
Akhirnya setelah perdebatan panjang, semua orang sudah berada di dalam pesawat pribadi milik Dylan. Di Ibu Kota atau lebih tepatnya di Kediaman Tuan Chryst, ketiga orang tua itu berharap-harap cemas menunggu kedatangan Milley dan Jord.
"Kenapa kau mondar-mandir di situ, menganggu penglihatanku saja!" ujar Tuan Chryst dengan gayanya yang berkharisma.
"Ayah, ini lah caraku untuk menghilangkan kecemasan," ucap Andreas dengan sedikit kesal.
"Cih, tua tapi bertingkah seperti anak muda!" ucap Tuan Chryst sambil berdecih.
Lena yang sedari tadi menikmati perdebatan Andreas dengan ayahnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
......................
Sementara itu Rain cemas jika kembali ke Ibu Kota. Ada rasa trauma yang belum bisa disembuhkan kali ini. Di Ibu Kota banyak sekali memory yang tidak menyenangkan, tetapi ia menutupinya dari Milley.
"Apakah aku bisa sembuh dari hal ini?" gumam Rain di dalam hatinya.
Bayangan bersama kekasihnya lalu penyerangan yang dilakukan oleh keluarga calon tunangannya membuat Rain harus kehilangan orang-orang yang ia sayangi.
__ADS_1
"Berani kau mendekati putriku, maka akan aku pastikan hidupmu hancur! Begitu pula dengan seluruh anggota keluargamu yang akan merasakan kehancuran!"
BUGH
Wajah Rain sudah babak belur, belum lagi tubuhnya yang penuh luka membuat lelaki dan wanita itu puas. Setidaknya keinginan untuk tidak memberikan restu kepada Rain sudah terwujud. Namun, mereka akan berpura-pura baik di depan putri tunggalnya.
Bahkan setelah ia menghajar Rain, mereka meludah ke arah wajahnya. Hari itu membuktikan jika orang miskin tidak boleh memiliki perasaan kepada orang kaya. Perbedaan status yang tinggi membuat mereka enggan berdekatan dengan Rain.
Justru mereka mengganggap Rain sebagai kutu yang siap menggerogoti kekayaaan kedua orang tua kekasihnya.
Memandang hamparan langit sore yang berwarna Jingga membuatnya tidak bisa melupakan perempuan yang telah mencuri hatinya itu.
Sayang, restu yang diberikan oleh Keluarga Jingga adalah palsu. Di depan mereka sangat menyetujui jika Rain bersanding dengan Jingga, tetapi di belakang mereka tidak bisa menerima kehadiran mereka.
"Maafkan aku Jingga, semoga saja kamu sudah bahagia dengan lelaki pilihan keluargamu."
Sakit memang rasanya ketika kita tidak bisa bersatu dengan orang yang sangat dicintai. Merasa dadanya nyeri, Rain mencoba menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
__ADS_1
"Hat-chih!"
Jingga mengusap hidungnya karena tiba-tiba bersin. Padahal kali ini ia sedang berhadapan dengan pasien yang berkonsultasi tentang permasalahan hidupnya. Sudah lima tahun ini Jingga berprofesi sebagai seorang psikiater. Meskipun begitu ia belum bisa menyembuhkan luka di hatinya sendiri.
Bahkan dalam lima tahun terakhir ini ia sudah menolak beberapa pendekatan yang dilakukan pemuda pilihan Mamanya. Bagaimana bisa Jingga membuka hati untuk yang lain ketika ia masih mencintai orang yang sama, yaitu Rain.
Pemuda yang sudah menolongnya beberapa tahun lalu saat ia masih menjadi mahasiswa baru. Kebiasaan mem-bully membuat Jingga tidak berani masuk sekolah. Banyak yang mengatakan jika kedua orang tuanya adalah kor-up-tor. Sehingga fakultas yang ia masuki tidak pantas untuk anak seorang penj-ahat.
Sedih, adalah hal yang wajar dialami oleh semua orang korban bully. Beruntung ada Rain yang menjadi penolongnya saat itu. Sehingga ia bisa menjadi seorang psikiater saat ini.
Hanya saja cintanya harus terputus ketika Rain dinyatakan hilang dan seluruh keluarganya tewas. Sehingga mau tidak mau Jingga harus melepaskan impiannya bersanding dengan pujaan hatinya.
"Langit Jingga, jika kau bisa menyampaikan kerinduan dan rasa cintaku pada seseorang, aku memintamu untuk menyampaikan pesan bahwa sampai kapan pun rasa cintaku tidak akan pernah bilang dimakan waktu. Aku akan selalu menunggu keajaiban itu. Semoga saja, Aamiin."
Kenapa kisah cinta selalu terpisah dengan ujiannya masing-masing? Ada yang tau? Komen yuk, ditunggu.
BERSAMBUNG
__ADS_1