
Sebuah kebahagiaan telah dirasakan oleh pasangan Alex dan Rose. Seorang bayi laki-laki sudah lahir dengan selamat saat ini. Meski Rose harus menjalani kehamilannya dengan sangat tidak mudah, tetapi Alex berhasil menyelamatkan mereka.
Hari ini mereka kedatangan rekan bisnis yang selama ini selalu bersama dengan Alex meski banyak yang mengatakan jika Alex mandul, tetapi persahabatan mereka tidak pudar.
Bahkan mereka datang dengan penuh hadiah yang dibawa di salah satu tangannya. Bukan sebuah hadiah yang murahan melainkan banyak sekali hadiah mewah bertaburan.
"Selamat ya, sekarang pewarismu sudah berada dalam genggaman," ucap salah satu rekan bisnis Alex.
"Terima kasih, Bro."
Pancaran kebahagian terlihat jelas di dalam bola mata Alex. Ia sangat menyayangi jagoan juniornya. Namun, mereka masih merahasiakan wajahnya dari konsumsi publik. Bahkan seolah menjaganya selayaknya sebuah permata bagi Alex. Saat ini bayi mereka dijaga oleh beberapa bodyguard.
"Saat ini kami tidak akan meragukan dirimu lagi, Bro. Toh apa yang menjadi keinginanmu bahkan terkabul di saat-saat terpenting."
"Ha-ha-ha, aku yang salah ternyata, maafkan aku, ya."
Beberapa orang yang dekat dengan Alex, yang dahulu menghinanya kini sudah meminta maaf kepadanya. Kehadiran putra Alex benar-benar membawa sebuah keberkahan untuknya.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah memberikan kebahagiaan yang berlimpah untukku."
Alex menciumi kening Rose yang diam tanpa suara. Akan tetapi binar kebahagian terlihat jelas di dalam wajah Rose. Ia sungguh tidak menyangka jika dirinya diberikan kemewahan yang berlimpah saat ini.
Meskipun ia tidak mencintai Alex tetapi setidaknya ia dan anaknya tidak terlantar. Lagi pula ia bisa memanfaatkan Alex demi upaya pembalasan dendamnya kepada Dylan.
Satu minggu yang lalu, persalinan Rose berjalan lancar. Meski pada akhirnya mereka Rose mengalami pendarahan karena terlalu banyak bergerak dan tidak patuh pada ucapan tenaga medis. Akhirnya setelah satu minggu berlalu, Rose sudah diperbolehkan pulang.
Bayi yang dilahirkan oleh Rose sangat tampan dan lucu, beruntung pada akhirnya Alex bisa memiliki keturunan. Akan tetapi istri pertama Alex masih hidup dan tidak pernah bercerai dengannya.
__ADS_1
Sementara itu di sebuah rumah yang tidak kalah mewah dengan kediaman Alex, seorang wanita cantik sedang marah besar. Ia merasa tidak bahagia karena ternyata suaminya mempunyai anak dari wanita lain.
Mendengar jika Alex bisa memiliki keturunan membuat Eva marah besar. Hampir semua peralatan make up di hadapannya sudah berhamburan ke atas lantai. Ia marah besar karena wanita lain bisa melahirkan putra untuk Alex. Sementara itu, ia belum mempunyai keturunan.
Itu sama saja dengan menyatakan jika dirinya lah yang bermasalah selama ini. Eva merasa dipermainkan saat ini oleh suaminya sendiri.
"Sepuluh tahun kita bersama, aku masih sabar saat kau berbagi kenikmatan dengan wanita di luar sana. Akan tetapi aku tidak pernah rela jika ia sampai melahirkan calon pewaris untukmu, Alex. Apa salahku?"
Eva terduduk lemah di atas lantai. Air matanya bercucuran dengan derasnya. Ia bahkan tidak bisa berpikir jernih saat itu. Entah kenapa ia sama sekali tidak bisa mengatakan jika ia juga bahagia atas kelahiran bayi tersebut. Karena nyatanya ia sangat terpukul dengan kejadian saat ini.
Hancur sudah dinding pertahanan Eva malam ini, apalagi menurut kabar putra Alex sangatlah tampan dan sehat.
"Kau sangat kejam Alex."
Eva melihat sekali lagi pantulan dirinya di kamar. Memperhatikan setiap inchi yang ada di dalam tubuhnya.
Suara hati Eva terdengar memilukkan. Seolah hanya dia yang mengendalikan perahu miliknya sendirian tidak bersama Alex.
"Bagaimana ini, ibu dan ayah pasti akan marah besar kepadaku," ucap Eva lirih.
Sejenak Eva merapikan tempatnya lalu segera mengambil kunci dan bergegas pergi.
.
.
Selepas dari Rumah Sakit, ketiga orang tersebut segera menuju ke kediaman Tuan Chryst. Di dalam perjalanan panjang, Eva mematikan ponselnya lalu melajukan mobilnya ke rumah ibu mertuanya.
__ADS_1
Sementara itu, Milley sudah mengirimkan pesan pada Dylan, bahwa kandungannya baik-baik, saja. Sesekali ia membelai lembut perutnya yang masih rata tersebut. Milley bersyukur karena saat ini dia baik-baik saja.
Sebelum ini Milley mengalami flek, sehingga membuat ia harus opname, tetapi Dylan datang tepat waktu. Hal ini yang membuat Dylan dan Tuan Chryst harus mengawasi.
Saat Dylan tidak bisa menjaga Milley, ia pun hanya menitipkan pengamanan untuk istrinya tersebut pada Neni dan juga kedua asisten yang selalu setia menemaninya Lea dan Leo. Karena Milley sedang hamil maka Lea dan Leo kembali dipekerjakan di rumah tersebut hal ini dilakukan juga untuk menjaga Milley dan bayinya.
.
.
"Kamu sudah siap, Sayang?" ucap Andreas sambil memeluk Lena dari arah belakang.
Meskipun tangan Lena menepis tangan Andreas tetapi laki-laki itu tetap memeluknya.
"Hei, kita ini adalah besan, kamu tau itu!" bentak Lena.
"Ya, kita memang adalah besan, tetapi hanya sebagai status karena hal yang sesungguhnya aku masih mencintaimu, Lena."
Lena berbalik badan lalu membelai wajah Andreas, "Bodoh, kamu masih punya istri dan putra juga seorang menantu. Apakah ini pantas?"
"Pantas atau tidak hal itu sama saja tidak berlaku untukku. Biarkan orang berkata apa, asalkan aku bahagia."
"Cukup, lebih baik hubungan kita sebagai sahabat saja. Itu lebih baik untuk semua orang. Kamu mau, kan?"
"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?"
Lena mendengus kesal, ternyata sikap dan sifat Andreas tidak ada bedanya dengan masa mudanya dulu. Lena memijit pelipisnya, bingung kenapa dahulu ia sangat mencintai Andreas melebihi segalanya. Ia satu-satunya lelaki yang membuatnya melambung tinggi karena cinta dan menghempaskannya ke jurang kesakitan dalam waktu hampir bersamaan.
__ADS_1
Itulah cinta yang kadang membuat orang terluka dan bahagia dalam waktu yang bersamaan.