NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 168. PANIK


__ADS_3

Kejadian yang cepat dan mendadak itu benar-benar membuat Milley tidak sadarkan diri. Obat bius itu telah membuat Milley tertidur dalam waktu yang lama.


"Tolong wanita itu, masih ada orang lain di dalam mobil!" teriak salah seorang yang melihat Milley di sana.


Sesaat sebelum mobil Milley meledak dan kebakaran ada seorang laki-laki yang menyelamatkan Milley.


"Ya, Tuhan. Ijinkan aku untuk menolong wanita itu, Aamiin."


Ia membaca situasi sebelum benar-benar mendekati mobil. Ternyata dia lelaki yang pernah ditolong oleh Milley saat kesulitan.


Melihat sosok yang pernah menyelamatkan dirinya terancam, dengan penuh kehati-hatian ia berhasil menyelamatkan Milley dan segera membawanya pergi.


"Sebaiknya aku membawanya pergi, semoga saja ia segera siuman."


Sementara itu di kejauhan Dylan tidak bisa mendekati mobil istrinya.


"Milley ... tidaaakk!" teriak Dylan yang menyayat hati saat melihat kobaran api melahap hampir seluruh mobilnya.


Di sebuah gedung tua, ada seorang wanita tersenyum puas. Tangisan bayi laki-laki yang berada di sampingnya sama sekali tidak ia pedulikan.


"Oek ... Oek ...." tangis bayi itu terdengar memilukan.


Namun, tidak bisa membuat hatinya tergerak untuk menolongnya.


"Kedua orang tuamu harus menerima akibat telah membuatku seperti ini. Dan kau ...."


PRANG!


"Akan aku biarkan hidup untuk membalaskan dendamku, ha ha ha ...."


Wanita tidak punya hati itu adalah seseorang yang sangat dekat dengan Dylan. Hanya saja saat semua keinginannya tidak bisa terpenuhi membuatnya semakin berambisi hingga rasa kemanusiaannya hilang.


"Jika saja mereka tidak menyakiti ataupun menyinggungku, maka kau pasti masih bisa bersama mereka dalam buaian kasih sayang."


"Akan tetapi saat aku bilang tidak, maka kau selamanya tidak akan bisa berkumpul dengan mereka, ha ha ha ...."


Di pinggir jalan tersebut, Dylan harus menerima jika istri dan anak yang sangat ia cintai meninggal dalam keadaan tragis. Di lokasi itu memang terdapat sisa syal terbakar yang digunakan oleh Milley.


Namun jasat bayi dan satu orang lainnya dinyatakan hilang. Rasanya sangat sulit mendeteksi bagian tubuh seseorang terlebih jika wajah mereka sudah hangus terbakar dan hanya bersisa beberapa bagian tubuh yang lainnya.


"Tuan, jangan bersedih, kemungkinan Baby J selamat tetapi kita belum bisa menemukan keberadaannya saat ini."

__ADS_1


Jo memprediksi hal itu sesuai analisis dari data yang diberikan dari kepolisian. Sementara itu kondisi Tuan Chryst masih sangat kritis saat itu. Beruntung Andreas dan Jo masih berpikiran jernih saat itu sehingga keduanya saling bahu membahu untuk menyelidiki kasus ini.


"Selama semuanya belum ada kejelasan aku akan tetap menyelidiki hal ini sampai dengan selesai," janji Jo kepada Tuan Chryst yang belum siuman.


"Lena sudah mencocokkan DNA miliknya dengan korban yang diketemukan dan bersyukur tidak ada yang cocok dengannya. Itu artinya Milley masih selamat bersama putramu, Len."


Jo bisa melihat dengan jelas jika Dylan tidak sedang baik-baik saja. Oleh karena itu ia hanya bisa berbicara dengan Lena yang masih bisa diajak berkomunikasi.


Saat ini bahkan Dylan terlihat sangat kacau. Sehingga ia mengurangi interaksi dengannya dan fokus pada penyelidikkan kasus ini. Sungguh diluar dugaan, semuanya terjadi dengan cepat.


"Jelas ini sangat terencana sehingga aku bahkan tidak bisa memprediksi hal ini sebelumnya, tetapi siapa yang berani melakukan hal ini pada Keluarga Anggara."


Melihat beban yang diterima oleh Jo, membuat Andreas berinisiatif untuk membagi pekerjaannya dengan Jo. Banyak beban tanggung jawab yang mereka harus tanggung dalam waktu yang bersamaan.


Jika perusahaan sampai kehilangan pimpinan maka dijamin semua karyawan akan terkena imbasnya. Begitu pula jika kasus ini tidak selesai maka ia yang akan repot setelahnya.


Jo memijit pelipisnya yang berdenyut kencang. Sehingga mau tidak mau ia harus menghubungi Michael, karena hanya Michael yang mampu menghandle pekerjaan di perusahaan sama hebatnya dengan cara kerja Tuan Chryst. Bahkan Dylan saja kurang lihai. Masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Michael.


"Untuk masalah perusahaan biarkan aku meminta bantuan Michael," ucap Jo pada Andreas.


"Aku percaya pada intuisimu Jo, aku harap Michael tidak keberatan dengan permintaan kita yang selalu datang dan mendadak seperti ini."


"Aku akan pergi ke kamar Dylan, siapa tau ia bisa aku ajak berbicara."


"Semoga sukses."


Andreas mencoba menenangkan keadaan putranya. Ia tahu saat ini ia sedang berada dalam keadaan yang sangat kacau balau sehingga Andreas harus berpikir lebih jernih.


Dylan yang masih kacau menoleh ke arahnya.


"Jika Milley masih hidup kenapa tidak kembali padaku, ha-ah! Kau pikir aku bod-oh!"


Dylan mencengkram erat leher Andreas. Mungkin karena banyak pikiran sehingga membuatnya menjadi mudah marah.


"Kau tidak tahu rasanya kehilangan, jadi kau bisa seenaknya berbicara."


"Iya, aku meminta maaf untuk hal itu, Nak."


Sementara itu Jo memikirkan kemungkinan-kemungkinan kecil yang mungkin ia lewatkan.


"Andai hal ini bisa aku prediksi sejak awal, pasti semuanya akan baik-baik saja!" gumamnya sambil menyeruput segelas susu hangat favoritnya.

__ADS_1


Dylan yang sedang kalut segera mengusir semua orang agar keluar dari kamarnya.


"Kalian semua tidak berguna, cepat pergi!" teriaknya.


Melihat situasinya semakin tidak kondusif membuat semua orang segera keluar dari kamar Dylan.


Sementara itu, Milley sudah siuman. Akan tetapi ia bingung dengan keadaannya saat ini. Ingin rasanya pergi tetapi ia tidak tahu keberadaan saat ini.


"Di mana aku?"


Rain tergopoh-gopoh mendatangi Milley.


"Nona sudah siuman, silakan diminum tehnya."


Rain menyodorkan teh hangat yang baru saja ia buat.


"Ka-kamu siapa?"


Lampu penerangan di kamar Rain memang tidak terlalu terang, karena memang Rain tidak punya banyak uang. Mau tidak mau ia tinggal di kolong jembatan. Keberadaan Milley saat ini berada di kolong jembatan. Sebuah lingkungan kumuh yang jauh dari hiruk pikuk perusahaan besar.


Namun, keadaan bising sudah biasa Rain dapati tetapi ia harus bertahan hidup di tengah kerasnya hidup di perkotaan.


"Saya bukan orang jahat Nona. Justru saya yang menyelamatkan Anda dari ledakan mobil Anda."


"Apa? Lalu dimana anak saya?"


Rain menggeleng, ia sungguh tidak tahu tentang keberadaan anak yang dimaksud oleh Milley. Tidak mau dicurigai lebih, Rain mulai menceritakan semuanya.


Milley mulai berlinang air matanya. Tidak ada hal lain yang diketahuinya sehingga ia hanya mengatakan apa yang ia lihat. Seketika pikiran Milley mengarah pada Baby J yang belum diketahui keberadaannya.


Sesaat kemudian ia baru menyadari hal itu setelah secara tidak sengaja Rain menyalakan radio untuk mengusir keheningan yang terjadi. Milley mulai menyimpulkan berbagai hal yang ia rasakan sejak pagi. Rasa sakitnya bertambah ketika kedua bukit kembarnya berdenyut. Seolah Baby J sedang kehausan.


Milley mere-mas ujung selimut yang ia pakai. Sungguh rasanya sangat tidak nyaman. Ingin rasanya ia kembali ke beberapa jam yang lalu dan tidak memaksa untuk pergi ke Rumah Sakit.


"Andai aku tidak pergi, pasti semua ini tidak akan terjadi, hu hu hu ...."


Di sebuah ruangan Baby J terus menangis, biasanya jam seperti ini ia sudah kenyang dan berada di dalam pelukan ibunya. Namun, takdir berkata lain. Ia diculik dan tidak diperhatikan. Lelaki yang menjaga Baby J tidak tega, akhirnya memberinya air putih sebagai pengganjal perut.


Lalu siapakah pelaku sebenarnya? Akankah Milley, Baby J dan Dylan bisa kembali bersama?


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2