
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Rumah Sakit. Sejak insiden tadi, Jo langsung memanggil polisi dan ambulance. Sementara itu Rose pergi meninggalkan hotel tersebut dengan senyum mengembang. Baginya, melukai Milley bukanlah hal besar, tetapi jika Milley mati setidaknya ia akan menggantikan posisi itu.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan Dylan, maka jangan harap kamu juga mendapatkannya."
Rose terus melajukan mobilnya, sedangkan gawainya terus berbunyi. Seyum Rose yang sedari mengembang harus terganggu dering ponsel. Tentu saja Rebbeca yang menghubunginya.
"Pasti itu nenek sihir yang telepon!" gumam Rose.
Di dalam kamarnya Rebbeca terus mengumpat kesal, "Kemana perginya anak itu? Kenapa susah sekali menghubunginya?"
Rebecca terlihat tidak senang di dalam kamarnya. Ia berkali-kali bolak-balik seperti mencemaskan sesuatu. Padahal, Andreas juga berada di sana. Andreas yang jengah melihat tingkah istrinya, segera menegurnya.
"Kenapa kamu terlihar gusar? Bukankah kejadian tadi adalah idemu?"
Rebbeca menoleh kesal, "Tutup mulutmu, Mas. Kau tidak perlu mengatakan apapun di sini!"
"Oke, baiklah kalau itu yang kamu mau. Lakukan apapun yang kamu suka, tetapi jangan pernah melibatkanku!"
Andreas yang tadi duduk nyaman, kini sudah berdiri dan merapikan jasnya. Sebenarnya ia ingin istirahat, tetapi melihat Rebecca, rasa kantuknya tiba-tiba menguap dan membuatnya ingin pergi.
Rebecca yang sedang pusing menjadi semakin pusing akan tingkah suaminya. Sesaat kemudian ia pun mendudukkan dirinya di kursi.
"Sebaiknya aku menunggu kabar darinya dan tetap bersikap tenang. Lagi pula orang tua itu suka sekali bergerak diam-diam."
"Kalau bertindak dipikir lebih matang lagi, jangan mentang-mentang kamu selalu aku manja, kamu menjadi gila!" gertak Andreas.
Sontak mata Rebbeca melotot tajam ke arah suaminya. Ingin sekali ia menyumpal mulut Andreas, tetapi ia masih membutuhkannya sebagai bidak caturnya.
Andreas sudah memprediksi bahwa hal tersebut akan terjadi, tetapi ia ingin lihat sampai sejauh apa istrinya berani melukai anak kandungnya itu. Ia memang mempunyai sebuah rencana, tetapi ia ingin memastikan semuanya terlebih dahulu.
Andreas sangat yakin, jika sampai ia salah bertindak, ayahnya tidak akan pernah memberikan harta warisan kepadanya. Oleh karena itu, Andreas memilih untuk menjadi penonton saat ini.
"Sebaiknya aku menyusul ke Rumah Sakit!" ucapnya sambil melangkah ke luar kamar.
Saat Andreas pergi, ia sama sekali tidak beraksi, tetapi saat mendengar suara mobil melaju pergi, Rebbeca mengintip dari balkon kamarnya.
"Mau kemana laki-laki itu pergi? Apa untuk menjenguk calon menantunya?"
"Ah, biarkan saja! Biarkan ia bertindak semaunya."
Rebbeca membalikkan tubuhnya ke kamar. Lebih baik beristirahat saat ini daripada semakin pusing. Sementara itu Milley sedang menjalani operasi pengangkatan peluru dari lengannya.
Para tenaga medis sedang berjuang di dalam ruang operasi. Darah yang dikeluarkan Milley cukup banyak, sehingga membutuhkan transfusi. Beruntung, stok golongan darah masih cukup, sehingga tidak perlu meminta pendonor.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Milley?" tanya Tuan Chryst yang baru saja tiba.
"Masih dioperasi, Kek."
"Sabarlah!"
Tuan Chryst menepuk bahu Dylan dengan lembut. Berusaha untuk memberikan semangat dan dukungan kepadanya.
Ia sengaja datang terlambat karena harus membujuk Lena untuk kembali dan berpikiran tenang.
"Tapi, dia putriku? Harusnya kamu tau jika aku sangat menghawatirkannya?" ucap Lena dengan mata berkaca-kaca.
"Percayalah padaku, aku mohon beri aku kesempatan Lena."
Lena menatap jengah orang tua di depannya itu. Kalau ia tidak mengingat kebaikannya mungkin ia akan mencerca laki-laki tua itu. Namun, setelah sekian tahun ia datang dan meminta maaf untuk semua kesalahan anak dan istrinya.
"Baiklah, aku memberimu satu kesempatan lagi."
"Terima kasih, Lena."
Selepas membujuk Lena, ia menuju Rumah Sakit untuk menemui cucunya, Dylan. Saat sampai, Dylan benar-benar terlihat sangat kacau. Ia juga telah mengetahui jika kakeknya datang.
Dylan memandang kakeknya dengan tatapan sendu. "Apa pelakunya sudah diketemukan?"
"Sebentar lagi kita pasti bisa menemukannya, kakek berjanji!"
"Pasti."
Dylan terus menundukkan wajahnya. Tatapan matanya kosong, tetapi ada amarah yang terpendam di sana. Meskipun begitu ia tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
"Milley kamu harus bertahan!"
"Aku tau kamu kuat."
Satu jam telah berlalu, tetapi operasi tetap berjalan. Terlihat para tenaga medis sangat sibuk sekali dalam operasi kali ini. Banyak kejadian yang terjadi di hari itu, jadi Rumah Sakit terlihat sibuk dalam satu hari tersebut.
Di saat Tuan Chryst masih memikirkan nasib Milley, tiba-tiba masalah baru datang kembali. Lena dikabarkan pingsan karena Milley yang tidak kunjung siuman.
"Astaga, kenapa lagi wanita itu. Jo segera atasi Lena, berikan perawatan terbaik untuknya."
"Siap, Tuan Besar."
Setelah mendapatkan instruksi, Jo segera pergi. Meskipun begitu pengawalan di Rumah Sakit tetap diperketat. Siapa tau masih ada pelaku lain yang sedang menuju ke sana. Tuan Chryst dan Jo tidak mau mengambil resiko. Apalagi orang-orang penting semuanya ada di Rumah Sakit.
__ADS_1
Sepeninggal Jo, akhirnya datang beberapa pengawal tambahan. Bahkan satu unit lantai yang dipakai Milley untuk operasi sudah disterilkan. Kelihatannya sangat spesial di mata orang-orang, padahal memang keadaannya seperti itu.
Akhirnya sebuah keajaiban datang. Operasi selama satu setengah jam berlangsung dengan lancar. Seusai operasi, dokter yang memimpin operasi Milley keluar, Dylan segera menyambutnya.
"Ba-bagaimana keadaan pasien?"
"Pasien harus dirawat di ruang transisi terlebih dahulu, untuk memudahkan pengawasan dan penyembuhan pasien."
"Tapi pasien selamat, kan, dokter?"
"Semoga saja, tadi pasien banyak kehilangan darah, sehingga perlu transfusi. Namun, setelah ini pasien masih mengalami masa kritis dan kita tinggal menunggu keajaiban berlangsung, dimulai selama dua belas jam, mulai dari sekarang."
Melihat Dylan yang masih syok, Tuan Chryst mewakilinya untuk mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, dokter."
"Sama-sama. Kalau tidak ada yang ditanyakan, saya permisi."
Setelah dokter pergi, brankar yang berisi Milley segera dipindahkan ke ruang transisi. Dylan maupun keluarga yang lainnya tidak ada yang boleh mendekati pasien selama dua belas jam ke depan. Hanya keajaiban yang bisa membuat Milley membuka mata.
"Siapa yang melakukan ini, Kek?"
"Kakek juga tidak tahu, kamu yang kuat. Aku yakin Milley pasti bisa selamat."
Tuan Chryst menepuk bahu Dylan agar ia sedikit kuat menghadapi hal tersebut.
"Biarkan Kakek yang menyelidikinya, kamu tetap jaga Milley di sini!"
"Baik, Kek."
Dengan kekuatan yang dimiliki Tuan Chryst sebenarnya hal ini mudah diprediksi, tetapi ia belum menemukan bukti yang cukup, sehingga mau tidak mau ia tidak boleh gegabah dalam memutuskan.
Setelah mempelajari situasi, orang-orang kepercayaan Tuan Chryst mulai mengirimkan laporan secara berkala kepadanya. Tuan Chryst sangat teliti saat ini. Ia juga tidak akan mudah memutuskan sesuatu hal, karena ia tidak ingin Dylan atau celaka.
"Sebaiknya aku membuat berita lain untuk menutup kasus ini dari media."
.
.
Apakah Milley akan selamat? Akankah dalang di balik insiden tersebut dapat segera terbongkar?
.
__ADS_1
.
...🌹Bersambung🌹...