dylan yang terbaring lemas di atas brankar. Keningnya masih berbalut dengan kain perban. Tangannya yang kekar masih berhias selang infus.
Tuan Chryst baru saja kembali dari ruang dokter dengan wajah kuyu. Langkahnya terasa berat kali ini. Bagaimana bisa ia menyatukan kembali Milley dengan Dylan jika cucunya malah amnesia. Sementara itu Milley dinyatakan koma.
Satu lagi yang membuatnya harus berpikir keras kali ini adalah perkataan dari dokter barusan.
"Pengidap amnesia jenis ini bisa saja lupa siapa nama dan segala hal yang erat kaitannya dengan pribadinya. Oleh karena itu, untuk sementara waktu biarkan pasien seperti ini. Jangan membebani pikirannya dengan sesuatu memori di masa lampau."
Rose terus saja beracting kali ini, tetapi berada di Rumah Sakit membuatnya pening. Aroma obat-obatan itu terasa sangat menyengat di dalam indera penciuman Rose, hingga membuatnya harus muntah secara berulang kali di kamar mandi.
Rebecca yang melihat calon menantunya pucat segera menghampirinya.
__ADS_1
"Rose, kalau kamu sakit, sebaiknya kamu pulang saja."
"Nggak apa-apa kok, Mam. Aku sudah biasa seperti ini."
"Tunggu sebentar, jangan bilang kau hamil anak Dylan," cecar Rebecca pada Rose.
Rose menunduk tetapi tidak bisa menyembunyikan hal itu darinya. Ia tahu jika calon mertuanya ini jauh berpengalaman darinya. Cepat atau lambat pasti ia akan ketahuan.
Rose memegang tangan Rebecca dan mengajaknya duduk di sudut ruangan. Ia mulai menceritakan semua kebohongan itu. Dari awal Dylan menolaknya lalu secara sengaja melecehkannya di bar hingga membuatnya hamil.
"Nggak mungkin Dylan melakukan semua ini."
Namun, Rose terus menunjukkan semuanya. Hingga mau tidak mau ia pun mempercayai kebohongan yang diciptakan oleh Rose.
"Maaf, tetapi dengan hal ini aku baru bisa mendapatkan putramu. Andai saja Dylan tidak berulah, mungkin aku tidak akan setega ini," ucap Rose di dalam hati.
Rebecca memeluk erat tubuh Rose, menenangkan dan berusaha untuk menghiburnya agar tidak terlalu bersedih atas semua kemalangan yang terjadi.
__ADS_1
🍂 Di dalam ruang rawat Milley.
Michael masih duduk di sebelah brankar milik Milley. Sejak semalam hingga hari ini ia terus menggenggam salah satu tangannya. Berharap keajaiban itu terjadi, tetapi nyatanya pemilik mata emerald itu masih enggan untuk membuka matanya.
"Mill, ayo buka mata. Maafkan aku yang tidak becus untuk menjagamu."
"Dan kau Dylan, jangan harap aku melepaskan Milley untuk kembali bersamamu. Cukup kali ini saja aku memberimu kesempatan, tetapi sekarang Milley seutuhnya untukku."
Mata Michael masih sembab, hatinya masih terluka. Ia tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya. Keinginannya hanya satu, setelah Milley siuman maka ia akan membawanya pergi ke luar negeri dan pergi menjauh dari Dylan.
"Ya, setelah kau bangun. Maka kita akan pergi dari sini. Jangan takut, aku akan membawa serta ibumu bersamaku."
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1