NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 99. BERSIAP


__ADS_3

"Bagaimana ini, kenapa ia belum siuman?"


Sosok lelaki yang terbiasa menemani Rose tersebut terlihat gusar. Kekasih hatinya belum juga terlihat pulih. Ia sangat menyesal karena telah membuat Rose seperti itu.


"Astaga, kenapa aku begitu bod*h hingga tidak menyadari jika semua ini terjadi karena keteledoran manusia."


Kini, Rose sedang dalam masa perawatan medis. Ambisi Rose yang terlalu menggebu mengakibatkan dirinya menjadi tersiksa sampai saat ini. Bahkan ia tidak menyadari jika saat ini, ada seorang putri.


Padahal saat ini calon suaminya selalu menjaganya selayaknya berlian.


Kedua matanya masih tertutup, tubuhnya terasa lemas, tetapi saat ia ingin membuka mata, nyatanya sangat susah dan terasa berat. Rose seolah sedang menikmati tidur panjangnya.


Di alam mimpi.


"Bagaimana kalian bisa betah tinggal di sini?" tanya Rose pada makhluk bertubuh kerdil.


Rose selalu dikelilingi makhluk-makhluk tersebut. Rasanya sangat menyenangkan saat mereka selalu bisa memenuhi semua permintaan darinya. Bagai seorang putri raja yang selalu dipenuhi keinginannya, ia hidup makmur.


Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena Rose sudah bisa membuka matanya lebar. Oleh karena itu semua impian dan bayangan semunya ia halau agar Rose bisa hidup dengan tenang.


Meskipun semuanya terasa rapi, dan suaminya


segera mengajak tamunya. Karena belum ada perubahan yang berarti maka Rose akhirnya tetap di bawa pulang. Lelaki itu tetap mempekerjakan seorang suster untuk menjaganya. Sementara lelaki tersebut tetap menjalankan kewajibannya sebagai CEO.


"Selama saya bekerja, saya berharap agar kalian semua bisa menjaga nyonya sebaik mungkin."


"Baik, Tuan."


Hampir seluruh pekerja di rumahnya memahami apa yang dilakukan oleh Tuannya tersebut. Setelah memastikan jika semuanya bisa berjalan lancar, maka ia akan pergi ke kantor dengan senang.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan kantor?"


"Semua berjalan normal, Tuan. Hanya saja mereka merasa tidak enak jika harus mengutus seorang utusan agar bisa bernegoisasi dengan Anda."


Lelaki tersebut tampak sangat mengerti keadaan dari Tuannya, tetapi ia harus menjalakan semua tugasnya dengan baik.


...***...


Seminggu setelah ia kembali dari Rumah Sakit.


Belum ada perubahan signifikan yang terjadi pada Rose. Ia memang sudah siuman, hanya saja ia tidak berani untuk mengucapkan atau pun bertanya tentang sesuatu hal.


Rose memang menginginkan jika ia kembali hidup, maka tidak akan ia mengenal cinta. Baginya cinta sejatinya telah mati, seiring ucapannya kapan hari, tetapi ia tidak ingin membebani. Maka dari itu mereka segera berlari-larian agar tidak tertangkap.


Namun, sepertinya ibu saya sedang membutuhkan uang banyak. Sehingga ucapan tersebut seolah masih dipergunakan dengan baik.


Bu yakan waktunya selalu ia habiskan dengan melamun dan melamun. Beruntung sesekali ia masih ingat untuk makan dan minum vitamin untuk kehamilannya.


Perutnya yang membesar membuatnya terlihat lucu dan menggemaskan. Badannya yang mungil tapi sintal sedikit banyak membuat Rose cantik alami. Apalagi ia berdarah blasteran seperti Milley. Hanya saja sifat keduanya yang jauh berbeda membuatnya terlihat arogan daripada Milley yang terlihat manis meskipun agak tomboy.


Calon suami Rose mendekati Rose karena panggilannya di abaikan. Meskipun begitu lelaki itu sama sekali tidak pernah sakit hati. Ia justru semakin menunjukkan perhatiannya pada Rose.


"Sayang, sedang apa di sini?"


Rose tidak menoleh, pandangannya tetap terkunci di depan sana. Hingga laki-laki tersebut segera mendorong kursi roda yang Rose pakai masuk kembali ke dalam kamar.


"Lebih baik aku membawanya ke kamar daripada terus seperti ini," gumam laki-laki itu.


Sambil berjalan, pikirannya selalu berputar-putar pada kesehatan Rose dan bayi yang berada di dalam kandungannya. Sesekali ia menelan ludah karena tidak bisa menahan hasratnya untuk mengajak Rose kembali bermain di atas ranjang.

__ADS_1


Akan tetapi peringatan dokter membuatnya tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa mengalah. Lagi pula keselamatan bayi dan Rose saat ini lebih penting dari segalanya.


"Biarlah waktu yang akan menyembuhkannya, aku bisa memiliki semua yang ada di hatinya, tetapi tidak bisa menyembuhkannya. Maka dari itu berilah hamba kesempatan, Tuhan," doa lelaki tersebut.


"Penyesalan memang datang terlambat untuk semuanya, tetapi aku tidak pernah menyesal telah menjadikan dirimu sebagai tempat untuk putraku tumbuh," ujar laki-laki tersebut.


Semua hanya menunggu soal waktu. Berawal dari rasa tidak suka Rose, jika Dylan memutuskan jalinan kisah cinta mereka. Membuat Rose kalap dan memilih jalan pintas untuk bisa kembali dekat dengan Dylan.


"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka jangan harap wanita lain bisa bersamamu, Dylan!" ujar Rose di dalam hati.


Sorot matanya kadang menyiratkan kebencian yang luar biasa, tetapi saat ini lebih banyak terlihat gambaran kosong yang ada di dalam penglihatannya.


Pada saat yang sama Virgo yang berganti nama menjadi Milley dipaksa masuk ke dalam hidupnya Dylan. Ia datang sebagai seorang gadis tomboy yang harus menjinakkan seorang Tuan Muda hanya demi ambisi sang kakek yang tidak mau harta kekayaannya berada di tangan yang salah.


Bahkan seorang kakeknya yang bernama Tuan Chryst rela membayar semua hutang piutang dari ayah Virgo, asalkan Virgo melakukan semua keinginannya tersebut. Jika ia berhasil ia bahkan akan mendapatkan imbalan beberapa persen dari saham yang tertulis di dalam sebuah map khusus.


"Kenapa harus saya?" ucap Virgo tanpa rasa takut sedikitpun.


"Karena hanya kamu yang mampu meluluhkan hati cucuku, aku bisa menjaminnya saat ini."


Sementara itu Tuan Chryst bahagia karena telah menemukan seseorang yang lebih dingin dibandingkan rasa keras kepala yang ia miliki sejak lahir.


Padahal harusnya ia jaga-jaga terhadap orang luar yang membantunya menjalankan rencananya. Mungkin inilah yang dinamakan takdir, meskipun sudah menghindar, hasilnya sama saja.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2