
Melihat celah diantara hubungan Milley dengan Dylan tidak membuat Michael gelap mata. Yang ia inginkan saat ini adalah melihat Milley bahagia. Bagaimana pun caranya, tidak ada yang boleh menyakiti Milley.
"Entah sejak kapan rasa ini tumbuh subur untukmu, tetapi yang aku tahu, rasa ini sangatlah besar untukmu, Milley."
Michael melihat pantulan dirinya di cermin. Bayangan Milley yang tersenyum ke arahnya bagaikan sebuah sebuah baterai untuk mengisi semangat dalam menjalani kehidupannya.
Michael meraih tas kerjanya. Dengan berpakaian rapi dan memakai sebuah jas, ia akan memimpin rapat penting pagi ini. Beruntung hari ini jadwal kelasnya tidak ada, jadi seharian ia akan menghabiskan waktu di perusahaanya.
Dengan mengendarai mobil sportnya ia membelah jalanan Ibu Kota. "Times is Money"
Itulah semboyan yang selalu ia pegang sedari kecil. Sebuah kedisiplinan yang terbentuk karena didikan Sang Ayah.
🍂Kampus.
Dylan terlihat uring-uringan sedari tadi. Membuat Dave dan Tio harus menerima konsekuensi karena pawang Dylan tidak datang, alias masih cuti karena masa pemulihan.
"Bro, kalau nyuruh tuh yang kira-kira napa? Lu kira gue punya kaki dewa apa ya, pesan minuman belum ada setengah jam udah ganti lebih dari lima kali, eh ujung-ujungnya cuma jadi beli cappucino doang."
Tentu saja Tio menggerutu karena menurut dia hari ini yang paling apes adalah dia. Sementara Dave cuma disuruh beliin snack aja.
"Lu kira gua bisa makan dan minum sembarangan makanan? Kalau kamu nggak mau, ya sudah sana pergi! Jangan sekali-kali membuatku melihat wajahmu lagi!" ancam Dylan.
"Wah, deketan sama Lu sepertinya bisa membuatku terkena sial nih, dah ah, gue mau ke toilet dulu," pamit Tio beralibi.
"Kalau sudah begini, palingan juga gue yang disuruh!" gumam Dave.
Belum sempat ia membuang gas, Dylan sudah terlebih dahulu memerintahkannya untuk pergi.
"Dave, gue pengen makanan yang seger, sekarang!"
"Ha-ah, jam segini yang paling seger ya es doger, Bro!"
Dylan membuka kaca mata hitamnya.
"Lu masih mau jadi temanku atau menjadi musuhku!"
"Ya teman lah, Bro. Lu kira gue bisa gitu hidup tanpa Lu. Wkwkwk, ya nggak bisa lah. Kan nafas gue tergantung kebaikan hatimu."
"Astaga Dave, buruan, gue laper!"
Dengan lari terbirit-birit, akhirnya Dave bisa lolos dari auman Dylan. Bukannya membeli makanan untuk Dylan, tetapi Dave lebih memilih untuk kabur.
"Alhamdulilah, akhirnya gue bisa lolos dari dia."
__ADS_1
Sementara itu saat Dave mendongakkan wajahnya sudah ada Rose yang berdiri di hadapannya.
"Rose, sejak kapan kamu berdiri di situ?" ucapnya kaget.
"Tidak penting menanyakan kapan dan kenapa aku bisa berada di sini."
"Lalu?"
Rose menunjukan ponselnya ke hadapan Dave, hingga ia melihat koleksi pribadinya bisa bocor. Raut wajah Dave seketika berubah.
"Hapus video itu segera, Rose."
"Cih, nggak semudah itu Dave. Kecuali kau bersedia menjadi sekutu bagiku, maka semua ini akan aman dari jangkauan ayahmu!"
Dave tampak mengepalkan tangannya, "Ternyata wanita ini sangat licik! Gue nggak nyangka Lu penuh dengan topeng."
"A-apa tugasku!"
"Lakukan semua perintahku dan semua ini anggap saja tidak pernah terjadi, bagaimana?" ucap Rose sambil menyeringai.
"Baiklah, aku bersedia, tetapi hanya satu kali ini saja."
"Oke, deal."
Akhirnya perburuan sudah dimulai. Dengan mudah ia bisa menjerat Dylan tanpa bersusah payah. Cara ini pula akan lebih rapih daripada ia bertindak sendirian. Entah sejak kapan obsesi akan cinta Dylan memenuhi rongga nafas Rose. Penolakan dari Dylan sejak Milley muncul membuat Rose berubah sikap. Ia tidak lagi menjadi Rose yang manis seperti dulu.
.
.
Sementara itu, di vila tempat Lena tinggal. Ia masih memikirkan nasib putrinya saat ini. Bayangan insiden beberapa hari yang lalu, membuatnya cemas. Ia tau konsekuensi jika berada di dalam lingkungan Kelurga Besar Anggara. Meskipun begitu, rasa sesal yang ia dapatkan masih terasa jelas di sudut hatinya.
"Bagaimana ini, sepertinya Virgo akan mendapatkan banyak masalah baru setelah ini," ucapnya dengan gusar.
Meskipun begitu, ia tidak bisa sembarangan bertindak. Saat ini hidupnya dan hidup Virgo bergantung pada Tuan Chryst sepenuhnya.
"Apa aku masih bisa bertahan setelah ini?"
"Roby benar-benar membuatku terluka."
Lena menatap nanar pemandangan di hadapannya. Dulu, ia sangat kuat dan tegar. Bahkan menghadapi kekejaman suaminya selama beberapa tahun pun, ia bisa melewatinya dengan mudah, tetapi saat ia terkena penyakit itu, fisiknya mulai melemah. Hanya Virgo satu-satunya harapan yang tersisa saat ini.
Ingatannya kembali memanas ketika bayangan Andreas lewat di sana. Bayangan perpisahan terakhir padanya, tidak akan pernah bisa terhapus oleh waktu.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa pernah sangat mencintaimu, Mas. Andai kita tidak pernah bertemu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi."
Tubuh Lena melemah, kakinya tidak mampu lagi menopang berat badannya. Tubuhnya luruh sudah di lantai.
"Virgo, semoga kamu baik-baik saja."
.
.
Dylan yang kesal tidak berniat meneruskan kuliahnya. Kedua sahabatnya sudah menghilang dan belum kembali. Ia pun meninggalkan kampus dan lebih memilih pergi ke perusahaanya. Bayangan Milley sedang bersama dosen itu benar-benar membuatnya cemburu dan gila, tetapi mampu merubah sikap Dylan menjadi peduli dengan pekerjaan.
Padahal pada kenyataannya, hari itu tidak ada jadwal kelas antara Milley dan Michael. Hari itu dihabiskan Milley dengan istirahat dan mulai melatih kembali kelenturan tangannya.
Peluru itu memang sudah berhasil keluar dari lengan Milley, tetapi bekas lukanya yang dalam sering terasa nyeri di saat-saat tertentu. Sambil memegangi lengannya, pikiran Milley berkelana.
"Kenapa waktu itu aku menolong si songong itu, sih!"
"Harusnya dia yang melindungiku, bukan? Lalu siapa yang berani menyerang Dylan di tengah pengawalan yang ketat malam itu."
Pemikiran Milley membuatnya kepo dan ingin meretas jaringan cctv tempat hotel yang kapan hari ia gunakan. Tanpa ada yang tau akan kemampuan Milley yang satu ini, ia secara diam-diam memainkan jari-jarinya di atas laptop.
Baru beberapa saat ia melakukan peretasan, sebuah bayangan yang sangat ia kenali terlihat dari sana. Namun, wajah sang pelaku belum terlihat dari sana.
"Bukankah kata kakek, kamera yang berada di ruangan itu tidak hanya satu biji, seharusnya aku bisa melihat siapa pelakunya dari situ."
Milley yang seharusnya dengan mudah meretas kamera itu, tiba-tiba menemui kesulitan.
"Aneh, sepertinya ada orang dalam yang berada di balik penyerangan ini. Semuanya terencana dan tampak rapih."
Milley sampai geleng-geleng ketika menyadari ada yang tidak beres dari insiden penyerangan beberapa hari yang lalu itu. Meskipun begitu ia sangat yakin, jika pelakunya adalah kerabat dekat Dylan.
"Apakah ini berhubungan dengan kekuasaan? Semoga saja tidak akan ada lagi masalah seperti ini, Aamiin."
.
.
Akankah Milley bisa menemukan dalang di balik insiden malam itu? Semoga.
...🌹Bersambung🌹...
Sambil nunggu crazy up dari othor boleh yuk mampir di karya teman Fany.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya teman-teman. Makasih.