
Setelah bertemu dengan Robby, kini Milley berniat untuk berpamitan padanya.
"Pak, kami pergi dulu, lain kali kita pasti akan bertemu lagi."
Robby memandang sendu putri dan juga istrinya. Ada rasa tidak rela menggelayuti, tetapi ia tidak punya hak untuk menahan keduanya. Lena sudah bukan istrinya lagi, sementara Virgo telah ia gadaikan demi membayar hutang-hutangnya.
Robby mengusap air matanya, tetapi Milley menahan tangan ayahnya itu.
"Pak, jangan bersedih, aku yakin Bapak akan bahagia setelah ikhlas."
Robby memandangi putrinya sekali lagi. Ia bersyukur saat Milley tidak memendam kebencian terhadapnya.
"Terima kasih banyak, Nak, untuk kebaikan hatimu. Semoga Allah selalu merahmati setiap langkah di perjalanan hidupmu."
"Aamiin, ya sudah, Pak. Kami pamit."
"Iya, hati-hati. Jaga kandunganmu, Nak. Maaf Bapak tidak bisa memberikan apapun selain doa."
Milley tersenyum, lalu beranjak pergi. Lena mengikuti langkah kaki Milley. Robby memandang kepergiannya dengan sendu. Satu masalah dalam hidupnya kini sudah berkurang.
Meskipun nanti mereka sudah menjalani kehidupannya masing-masing setidaknya tidak ada dendam di antara keduanya.
"Lena, jaga dirimu baik-baik, semoga kamu mendapatkan kebahagiaanmu kembali."
"Aamiin."
Lena tidak bisa mengatakan apapun. Lagi pula kejadian hari ini sudah membuatnya syok. Ketakutan, bayangan kekejaman Robby seolah berputar bagaikan kaset usang dan membuat Lena mendadak bisu. Mungkin karena itulah ia merasa tidak nyaman.
"Bu, tidak akan terjadi apa-apa, percayalah kepadaku."
Mungkin itu arti dari isyarat yang diberikan oleh Milley saat menatap ibunya. Milley paham dengan apa yang sedang dirasakan oleh Lena. Hal yang sama juga ia rasakan tadi, akan tetapi pesan Michael kepadanya, akhirnya ia gunakan saat itu.
__ADS_1
"Semoga saja, Bapak benar-benar tulus meminta maaf, dan semoga beliau mendapatkan hidayah dan kemudahan rezeki setelah ini. Aamiin."
.
.
Perusahaan Anggara
"Terima kasih untuk kehadirannya dalam rapat hari ini. Saya rasa rapat kali ini cukup sampai di sini. Selamat siang."
Dylan baru saja menutup acara meetingnya kali ini. Setelah Michael belum bisa kembali ke perusahaan itu, selama itulah Dylan mengambil kepemimpinan di sana.
"Dylan, bisa bicara sebentar?"
Tuan Chryst menghentikan langkah cucunya. Dylan yang hendak pergi mengurungkan niatnya lalu menoleh ke arah kakeknya. Di dalam ruangan itu memang hanya tinggal mereka bertiga. Dylan, Tuan Chryst dan Andreas. Sementara itu Jo menunggu di luar.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepada kalian semua."
"Apa ini, Ayah?"
Dylan masih melihat-lihat isi dokumen tersebut.
"Itu adalah pembagian tanggung jawab yang akan kalian pegang saat ini. Aku mohon kalian jangan bertanya lebih tentang perbedaan tanggung jawab yang kalian terima."
Dylan paham akan apa yang dimaksudkan oleh ayahnya, karena di dalam dokumen tersebut harta Tuan Chryst tidak dibagi dua, melainkan empat bagian. Empat puluh persen atas nama Dylan, dua puluh lima persen atas nama Andreas, lima belas persen atas nama Milley dan sepuluh persen atas nama Jo.
Kening Andreas berkerut ketika membaca hal tersebut, tetapi ucapan dari ayahnya setelah ini membuatnya yakin jika hal ini dilakukan demi kebaikan semua orang. Dylan berhak mendapatkan saham paling besar, sementara dirinya sudah lebih dari cukup mendapatkan sebesar itu.
Sedangkan untuk Milley mungkin ini dilakukan untuk anak di dalam kandungannya, dan Jo berhak mendapatkan hal itu untuk seluruh pengabdian yang telah dilakukan selama hidupnya.
Setelah memberikan waktu untuk mereka membaca semua isi dokumen tersebut, Tuan Chryst mulai berbicara kembali.
__ADS_1
"Ada yang ingin kalian tanyakan?"
Tuan Chryst menatap ke arah Andreas lalu bergantian ke arah Dylan. Keduanya menggeleng hampir bersamaan. Tuan Chryst tersenyum karena kedua orang ini memahami apa yang mereka maksudkan kali ini.
"Terima kasih karena telah menerima keputusan kakek ini."
"Sama-sama, Kek. Kami yakin semua ini sudah dipikirkan secara matang sebelum kami memintanya."
Tuan Chryst mengangguk setuju. Setelah itu, Dylan permisi pergi. Ia ingin segera bertemu dengan istrinya dan memastikan jika Milley baik-baik saja. Namun, belum sempat langkahnya sampai di depan lift, ia sudah mendapatkan sebuah bogem mentah dari seseorang.
"Dasar lelaki brengs*k!"
Sudut bibir Dylan bengkak dan membiru, terluka tapi Dylan menahannya. Ia tidak tahu apa permasalahan lelaki itu hingga memukulnya.
"Beraninya kau membuat wanitaku terluka, ha-ah!"
Jo yang melihat hal itu segera berlari mendekatinya.
"Security ...."
Lelaki itu segera melarikan diri dari Dylan sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah Dylan.
"Tuan Muda tidak apa-apa, bukan?"
Dylan menggeleng, tetapi ia menyuruh pihak keamanan untuk mengejarnya.
"Segera temukan orang tadi!" teriaknya.
"Baik, Tuan."
"Jangan kembali jika tidak menemukannya!"
__ADS_1