NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 69. KAMU SIAPA


__ADS_3

Selama beberapa hari tinggal bersama Tuan Chryst membuat Dylan sudah terbiasa. Meski ingatannya belum pulih, tetapi ia tau jika Tuan Chryst adalah kakeknya. Ia juga sudah diperkenalkan dengan Jo dan Nanni.


Untuk kehadiran Rose, ia baru merasakannya saat ini, tetapi tetap saja rasa cinta sama sekali tidak muncul di dalam hati Dylan.


Namun, entah kenapa setiap kali melihat Rose, sama sekali tidak ada cinta untuknya. Yang ia tau Rose adalah calon istrinya dan kini ia boleh berkunjung ke kediaman Tuan Chryst. Selebihnya tidak ada rasa di sana.


"Apa yang kamu pikirkan, Dylan? Kenapa kamu begitu murung?"


Entah sejak kapan Rose muncul dan berdiri di samping kolam untuk menemani Dylan. Saat ini Dylan sedang menatap ke arah kolam, sementara itu kakinya ia masukkan ke dalam air sambil sesekali bermain di sana. Kehadiran Rose sebenarnya sedikit mengganggu, tetapi ia tidak punya teman saat ini jadi membiarkan dia tetap berada di sana sepertinya tidak apa-apa.


"Kamu mau apa kemari?"


"Menemani kamu," ucapnya sambil tersenyum.


Kali ini, Rose sudah mengecat rambutnya dengan warna hitam. Ia tampak lebih Indonesia kali ini daripada beberapa waktu yang lalu. Meskipun ia blasteran Australia-Indonesia, tetapi darah luarnya lebih dominan, sehingga rambut aslinya sedikit pirang.


Sejak Dylan amnesia, Rose memilih untuk mengecat rambutnya dengan warna hitam sama seperti rambut Milley. Mungkin Rose tidak tahu kalau hal ini membuatnya mirip seperti Milley.


Namun, ia sangat bahagia karena Milley sudah pergi menjauh dari kehidupan Dylan. Ia juga belum terlihat untuk saat ini. Baginya bersama Dylan seperti ini lebih dari cukup. Meski kehamilannya sudah berusia hampir sembilan minggu, tetapi ia berhasil menutupinya.


Tuan Chryst memang melarang Rose untuk tidak memberitahukan hal ini dalam waktu dekat. Tentu saja agar Dylan bisa membuka diri untuk kehadiran Rose. Namun, Tuan Chryst menjamin jika pernikahan mereka akan tetap dilangsungkan satu minggu lagi.


Sementara itu, Milley dan Michael sedang dalam perjalanan ke rumah Tuan Chryst. Lima jam yang lalu mereka sudah sampai di Indonesia, karena takut kelelahan, Michael meminta agar Milley beristirahat terlebih dahulu sebelum mengunjungi Dylan.


Terlihat wajah Milley memucat, jari-jemari tangannya terlihat mere-mas ujung kemeja yang ia kenakan. Michael yang melihat hal tersebut lalu mencoba menyalurkan sebuah ketenangan di sana.


"Bagaimana, mau lanjut atau pulang?"

__ADS_1


"Lanjut, Kak."


Milley berharap-harap cemas, lalu menoleh ke arah Michael. "Kak, nanti kalau situasi tidak kondusif, bisakah kita berpura-pura untuk menjadi sepasang kekasih?"


"Tentu, bahkan jika perlu kita bilang saja kita kembali ke Indonesia untuk melakukan foto pre-wedding."


"Wah, ide yang bagus, aku setuju," ucap Milley senang.


Meskipun begitu, rasa tidak nyaman masih sangat terasa di dada. Milley yang suka bercanda seketika menjadi pendiam. Michael memahami hal tersebut.


Tidak mereka duga, mobil yang mereka kendarai sudah sampai di Kediaman Tuan Chryst. Kebetulan Nanni berada di halaman rumah. Ia begitu terkejut ketika melihat Nona Muda mereka sudah kembali.


"Nona Milley?" sapa Nanni sambil membungkuk hormat.


Milley tersenyum lalu bersalaman dengannya.


"Alhamdulilah baik, Non. Eh ada Tuan Michael, selamat datang Tuan."


"Terima kasih, Nanni. Oh, ya Tuan Chryst ada?"


"Kebetulan belum pulang dari kantor, Tuan. Bagaimana kalau Tuan dan Nona masuk dulu."


"Baiklah. Dylan ada di rumah, kah?"


"Ada, kebetulan Tuan Dylan ada di halaman belakang, mari saya antar."


"Terima kasih banyak."

__ADS_1


Dengan telaten, Nanni mengantar Nona Mudanya untuk pergi ke halaman belakang. Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi di sana. Rose dan Dylan tanpa merasa malu malah asyik bercumbu di bibir kolam.


Sontak, Milley memundurkan langkahnya. Akan tetapi, kakinya terpeleset.


"Argh ...." pekik Milley.


Beruntung, ada Milley yang berhasil menopang tubuhnya. Kedua orang yang sedang asyik bercumbu itu menoleh.


"Milley?" ucap Rose spontan.


"Siapa mereka?"


Deg.


Seketika jantung Milley terasa lepas. Dadanya bergemuruh hingga membuatnya kesulitan bernafas. Ia pun menutup mulutnya karena terkejut.


"Dylan? Rose!" sapa Michael.


Aura kemarahan begitu terpancar kali ini. Michael benar-benar tidak akan memaafkan Dylan untuk hal ini.


Apakah hal ini sudah menegaskan jika Dylan sudah melupakan Milley?


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


__ADS_2