
Kebahagiaan Milley dan Dylan semakin lengkap karena semua keluarganya berkumpul. Hal itu bisa terjadi berkat campur tangan dari suaminya sendiri.
"Aku mohon, Anda datang ke dalam acara tasyakuran cucu pertama Anda."
"Tapi aku tidak janji, karena aku harus bekerja untuk membayar hutang-hutangku," ucap Robby sambil menunduk.
"Apakah aku harus membayarnya untuk Anda?"
"Tidak perlu, karena aku bisa melakukannya sendiri."
"Tapi, Tuan. Aku mohon, semua demi senyuman Milley."
"Baiklah."
Kira-kira seperti itulah percakapan yang dilakukan dengan ayah Milley, yaitu Robby.
Namun, Milley tidak menyadarinya. Beberapa hari yang lalu Dylan benar-benar bekerja keras untuk mempersiapkan acara hari ini. Ia bahkan memastikan agar tidak ada minus dalam acara paling penting itu.
"Jangan sampai ada hal yang tidak terduga dalam acara nanti!"
"Baik, Tuan. Percayalah padaku," ucap Jo pada Dylan.
Sejak Baby J lahir, Dylan seolah menjadi lelaki yang sangat bertanggung jawab. Baby J memberikan Dylan sebuah kekuatan baru.
Sejak kehamilan Milley bermasalah, Dylan sangatlah memprioritaskan Milley dan calon bayinya. Karena keduanya sangatlah penting di dalam hidup Dylan. Bahkan saat dokter menyuruh untuk menggugurkan kandungan Milley, ia tetap berusaha keras untuk melanjutkan kehamilannya.
Meskipun hanyak hal yang terjadi selama kehamilan. Akan tetapi kerja sama antara Dylan, Milley dan dokter mampu membuat semuanya berjalan lancar. Hingga tibalah saat di mana Baby J lahir.
Kenangan masa kecilnya yang kurang merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya, membuat Dylan tidak ingin hal itu sampai di alami oleh anak-anaknya kelak. Oleh karena itu kehadiran Baby J merupakan anugerah terindah yang dikirimkan Tuhan setelah Milley. Ia akan berusaha untuk menjaganya.
"Terima kasih, Sayang. Sudah membuat semuanya menjadi indah. Bahkan kamu mau menerima aku yang sama sekali bukan dari kalangan berada," ucap Milley sambil memandang Dylan penuh mesra.
"Jangan berkata begitu, kehadiranmu jauh melebihi apapun, bahkan jika aku tidak bertemu denganmu aku yakin hidupku pasti tidak akan seindah ini."
"Sungguh?"
Dylan mengangguk setuju. "Apapun, sampai kapan pun alasanku bertahan hidup hanyalah kamu dan Baby J."
"Terima kasih."
Milley sangat bisa merasakan kasih sayang dari Dylan, suaminya. Tanpa ia sadari, Milley memeluk erat tubuh Dylan. Begitu pula dengan Dylan yang tidak pernah merelakan Milley jauh darinya, ia membalas pelukan sang istri tercinta.
"Jangan khawatir ya, aku akan selalu berada di sisimu."
Milley mengangguk setuju. Kini tibalah di mana Milley dan Dylan akan berada di tengah pesta syukuran kelahiran Baby J. Saat ini Baby J sedang di dalam box bayinya dengan di dampingi oleh Lena dan Andreas.
Sementara itu Milley dan Dylan terlebih dahulu keluar untuk menemui tamu undangan. Di dalam pandangan para tamu undangan, sangat terlihat jika Dylan dan Milley adalah pasangan yang sangat serasi.
__ADS_1
"Lihatlah, betapa mereka adalah pasangan yang serasi, bukan?"
"Tentu saja iya. Apalagi mereka mempunyai wajah yang cantik dan tampan. Pasti bayi mereka sangatlah tampan."
Ketika Dylan terus mengeratkan pegangan tangannya pada jemari Milley, banyak tamu undangan yang terus memperhatikan mereka.
"Kamu adalah permata terindah yang dikirimkan Tuhan kepadaku, maka selayaknya suami dan imam dalam hidupmu, aku berjanji akan selalu melindungi dan menjaga keluarga kecil kita."
"Aamiin."
"Terima kasih Tuhan, telah mengirimkan imam terbaik dalam hidupku. Terima kasih engkau anugerahkan kebahagian dan keberkahan dalam hidup kami."
"Aamiin."
Tanpa malu, Dylan mengecup kening Milley, yang sukses membuat perlakuan dari suaminya tersebut bisa meluluh lantakkan rasa tidak percaya diri pada Milley. Meskipun pada kenyataannya, Dylan selalu memberikan semua fasilitas yang terbaik untuk Milley. Sehingga tidak ada celah untuk mencelanya sebagai seorang istri CEO.
Namun, belum sempat acara terjadi, keributan kecil sedang terjadi kembali. Sedari tadi Milley selalu diganggu oleh Dylan. Mau tidak mau ia pasti akan merasa risih.
"Kamu maunya apa, sih. Kok lirik sana lirik sini?"
"Dasar istri paling gemesin, pasti kepo sendiri," ucap Dylan seolah mengejek.
"Siapa suruh meributkan seorang wanita yang sudah berumur?"
"Kata siapa, di hatiku hanya ada kamu, Sayang. Jadi jangan pernah meragukan cintaku padamu."
"Iya, aku minta maaf ratuku tersayang, nggak lagi-lagi deh gangguin kamu."
"Ok, baiklah kalau begitu."
"Ya sudah, senyumnya mana?"
"Nih," ucap Milley sambil menunjukan senyum termanisnya.
Sepanjang acara, senyum Milley terlihat sangat menawan, menghiasi sepanjang malam. Begitu pula dengan Dylan. Andreas dan Lena juga turut berbahagia akan kebahagiaan yang dirasakan kedua putra-putrinya.
"Terima kasih, ya. Kamu sudah menekan egomu demi kebahagiaan putra-putri kita," ucap Lena pada Andreas yang berdiri di sampingnya.
"Sama-sama, aku bahkan kini merasa malu kalau mengingat semuanya, tetapi aku bersyukur kamu selalu menasehati ku."
"Iya, sebagai orang tua kita tidak boleh memberikan contoh buruk pada anak-anak."
Sesuai dengan permintaan Dylan, akhirnya ayah kandung Milley datang ke acara tersebut. Ia benar-benar menepati janjinya kali ini.
Sebagai ayahnya, Robby datang memenuhi undangan dari putrinya. Meski dia berada di ujung ruangan dan tidak secara langsung memperlihatkan dirinya, tetapi ia sudah sangat bahagia ketika menyadari jika Milley masih menganggapnya sebagai Ayahnya.
"Selamat untuk kebahagiaanmu, Nak," ucapnya dari kejauhan.
__ADS_1
"Ayah selalu mendoakan yang terbaik untukmu, karena hanyalah doa dan restu yang aku punya, semoga kamu selalu bahagia, Aamiin."
Pada malam itu juga, Viola dan Michael datang memenuhi undangan dari Milley dan Dylan. Kini kondisi Viola juga sudah membaik berkat obat dari dokter.
"Bolehkah aku menggendong Baby J?" tanya Viola pada Milley.
"Tentu saja boleh, yang penting Baby J tidak rewel dan tidak merepotkanmu."
"Iya, terima kasih."
Namun sesaat kemudian, Dylan datang dan tidak mengijinkan siapa saja menggendong Baby J, termasuk Viola. Mungkin karena takut amarah Dylan muncul, Milley segera memberikan kode kepadanya agar Viola setuju.
"Ya, sudah kalau begitu biarkan aku menyentuh sedikit saja," ucap Viola dengan wajah memelas.
Milley memberikan kode kepada Dylan agar memperbolehkannya menyentuh kulit Baby J.
"Kamu boleh memegang tubuhnya, Viola."
"Benarkah, terima kasih," ucapnya dengan bahagia.
Viola tampak sangat bahagia ketika Milley memperbolehkannya memegang Baby J. Semula ia ingin menggendongnya, tetapi sikap posesif Dylan membuat siapapun yang ingin menggendongnya menjadi mengurungkan niatnya.
Saat Milley menoleh ia sempat melihat kehadiran Robby. Ia tersenyum kepada beliau dari tempatnya berdiri. Saat hendak mendekatinya, Dylan mencekal lengannya.
"Jangan membuat rasa trauma di hati Ibu kembali," bisik Dylan kepada Milley.
Milley mengangguk setuju. Beruntung Dylan memperingatkan dirinya, kalau tidak ia bisa membuat suasana menjadi kacau. Meskipun tidak bisa mendekati ayahnya, Dylan maupun Milley sudah bisa merasakan kebahagiaan yang sempurna malam itu. Terlebih lagi Baby J tampak anteng meskipun suasana cukup ramai.
"Bagaimana kalau kita masuk terlebih dahulu?"
"Boleh, sepertinya Baby J sudah mengantuk."
"Baiklah kita masuk!"
Tidak membutuhkan waktu lama, sepasang suami istri itu segera masuk ke dalam kamar.
Tidak ingin Baby J kenapa-napa, Dylan mengajak Milley dan anaknya masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Tentu saja dengan pengawalan yang sangat ketat. Mengingat situasi sangat tidak bisa diprediksi.
Baby J hanya mengerjapkan kedua matanya karena perjalanan dari ballroom menuju kamar pribadi cukup lumayan. Sesuai rencana malam ini akan dilakukan dengan cara yang sangat luar biasa.
"Ini kamar kita, Mas?"
Dylan mengangguk, "Iya, Sayang. Apa kamu suka?"
"Suka banget, terima kasih."
BERSAMBUNG
__ADS_1