
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Lena sudah siuman. Wajahnya masih tampak pucat dan tidak bertenaga. Raut ketakutan masih terlihat jelas, tetapi Milley menyakinkan dirinya akan baik-baik saja.
"Bu, selama ada Milley di sini sama Michael, semua akan baik-baik saja, percaya sama Milley."
"Iya, tetapi ...."
Lena tampak ragu mengatakan apa yang mengganjal di hatinya saat ini. Terlebih status Milley saat ini sudah terlepas dari Dylan.
"Jika aku mengatakan semuanya, apakah Milley akan memaafkanku?"
Lena menjadi dilema saat ini. Rahasia dari masa lalunya masih tersimpan rapat saat ini. Hanya Lena, dan Andreas yang tahu akan hal ini.
Lena memegang dadanya, menunduk untuk sesaat sebelum ia mengatakan apa saja yang mengganjal di hatinya. Namun sebelum semuanya terjadi, pintu ruang rawatnya terbuka.
Ternyata para medis menginginkan jika Lena diberikan waktu untuk beristirahat lebih lama lagi. Hal itu untuk memudahkan mereka mengecek kondisi Lena.
"Maaf Nona, pasien membutuhkan waktu yang lebih lama untuk beristirahat, jadi sebaiknya Anda keluar terlebih dahulu."
"Oh, oke Suster."
Milley memandang wajah Lena untuk sesaat, lalu kemudian berpamitan padanya.
"Bu, maafkan Milley ya. Sekarang Ibu istirahat saja dulu, aku dan Michael akan menunggu di luar."
__ADS_1
"Iya, Sayang. Maafkan Ibu ya, karena telah merepotkanmu."
Milley tersenyum, "Nggak apa-apa, Ibu fokus istirahat saja. Kami ada di luar buat nungguin Ibu."
Lena mengangguk, lalu semua orang di ruangan itu segera keluar, agar pasien benar-benar istirahat sekarang.
🍂 Kediaman Rebecca.
"Kemana perginya lelaki tidak berguna itu? Kenapa susah sekali membuatnya bisa bertahan di rumah?"
Rebecca baru menyadari jika Andreas tidak berada di rumah, sejak tadi lagi. Selepas sarapan, ia tidak juga menemukan suaminya tersebut. Rebbeca mengira jika Andreas jogging di kompleks seperti biasanya, tetapi dugaannya salah. Ia sama sekali tidak menemukannya setelah itu.
Sayang sekali, padahal ada beberapa hal yang harus ia diskusikan padanya. Terlebih ini untuk bisnisnya.
"Kenapa dia diam-diam pergi, apakah ada yang ia sembunyikan padaku?"
Rebbeca tidak henti-hentinya mengomel karena hal tersebut. Ia tampak mondar-mandir di ruang baca, lalu sesaat kemudian datanglah seorang mata-matanya datang melapor.
"Selamat siang, Nyonya. Sepertinya Tuan Andreas tidak berada di kota ini. Beliau tidak dapat diakses keberadaannya sama sekali."
"Sudahlah, biarkan saja. Sekarang antarkan aku pergi mengunjungi menantuku, saja."
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Rebbeca menyambar tas miliknya lalu bergegas pergi ke rumah Dylan. Entah kenapa, sejak kejadian tempo hari, ia merasa was-was dengan tingkah Rose yang ingin menyakiti buah hatinya.
Di dalam mobil.
"Kenapa Rose, sepertinya tidak menginginkan kehamilannya? Padahal itu hasil hubungannya dengan Dylan?"
Belum sempat mobil melaju jauh, tiba-tiba laju kendaraannya terhenti karena ada seseorang yang menghentikan. Mobil yang berhenti tiba-tiba, hampir saja membuat kening Rebecca terantuk kursi kemudi di depannya.
"Hei! Kenapa kalian menghentikan laju mobil mendadak, apa ingin membunuhku?" ucap Rebecca penuh amarah.
Sementara itu sang sopir hanya bisa menunjuk ke arah depan, di mana ada sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan mobilnya. Kening Rebecca berkerut, ia menajamkan pandangannya.
"Siapa mereka? Kenapa berani sekali menghentikan laju mobilku?" gumam Rebecca.
Namun, entah kenapa hatinya berdesir aneh. Ada rasa ketakutan yang tiba-tiba saja menghampirinya ketika salah satu dari mereka keluar dari dalam mobil.
.
.
Lalu siapakah dia?
.
__ADS_1
.
...🌹Bersambung🌹...