NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 18. HADIAH UNTUK MILLEY


__ADS_3

Merasa diabaikan dan tidak diperhatikan oleh keluarganya sendiri membuat Dylan akhirnya menyusun sebuah rencana. Ia bahkan melupakan kedua orang tuanya kali ini. Mungkin karena sejak awal ia merasa tidak pernah dianggap, Dylan tidak memperdulikan ayah dan ibunya. Bahkan dengan polosnya yang berada di pikiran Dylan saat ini adalah Milley dan kakeknya.


"Siap-siap saja nanti!" ucapnya dengan geram.


Sementara itu Milley dan Tuan Chryst sedang berbicara di ruang baca. Ia meminta Milley untuk lebih memperhatikan Dylan setelah ini. Meskipun bingung, Milley mengiyakan permintaan dari Tuan Chryst.


Memang kemarin, ia yang mengatur semuanya. Ia tahu jika Milley keluar diam-diam, tetapi ia tidak akan menghukum Milley. Tuan Chryst hanya ingin memberikan pelajaran pada Dylan dengan adanya razia dadakan tersebut.


"Kamu nggak usah takut, mau kamu keluar berapa kali pun akan aku ijinkan, tetapi dengan satu syarat—"


"Syarat apa, Kek?" tanya Milley heran.


Tuan Chryst tersenyum, "Hanya ditambah dengan pengawalan sederhana, bukankah itu sebuah keberuntungan untukmu?"


"Ha-ah?"


Di dalam benak Milley banyang-bayang pengawalan sederhana ala Tuan Chryst terasa membuatnya pening. Ia takut jika Tuan Chryst semakin membatasi gerak-geriknya setelah ini.


"Cih, hanya bertemu kawan lama saja sampai berefek seperti ini?" gumam Milley.


"Tenanglah Nona, pengawalan tidak seperti yang kamu bayangkan. Mereka adalah pengawal khusus yang ditunjuk oleh Tuan Besar untuk Anda."


Selesai Jo berbicara, muncullah dua orang seusia Milley, satu seorang wanita, satunya lagi seorang laki-laki.


"Mereka adalah si kembar Lea dan Leo. Keduanya adalah sepupu Jo. Selama kamu melakukan kerja sama denganku, maka mereka berdua akan selalu bersamamu!"

__ADS_1


Seketika insting Virgo merasakan sesuatu yang tidak enak. "Semoga saja mereka tidak mempersulit langkahku setelah ini."


"Ada satu lagi kejutan untukmu, semoga kamu suka."


"Kejutan lagi?" ucap Milley terheran.


Sementara itu, Kakek Chryst tersenyum. Jo sepertinya biasanya tanpa ekspresi.


"Jo antar Milley ke kamarnya dan tunjukan hadiah kejutan untuknya."


"Siap Tuan," ucap Jo hormat.


Sepanjang perjalanan, pikiran Milley semakin berputar-putar. Namun, ia terkejut ketika telepon di rumahnya berdering.


"Silakan Nona Milley angkat."


"Ibu ...." ucap Milley tergugu.


Sepasang ibu dan anak itu saling melepas rindu. Namun, Lena mengatakan jika ia baik-baik saja saat ini.


Milley terduduk lemas di atas ranjangnya, lalu ketiga orang tersebut keluar dan memberikan privasi pada Milley.


"Kamu nggak usah khawatir, karena Ibu baik-baik saja. Jangan lupa belajar yang rajin, biar cepat lulus kuliahnya. Ingat kalau balapan jangan sering-sering. Ibu masih ingin punya cucu."


Milley tergelak akan ucapan Ibunya barusan. Bisabisantya beliau membayangkan hal yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Tunggu Nona di sini, aku akan kembali pada Tuan Besar."


"Siap!" jawab keduanya patuh.


Sementara itu Evan mencari jejak Milley dengan mengutus orang-orangnya. Ia begitu memikirkan Milley. Ia ingin tau Milley kuliah di mana dan sekarang tinggal di mana.


Sebenarnya saat ini dia sedang berada di luar kota demi pengobatan gagal jantungnya. Di detik-detik terakhir hidupnya, Evan ingin dekat dengan Milley kembali. Setidaknya ketika nanti ia berpulang ia memiliki kenangan yang indah bersama Milley.


Milley memang tidak tahu kondisi Evan yang mengalami gagal jantung. Karena yang ia tahu sejak operasi itu dia kan sudah sembuh, itulah yang dikatakan kedua orang tua Evan agar Milley tidak khawatir.


...🌹Bersambung🌹...


.


.


Sambil nunggu up mampir ke karya teman Fany ya



"Aku apa? ngomong yang jelas !" bentak Ali karena Ara justru diam.


"Aku mencintai Kamu.!" jawab Ara dengan lantang.


"Ha-ha-ha, lelucon macam apa itu? Jelas saja banyak wanita yang mencintai aku. Aku tampan, gagah dan juga berkarisma," Ali menjawab serta menertawakan gadis culun yang mengaku mencintai nya.

__ADS_1


"sedangkan, Kau? Aku yakin, tidak ada yang sudi dengan gadis culun sepertimu. Seharusnya kau berkaca dulu, Nona Gunawan !" lanjut Ali semakin menghina Ara. ucapannya sangat menusuk hati Ara.


"Sial, kenapa rasanya sakit sekali. Ketika kau dihina, oleh orang yang kau cintai Ara ! Luka ini bahkan lebih menyakitkan, dari pada Lukamu yang biasa kau dapatkan," batin Ara menahan sakit yang Ali berikan di hati nya.


__ADS_2