
Saat ini Milley sedang bersiap-siap untuk membantu ibunya keluar dari Rumah Sakit bersama Michael. Ia begitu bahagia melihat kondisi Lena yang semakin membaik saat ini, karena bagaimana pun, hal yang paling membahagiakan olehnya adalah kesembuhan sang ibu.
Dari arah belakang, Michael sepertinya mengawasi Milley. Melihat Milley yang kerepotan, Michael mendekatinya.
"Bagaimana, apakah sudah dipersiapkan semuanya?"
Michael tiba-tiba saja datang mendekati Milley, lalu berdiri di sampingnya. Meski sedikit terkejut tetapi Milley masih fokus memasukkan semua barang milik Lena.
"Sudah, semua sudah siap, tinggal nunggu beberapa peralatan medis yang sebentar lagi akan dilepas oleh suster."
Secara tidak sengaja, tangan Milley salah dalam mengambil barang dan tidak sengaja memegang tangan Michael. Hingga membuat keduanya saling menatap satu sama lain, terdiam untuk beberapa waktu, lalu sesudahnya berhasil membuat keduanya salah tingkah.
"A-aku berberes dulu," ucap Milley terbata.
Namun tidak dengan Michael. Ia tidak mau kehilangan kesempatan kali ini. Terkadang mendekati Milley seolah membutuhkan perjuangan lebih, dan hanya sedikit sekali saat takdir baik berpihak pada keduanya.
Michael dengan cepat memegang kedua tangan Milley dan mengunci pergerakannya. Melangkah ke depan hingga tubuh Milley sampai membentur tembok.
Hembusan nafas Milley dan Michael sama-sama memburu. Seolah berebut oksigen di sana, dan hal itu sukses membuat keduanya terlihat salah tingkah. Hingga ucapan Michael membuat Milley semakin malu-malu.
"Milley, aku ingin selamanya kita bersama, bisakah kau menerima semua kekuranganku?"
Tatapan teduh dari Michael membuat Milley tidak bisa menolak kata hatinya. Seolah terhipnotis untuk sesaat. Kehadiran Michael memang bagaikan ob*t penyembuh untuk luka di hati Milley. Apalagi ia selalu hadir ketika Milley kesulitan, tentu hal tersebut semakin membuat rasa cinta di hati Milley untuk Michael semakin bertambah.
Saat ini Milley benar-benar jatuh cinta pada Michael. Mungkin saja posisi Dylan di hati Milley sudah tergantikan. Hal tersebut bisa disadari oleh Michael, apalagi Milley tersipu ketika ia bersikap romantis.
"Kenapa diam? Tak bisakah kehadiranku menempati posisi di hatimu?"
Terlihat sekali jika Michael gusar karena Milley tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Sebenarnya Milley ingin mengatakan sesuatu, tetapi mulutnya masih terkunci rapat. Hingga ia harus menguatkan hatinya terlebih dahulu baru ia bisa mengatakan isi hatinya.
"Milley ...."
"Bu-bukan begitu maksudKu, Kak."
"Lalu?"
"Ka-kamu terlalu berarti untukku, Kak, dan aku juga mencintaimu."
"Sungguh?"
Ucapan Milley seperti oase di tengah gurun bagi Michael. Bagaimana tidak, ia memberikan sejuta harapan untuknya. Sekali lagi Michael memastikan pertanyaannya tadi. Hingga Milley mengangguk. Sungguh, ucapan Milley barusan benar-benar membuat Michael bahagia.
"Terima kasih, Milley. I love you."
__ADS_1
"Love you too."
Michael mengecup punggung tangan Milley. Menyalurkan kebahagiaannya saat itu juga. Luka di hati Michael kini sudah berangsur sembuh sejak Milley hadir dan mengisi ruang di hatinya. Begitu juga dengan Milley yang sudah menerima kehadiran Michael.
Kedua insan tersebut saling menyembuhkan luka satu sama lain. Begitu banyak pengorbanan yang dilakukan Michael untuknya, tidak seharusnya Milley mengecewakan Michael, begitu pemikiran Milley.
...***...
Meski sesaat, kau hadir menenangkan jiwaku,
Dikirim Tuhan sebagai penyejuk hati
Cinta dan kasih sayangmu mampu meluluhkan hatiku
Tidak ada cela dalam tiap tutur katamu,
Senyumanmu mampu membuatku tenang,
Hadirmu adalah bahagia untukku
Satu hembusan nafasmu, adalah nyawaku,
Keinginanmu adalah sabda untukku,
Aku berjanji tidak akan ada lagi hal yang bisa menyakitimu, selamanya.
...***...
Saat ini, Michael sudah menyiapkan satu unit rumah yang akan ditempati oleh Milley dan Lena.
Tidak banyak yang diberikan Michael untuk Milley, hanya saja keamanan lebih ia tingkatkan lagi, apalagi Andreas berhasil mengetahui keberadaan Milley.
Hal itu membuat Michael sedikit waspada. Bayangan Milley diambil paksa oleh Andreas benar-benar membuat ketakutan tersendiri di hati Michael.
Namun, hal lain telah dirasakan oleh Lena. Ketika Andreas sudah berjanji kepada Milley untuk selalu menjaganya, di saat itu pula Lena sudah lebih tenang tentang kehidupan Milley ke depannya. Ia bahagia ketika melihat Milley dan Michael bersanding.
Andreas berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan membantu Milley dan Dilan agar bisa bersatu. Meski begitu Lena dan Milley tidak tahu akan rencana hal itu.
"Setelah siap, kita kembali ke Ibu Kota."
"Untuk apa?" tanya Lena khawatir.
Andreas berbalik, "Tentu saja untuk kesembuhanmu, Sayang."
__ADS_1
"Aku sudah mempersiapkan semua hal terkait dengan rencana pengobatan untukmu."
Hati dan perasaan Lena seketika berubah masam. Ia tidak bisa membuat Milley bersedih ketika harus bertemu dengan Dylan dan Rose nanti. Bagaimana ia bisa melindungi Milley jika dirinya masih berada di atas kursi roda.
Pandangan Lena sejenak ia alihkan, pikirannya membuat Lena terlihat sedih dan bingung. Andreas yang menyadari hal tersebut segera menghampirinya.
"Kamu nggak setuju dengan rencanaku? Apa perkataan dariku tidak mampu membuatmu bahagia."
Andreas berlutut di hadapan Lena, memegang tangannya lalu membawanya ke dalam dadanya.
"Rasa ini pernah hadir di dalam hatiku, dan selamanya ia tetap bersemayam di sana. Tidak ada wanita lain yang berhasil menggeser posisimu di hatiku."
"Kesalahanku di masa lalu membuatku tersadar. Aku begitu bod*h, karena pernah meninggalkanmu hingga semua ini terjadi."
Andreas menatap kedua mata Lena dalam-dalam.
"Ijinkan aku menebus semua kesalahan yang pernah aku perbuat, Lena. Aku pastikan kesembuhan untukmu pasti akan kita dapatkan. Maka ikutlah denganku ke kota."
"Maaf, aku memang mempercayaimu, tetapi tidak untuk sekarang, biarkan kami di sini untuk beberapa waktu. Setelah aku siap, maka jemputlah kami kembali."
Meski sakit dan sedikit kecewa, tetapi Andreas melakukan hal tersebut demi rasa cintanya untuk Lena.
Kepulangannya ke Ibu Kota berhasil membuat Rebecca marah besar.
"Dari mana saja kau berhari-hari tidak pulang?"
"Kau kira aku tidak tahu kau tidak ada di kantor selama ini? Bersembunyi di mana lagi kau!" ucap Rebecca marah.
Andres saat ini tersenyum, lalu ia mendudukkan dirinya di sebuah sofa. Ia juga berusaha untuk mencoba melonggarkan dasinya dan menghirup udara dalam-dalam. Rasa sesak di hatinya kini sudah berangsur membaik dan menghilang.
Sepertinya suasana hatinya tidak memburuk seperti dulu. Andreas seolah memiliki kehidupan yang baru sejak pertemuannya dengan Lena beberapa jam yang lalu. Ia bahkan telah mempersiapkan semuanya agar bisa bersama Lena dan meninggalkan Rebecca.
Namun, beberapa berkas sudah ia persiapkan untuk menceraikan Rebecca. Andreas sudah tidak bisa hidup berlama-lama dengan Rebecca, sehingga ia memilih jalan ini.
"Kemana pun aku pergi, bukanlah urusanmu lagi, yang terpenting adalah jatah bulanan dariku tidak berkurang, bukan?"
Rebecca mengepalkan tangannya karena kesal, ia tidak mau jika Andreas menjadi penghalang untuk semua impiannya yang belum tercapai.
"Awas saja kau!"
.
.
__ADS_1
Bersambung