
Akhirnya hari ini Jord diantar jemput oleh Rain. Terlebih lagi di toko banyak pesanan untuk Milley sehingga ia tidak bisa mengantar jemput putranyaitu. Untung saja Jord adalah anak yang pandai dan pengertian.
Selama ibuya sibuk sebisa mungkin ia akan membantu dengan tidak berbuat onar. Namun ia juga irit bicara sama seperti Dylan sewaktu kecil. Sehingga terkadang butuh ilmu batin untuk membaca isi hatinya.
Sepulang sekolah dalam perjalanan pulang. Karena ingin tahu apa isi hati Jord, maka Rain yang penasaran segera bertanya pada anak kecil itu.
"Jord, apa kamu tidak merindukan Papa kamu? atau setidaknya ingin bertanya ke mana ayahmu pergi, gitu?' tanya Rain.
"Tidak, aku sangat percaya pada ucapan Mama. Lagi pula Papa pergi demi perusahaan dan orang banyak," jawabnya lugas.
"Oh."
"Jadi untuk apa aku mencari tahu hal lain? Bukankah itu urusan orang dewasa?"
Glek
Rain menelan salivanya dengan susah payah.
"Bagaimana bisa anak sekecil itu bisa berpikir jauh?" gumam Rain terkejut.
"Iya juga sih."
__ADS_1
"Lagi pula, aku juga yakin papa pasti bisa menyelesaikan permasalahan di kantor."
"Good, aku setuju denganmu."
Setelah itu, selama perjalanan tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Hanya keheningan yang terjadi di sana.
Sebenarnya memang ada sesuatu hal yang mengganjal di hati Jord, namun ia memendamnya sendirian.
Di sekolah Jord adalah seseorang anak laki-laki yang di idola-kan oleh para teman-teman wanitanya. Selain kepandaian Jord yang diatas rata-rata, ia juga berwajah tampan mewarisi ketampanan dari Dylan. Sehingga banyak anak-anak perempuan se-usia Jord yang sangat menyukai dia.
Begitu pula dengan para gurunya, mereka sangat percaya jika Jord itu memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Sehingga jika ada perlombaan apapun, pasti Jord akan diikutsertakan di dalamnya.
Sebuah hal yang membanggakan jika mempunyai anak yang berprestasi seperti Jord. Segala perjuangan yang telah dilakukan oleh Milley mampu membawanya tumbuh menjadi anak cerdas dan berbudi pekerti luhur.
Sementara itu di Kediaman Tuan Chryst saat ini, ia sedang mengintrogasi Dylan. Tatapan tajam menghunus ke arahnya.
"Bagaimana bisa ka menyembunyikan hal sepenting ini?" ucapnya penih selidik.
"Maafkan aku, Kek. Tapi ini demi kebaikan kita semua juga untuk keselamatan Milley dan Jord."
Tuan Chryst mendengus kesal mendengar ucapan dari cucunya tersebut. Bagaimana bisa ia menyembunyikan hal sepenting ini darinya. Padahal hal ini sudah ya tunggu selama lima tahun.
__ADS_1
Ia juga heran kenapa selama lima tahun pencarian ini tidak ada perkembangan yang signifikan tentang pencarian Milley dan Jord. Namun, setidaknya ia masih bisa bersyukur karena kedua orang yang sangat ia cintai itu bisa selamat dari kecelakaan tragis saat itu.
Meskipun banyak yang mengatakan jika Milley dan putranya sudah meninggal, tetapi ada sebuah keyakinan di hati Tuan Christ tentang kehidupan mereka. Kabarnya saat itu Milley diselamatkan oleh seorang pemulung.
Namun, lagi-lagi pengemis itu juga hilang seperti saat ia kehilangan Milley dan Jord. Beruntung ternyata pengemis itu benar-benar menolong Milley dan Jord. Bahkan mendampinginya selama lima tahun ini.
Seetlah cukup lama berkelana dengan lamunanya, Tuan Chryst kembali bertanya pada Dylan.
"Apakah benar Milley tinggal dengan pemulung itu selama lima tahun ini?" tanya Tuan Chryst.
"Iya, Kek. Ia memang tinggal dengan Rain. Oh ya nama pengemis itu adalah Rain. Ia yang selama ini mendampingi Milley selama lima tahun. Rain pula seringkali membantu untuk mengantar jemput Jord saat sekolah," terang Dylan.
Ucapan Dylan membuat Kakek menaruh sebuah harapan kepadanya.
"Apakah cucuku sudah sekolah? tanya Tuan Chryst dengan senyuman yang merekah.
"Tentu saja, meskipun ia baru berusia lima tahun dan baru sekolah di tingkat pertama, namun ... kecerdasannya patut kakek apresiasi."
"Oh, ya?"
"Tentu saja iya karena aku yakin dia mewarisi otaku yang jenius dan juga perpaduanku dengan Milley," capnya bangga.
__ADS_1
"Dasar anak muda sombong, begitu juga ia juga mewarisi kecerdasanku, kau kira kecerdasan itu menurun dari siapa bocah bo-doh!"
"Wkwkwk, iya Kakek yang terhormat."