
Akhirnya Michael berhasil menemukan Milley palsu alias Viola. Melihat Viola keluar dari kamar sebuah hotel, senyum Michael terbit. Tidak perlu waktu yang lama, ia berhasil menahan lengan Viola yang hendak pergi.
"Milley, aku berhasil menemukan tempat tinggal kamu," ucap Michael dengan tersenyum penuh cinta.
Viola yang sudah hafal dengan suara Michael segera menoleh. Demi mendapatkan kesembuhan Michael, kini ia berusaha untuk memainkan peran sebagai Milley palsu. Sebuah hal yang sangat dibenci olehnya, tetapi ia menganggap semua hal yang terjadi harus sesuai ucapan si A.
"Jalan-jalan, yuk. Kita kencan!" ajak Michael sambil terkikik.
Akhirnya tanpa sebuah perlawanan, Viola menyetujui ajakan Michael. Ia pasrah ketika tangannya ditarik paksa masuk mobil.
"Asalkan aku tidak ia apa-apakan dan kelakuannya masih tahap wajar. Sepertinya memainkan peran sebagai Milley tidak apa-apa," gumam Viola.
Mobil melaju cepat membelah jalanan Ibu Kota. Akan tetapi Michael yang masih setia memandang jalanan di depannya memancarkan aura lelaki tangguh. Viola sempat terhipnotis saat itu. Entah kenapa wajah Michael bersinar malam itu.
"Sungguh, kau adalah wanita paling bahagia Milley jika kau bisa bersanding dengan Michael saat ini. Sayang, keberadaannya pun tidak ia ketahui."
Sesekali Viola mencuri pandang, lalu ketika Michael hendak menatap balik dirinya, ia membuang muka. Sepertinya Michael tau jika dirinya memperhatikannya sejak tadi.
"Mam-pus lah kalau sampai dia tau sejak tadi aku mencuri pandang ke arahnya."
Akan tetapi bermain hal yang memacu adrenalin seperti ini membuat Viola menemukan hal lain tentang sisi lain Michael. Mungkin laju mobilnya sangat cepat, hingga tidak tau jika orang di dalam sana bukannya sedang balap mobil melainkan hanya melakukan sebuah hobby.
Secara mau tidak mau maka Viola akan merencanakan sebuah cara, agar nanti Michael bisa memaksanya untuk segera pulang.
Ucapan penyemangat memang selalu ia ucapkan ketika ia berada di titik tersudut di hidupnya. Belum sempat ia kembali menikmati pemandangan malam, mobil yang dikendarai Michael telah sampai di sebuah taman yang indah.
"Sudah sampai."
Michael kini tersenyum manis ke arah Viola. Hal itu membuat Viola semakin blushing.
"Kenapa dia terlihat manis?" gumam Viola.
Ternyata perlakuan manis dari Michael tidak berhenti di situ. Ia membukakan pintu untuknya dengan tersenyum.
"Silakan Tuan Putri."
"Wkwkwk, makasih kakak."
Semakin malam, udaranya semakin dingin. Michael yang tidak rela melihat Milley palsu menggigil, segera mengajaknya pulang.
"Sebaiknya kita pulang, nggak baik anak gadis pulang malam-malam."
Sontak Milley menonyor perut Michael hingga ia mengaduh.
"Aduh, sakit Milley."
"Sakit, kok senyum!" cibir Milley.
Milley akhirnya berjalan lebih dulu, lalu baru sesudahnya Michael menyusulnya. Namun, Milley semakin mempercepat langkahnya.
"Harusnya kalau tau udah larut malam, nggak pakai ngajak kesini, Kakak!" ucap Milley dengan nada bercanda.
Michael sempat melihat senyuman Milley saja sudah senang, apalagi bisa menghabiskan malam minggu bersamanya. Tidak mau ditinggal, Michael segera mengejar Milley.
Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Jadi, kamu menyalahkan aku, nih."
"Wkwkwk, enggak, cuma suka aja ngerjain Kakak."
Michael yang gemas, menoel ujung hidung Milley.
"Tetapi makasih ya, sudah mau menemani malam minggu ini."
"Sama-sama."
BELUM REVISI
Akhirnya Michael berhasil menemukan Milley palsu alias Viola. Melihat Viola keluar dari kamar sebuah hotel, senyum Michael terbit. Tidak perlu waktu yang lama, ia berhasil menahan lengan Viola yang hendak pergi.
"Milley, aku berhasil menemukan tempat tinggal kamu," ucap Michael dengan tersenyum penuh cinta.
Viola yang sudah hafal dengan suara Michael segera menoleh. Demi mendapatkan kesembuhan Michael, kini ia berusaha untuk memainkan peran sebagai Milley palsu. Sebuah hal yang sangat dibenci olehnya, tetapi ia menganggap semua hal yang terjadi harus sesuai ucapan si A.
"Jalan-jalan, yuk. Kita kencan!" ajak Michael sambil terkikik.
Akhirnya tanpa sebuah perlawanan, Viola menyetujui ajakan Michael. Ia pasrah ketika tangannya ditarik paksa masuk mobil.
"Asalkan aku tidak ia apa-apakan dan kelakuannya masih tahap wajar. Sepertinya memainkan peran sebagai Milley tidak apa-apa," gumam Viola.
Mobil melaju cepat membelah jalanan Ibu Kota. Akan tetapi Michael yang masih setia memandang jalanan di depannya memancarkan aura lelaki tangguh. Viola sempat terhipnotis saat itu. Entah kenapa wajah Michael bersinar malam itu.
"Sungguh, kau adalah wanita paling bahagia Milley jika kau bisa bersanding dengan Michael saat ini. Sayang, keberadaannya pun tidak ia ketahui."
Sesekali Viola mencuri pandang, lalu ketika Michael hendak menatap balik dirinya, ia membuang muka. Sepertinya Michael tau jika dirinya memperhatikannya sejak tadi.
"Mam-pus lah kalau sampai dia tau sejak tadi aku mencuri pandang ke arahnya."
Akan tetapi bermain hal yang memacu adrenalin seperti ini membuat Viola menemukan hal lain tentang sisi lain Michael. Mungkin laju mobilnya sangat cepat, hingga tidak tau jika orang di dalam sana bukannya sedang balap mobil melainkan hanya melakukan sebuah hobby.
Secara mau tidak mau maka Viola akan merencanakan sebuah cara, agar nanti Michael bisa memaksanya untuk segera pulang.
Ucapan penyemangat memang selalu ia ucapkan ketika ia berada di titik tersudut di hidupnya. Belum sempat ia kembali menikmati pemandangan malam, mobil yang dikendarai Michael telah sampai di sebuah taman yang indah.
"Sudah sampai."
Michael kini tersenyum manis ke arah Viola. Hal itu membuat Viola semakin blushing.
"Kenapa dia terlihat manis?" gumam Viola.
Ternyata perlakuan manis dari Michael tidak berhenti di situ. Ia membukakan pintu untuknya dengan tersenyum.
"Silakan Tuan Putri."
"Wkwkwk, makasih kakak."
Semakin malam, udaranya semakin dingin. Michael yang tidak rela melihat Milley palsu menggigil, segera mengajaknya pulang.
"Sebaiknya kita pulang, nggak baik anak gadis pulang malam-malam."
__ADS_1
Sontak Milley menonyor perut Michael hingga ia mengaduh.
"Aduh, sakit Milley."
"Sakit, kok senyum!" cibir Milley.
Milley akhirnya berjalan lebih dulu, lalu baru sesudahnya Michael menyusulnya. Namun, Milley semakin mempercepat langkahnya.
"Harusnya kalau tau udah larut malam, nggak pakai ngajak kesini, Kakak!" ucap Milley dengan nada bercanda.
Michael sempat melihat senyuman Milley saja sudah senang, apalagi bisa menghabiskan malam minggu bersamanya. Tidak mau ditinggal, Michael segera mengejar Milley.
Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Jadi, kamu menyalahkan aku, nih."
"Wkwkwk, enggak, cuma suka aja ngerjain Kakak."
Michael yang gemas, menoel ujung hidung Milley.
"Tetapi makasih ya, sudah mau menemani malam minggu ini."
"Sama-sama."
Akhirnya Michael berhasil menemukan Milley palsu alias Viola. Melihat Viola keluar dari kamar sebuah hotel, senyum Michael terbit. Tidak perlu waktu yang lama, ia berhasil menahan lengan Viola yang hendak pergi.
"Milley, aku berhasil menemukan tempat tinggal kamu," ucap Michael dengan tersenyum penuh cinta.
Viola yang sudah hafal dengan suara Michael segera menoleh. Demi mendapatkan kesembuhan Michael, kini ia berusaha untuk memainkan peran sebagai Milley palsu. Sebuah hal yang sangat dibenci olehnya, tetapi ia menganggap semua hal yang terjadi harus sesuai ucapan si A.
"Jalan-jalan, yuk. Kita kencan!" ajak Michael sambil terkikik.
Akhirnya tanpa sebuah perlawanan, Viola menyetujui ajakan Michael. Ia pasrah ketika tangannya ditarik paksa masuk mobil.
"Asalkan aku tidak ia apa-apakan dan kelakuannya masih tahap wajar. Sepertinya memainkan peran sebagai Milley tidak apa-apa," gumam Viola.
Mobil melaju cepat membelah jalanan Ibu Kota. Akan tetapi Michael yang masih setia memandang jalanan di depannya memancarkan aura lelaki tangguh. Viola sempat terhipnotis saat itu. Entah kenapa wajah Michael bersinar malam itu.
"Sungguh, kau adalah wanita paling bahagia Milley jika kau bisa bersanding dengan Michael saat ini. Sayang, keberadaannya pun tidak ia ketahui."
Sesekali Viola mencuri pandang, lalu ketika Michael hendak menatap balik dirinya, ia membuang muka. Sepertinya Michael tau jika dirinya memperhatikannya sejak tadi.
"Mam-pus lah kalau sampai dia tau sejak tadi aku mencuri pandang ke arahnya."
Akan tetapi bermain hal yang memacu adrenalin seperti ini membuat Viola menemukan hal lain tentang sisi lain Michael. Mungkin laju mobilnya sangat cepat, hingga tidak tau jika orang di dalam sana bukannya sedang balap mobil melainkan hanya melakukan sebuah hobby.
Secara mau tidak mau maka Viola akan merencanakan sebuah cara, agar nanti Michael bisa memaksanya untuk segera pulang.
Ucapan penyemangat memang selalu ia ucapkan ketika ia berada di titik tersudut di hidupnya. Belum sempat ia kembali menikmati pemandangan malam, mobil yang dikendarai Michael telah sampai di sebuah taman yang indah.
"Sudah sampai."
Michael kini tersenyum manis ke arah Viola. Hal itu membuat Viola semakin blushing.
"Kenapa dia terlihat manis?" gumam Viola.
Ternyata perlakuan manis dari Michael tidak berhenti di situ. Ia membukakan pintu untuknya dengan tersenyum.
"Silakan Tuan Putri."
"Wkwkwk, makasih kakak."
Semakin malam, udaranya semakin dingin. Michael yang tidak rela melihat Milley palsu menggigil, segera mengajaknya pulang.
"Sebaiknya kita pulang, nggak baik anak gadis pulang malam-malam."
Sontak Milley menonyor perut Michael hingga ia mengaduh.
"Aduh, sakit Milley."
"Sakit, kok senyum!" cibir Milley.
Milley akhirnya berjalan lebih dulu, lalu baru sesudahnya Michael menyusulnya. Namun, Milley semakin mempercepat langkahnya.
"Harusnya kalau tau udah larut malam, nggak pakai ngajak kesini, Kakak!" ucap Milley dengan nada bercanda.
Michael sempat melihat senyuman Milley saja sudah senang, apalagi bisa menghabiskan malam minggu bersamanya. Tidak mau ditinggal, Michael segera mengejar Milley.
Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Jadi, kamu menyalahkan aku, nih."
"Wkwkwk, enggak, cuma suka aja ngerjain Kakak."
Michael yang gemas, menoel ujung hidung Milley.
"Tetapi makasih ya, sudah mau menemani malam minggu ini."
"Sama-sama."
Akhirnya Michael berhasil menemukan Milley palsu alias Viola. Melihat Viola keluar dari kamar sebuah hotel, senyum Michael terbit. Tidak perlu waktu yang lama, ia berhasil menahan lengan Viola yang hendak pergi.
"Milley, aku berhasil menemukan tempat tinggal kamu," ucap Michael dengan tersenyum penuh cinta.
Viola yang sudah hafal dengan suara Michael segera menoleh. Demi mendapatkan kesembuhan Michael, kini ia berusaha untuk memainkan peran sebagai Milley palsu. Sebuah hal yang sangat dibenci olehnya, tetapi ia menganggap semua hal yang terjadi harus sesuai ucapan si A.
"Jalan-jalan, yuk. Kita kencan!" ajak Michael sambil terkikik.
Akhirnya tanpa sebuah perlawanan, Viola menyetujui ajakan Michael. Ia pasrah ketika tangannya ditarik paksa masuk mobil.
"Asalkan aku tidak ia apa-apakan dan kelakuannya masih tahap wajar. Sepertinya memainkan peran sebagai Milley tidak apa-apa," gumam Viola.
Mobil melaju cepat membelah jalanan Ibu Kota. Akan tetapi Michael yang masih setia memandang jalanan di depannya memancarkan aura lelaki tangguh. Viola sempat terhipnotis saat itu. Entah kenapa wajah Michael bersinar malam itu.
"Sungguh, kau adalah wanita paling bahagia Milley jika kau bisa bersanding dengan Michael saat ini. Sayang, keberadaannya pun tidak ia ketahui."
Sesekali Viola mencuri pandang, lalu ketika Michael hendak menatap balik dirinya, ia membuang muka. Sepertinya Michael tau jika dirinya memperhatikannya sejak tadi.
"Mam-pus lah kalau sampai dia tau sejak tadi aku mencuri pandang ke arahnya."
__ADS_1
Akan tetapi bermain hal yang memacu adrenalin seperti ini membuat Viola menemukan hal lain tentang sisi lain Michael. Mungkin laju mobilnya sangat cepat, hingga tidak tau jika orang di dalam sana bukannya sedang balap mobil melainkan hanya melakukan sebuah hobby.
Secara mau tidak mau maka Viola akan merencanakan sebuah cara, agar nanti Michael bisa memaksanya untuk segera pulang.
Ucapan penyemangat memang selalu ia ucapkan ketika ia berada di titik tersudut di hidupnya. Belum sempat ia kembali menikmati pemandangan malam, mobil yang dikendarai Michael telah sampai di sebuah taman yang indah.
"Sudah sampai."
Michael kini tersenyum manis ke arah Viola. Hal itu membuat Viola semakin blushing.
"Kenapa dia terlihat manis?" gumam Viola.
Ternyata perlakuan manis dari Michael tidak berhenti di situ. Ia membukakan pintu untuknya dengan tersenyum.
"Silakan Tuan Putri."
"Wkwkwk, makasih kakak."
Semakin malam, udaranya semakin dingin. Michael yang tidak rela melihat Milley palsu menggigil, segera mengajaknya pulang.
"Sebaiknya kita pulang, nggak baik anak gadis pulang malam-malam."
Sontak Milley menonyor perut Michael hingga ia mengaduh.
"Aduh, sakit Milley."
"Sakit, kok senyum!" cibir Milley.
Milley akhirnya berjalan lebih dulu, lalu baru sesudahnya Michael menyusulnya. Namun, Milley semakin mempercepat langkahnya.
"Harusnya kalau tau udah larut malam, nggak pakai ngajak kesini, Kakak!" ucap Milley dengan nada bercanda.
Michael sempat melihat senyuman Milley saja sudah senang, apalagi bisa menghabiskan malam minggu bersamanya. Tidak mau ditinggal, Michael segera mengejar Milley.
Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Jadi, kamu menyalahkan aku, nih."
"Wkwkwk, enggak, cuma suka aja ngerjain Kakak."
Michael yang gemas, menoel ujung hidung Milley.
"Tetapi makasih ya, sudah mau menemani malam minggu ini."
"Sama-sama."
Akhirnya Michael berhasil menemukan Milley palsu alias Viola. Melihat Viola keluar dari kamar sebuah hotel, senyum Michael terbit. Tidak perlu waktu yang lama, ia berhasil menahan lengan Viola yang hendak pergi.
"Milley, aku berhasil menemukan tempat tinggal kamu," ucap Michael dengan tersenyum penuh cinta.
Viola yang sudah hafal dengan suara Michael segera menoleh. Demi mendapatkan kesembuhan Michael, kini ia berusaha untuk memainkan peran sebagai Milley palsu. Sebuah hal yang sangat dibenci olehnya, tetapi ia menganggap semua hal yang terjadi harus sesuai ucapan si A.
"Jalan-jalan, yuk. Kita kencan!" ajak Michael sambil terkikik.
Akhirnya tanpa sebuah perlawanan, Viola menyetujui ajakan Michael. Ia pasrah ketika tangannya ditarik paksa masuk mobil.
"Asalkan aku tidak ia apa-apakan dan kelakuannya masih tahap wajar. Sepertinya memainkan peran sebagai Milley tidak apa-apa," gumam Viola.
Mobil melaju cepat membelah jalanan Ibu Kota. Akan tetapi Michael yang masih setia memandang jalanan di depannya memancarkan aura lelaki tangguh. Viola sempat terhipnotis saat itu. Entah kenapa wajah Michael bersinar malam itu.
"Sungguh, kau adalah wanita paling bahagia Milley jika kau bisa bersanding dengan Michael saat ini. Sayang, keberadaannya pun tidak ia ketahui."
Sesekali Viola mencuri pandang, lalu ketika Michael hendak menatap balik dirinya, ia membuang muka. Sepertinya Michael tau jika dirinya memperhatikannya sejak tadi.
"Mam-pus lah kalau sampai dia tau sejak tadi aku mencuri pandang ke arahnya."
Akan tetapi bermain hal yang memacu adrenalin seperti ini membuat Viola menemukan hal lain tentang sisi lain Michael. Mungkin laju mobilnya sangat cepat, hingga tidak tau jika orang di dalam sana bukannya sedang balap mobil melainkan hanya melakukan sebuah hobby.
Secara mau tidak mau maka Viola akan merencanakan sebuah cara, agar nanti Michael bisa memaksanya untuk segera pulang.
Ucapan penyemangat memang selalu ia ucapkan ketika ia berada di titik tersudut di hidupnya. Belum sempat ia kembali menikmati pemandangan malam, mobil yang dikendarai Michael telah sampai di sebuah taman yang indah.
"Sudah sampai."
Michael kini tersenyum manis ke arah Viola. Hal itu membuat Viola semakin blushing.
"Kenapa dia terlihat manis?" gumam Viola.
Ternyata perlakuan manis dari Michael tidak berhenti di situ. Ia membukakan pintu untuknya dengan tersenyum.
"Silakan Tuan Putri."
"Wkwkwk, makasih kakak."
Semakin malam, udaranya semakin dingin. Michael yang tidak rela melihat Milley palsu menggigil, segera mengajaknya pulang.
"Sebaiknya kita pulang, nggak baik anak gadis pulang malam-malam."
Sontak Milley menonyor perut Michael hingga ia mengaduh.
"Aduh, sakit Milley."
"Sakit, kok senyum!" cibir Milley.
Milley akhirnya berjalan lebih dulu, lalu baru sesudahnya Michael menyusulnya. Namun, Milley semakin mempercepat langkahnya.
"Harusnya kalau tau udah larut malam, nggak pakai ngajak kesini, Kakak!" ucap Milley dengan nada bercanda.
Michael sempat melihat senyuman Milley saja sudah senang, apalagi bisa menghabiskan malam minggu bersamanya. Tidak mau ditinggal, Michael segera mengejar Milley.
Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Jadi, kamu menyalahkan aku, nih."
"Wkwkwk, enggak, cuma suka aja ngerjain Kakak."
Michael yang gemas, menoel ujung hidung Milley.
"Tetapi makasih ya, sudah mau menemani malam minggu ini."
__ADS_1
"Sama-sama."