
Apa yang diucapkan Michael tidak pernah ada kebohongan di dalamnya. Apapun yang ia inginkan, akan diutarakan secara langsung. Begitu pula dengan perhatian yang tulus ia berikan pada Milley.
Malam ini ia rindu pada dunia balap motor, tanpa ragu-ragu, ia mengajak Milley ikut serta.
"Oh, ya, apakah orang rumah tidak akan marah jika aku melanggar jam malam?"
Milley terkikik geli, tidak akan ada yang menghawatirkannya selain ibunya. Tidak di sangka dosen muda ini juga mengkhawatirkan hal tersebut.
"Nggak ada kok, kebetulan aku dapat jam ekstra malam ini."
"Oke, kencangkan sabuk pengamanmu Milley, kita akan berpacu dengan waktu malam ini."
Dengan cepat, Michael mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas seratus empat puluh kilometer per jam. Tentu saja hal itu sesuatu yang baru untuknya.
Memang Milley adalah juara balap motor, tetapi jika hal itu dipakai dalam mengendarai mobil ia tidak akan berani. Sesekali Milley mengeratkan pegangannya ke sisi mobil. Apalagi Michael semakin cepat melajukan mobilnya.
"Gila, gue bisa ketemu dengan dosen yang satu server. Bisa-bisa gue betah, nih!" gumam Milley.
Meskipun fokus Michael ke jalanan di hadapannya, tetapi ia masih bisa melirik wajah Milley untuk sesekali. Wajah ketakutan itu terlihat jelas di sana. Namun, ia tidak mengucapkan protes sama sekali.
"Kamu memang wanita istimewa, Milley."
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di lokasi. Lokasi yang sama, sering Virgo gunakan untuk balap motor.
"Gue rindu tempat ini," gumamnya.
Tidak disangka, Michael memberikan sebuah masker dan topi untuk Milley. Sontak saja hal itu membuatnya melongo.
"Buat apa?"
__ADS_1
Michael tersenyum, lalu mulai memakaikan masker dan topi tersebut kepada Milley.
"Supaya kecantikan kamu tidak bisa dinikmati orang banyak."
Ucapan Michael sontak mengunci mulut Milley rapat-rapat. Terpesona iya, semakin mengagumi sosok dosen muda di hadapannya, tentu saja. Michael tampak apa adanya. Meskipun ia kaya, tetapi tidak pernah memperlihatkannya secara berlebihan.
Setelah bersiap, keduanya turun dari mobil dengan bergandengan tangan. Seolah tampak seperti sepasang kekasih. Ternyata Michael tidak ikut balapan di sana. Ia hanya menonton pertandingan malam ini untuk mengusir kejenuhan pada rutinitas barunya sebagai dosen.
Michael membungkuk sedikit, mensejajarkan tubuhnya agar tidak terlalu menjulang.
"Kamu nggak keberatan aku ajak ke sini?"
"Enggak kok, aku malah suka."
"Syukurlah kalau begitu, kalau kamu nggak nyaman kita pulang."
"Siap."
Ternyata malam itu ada sebuah balapan motor, dan yang bertanding malam itu rupanya adalah teman-teman Virgo. Sayangnya, mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan Virgo atau Milley karena ia memakai masker dan juga topi.
Tidak lama kemudian suara bising deru motor yang beradu kecepatan terdengar nyaring di sana. Saling bersaut-sautan hingga memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya, tetapi tidak dengan para remaja tersebut yang sudah terbiasa berada di dalam situasi bising.
Bagi mereka, menyuarakan ekspresi jiwa muda-mudinya dengan bermain di arena balap merupakan sebuah tindakan positif. Karena mereka tidak menggunakan obat terlarang ketika balap motor.
Sehingga tempat yang sudah menjadi rumah kedua bagi Virgo tersebut aman dari jangkauan kepolisian. Kalau kejadian kapan hari adalah sebuah konspirasi yang memang diciptakan untuk menciptakan efek jera bagi Dylan.
Saat sedang asyik menonton, tiba-tiba Michael berdiri di belakang Milley dengan jarak yang sangat dekat. Sebuah jaket denim mendarat sempurna di tubuh Milley. Tentu saja Milley sangat kaget akan hal tersebut dan membuatnya menoleh.
"Biar kamu nggak kedinginan, takutnya nanti aku nggak boleh ngajak kamu keluar lagi," ucapnya sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Wkwkwk, Kak Mich bisa aja, betewe makasih ...."
Sementara itu Dylan masih asyik menenggak minuman beralkohol di bar milik Dave. Dave paling suka jika Dylan berada di sana lagi seperti dulu. Karena sejak Milley hadir, Dylan sudah jarang sekali datang ke sana. Bahkan untuk menanyakan perkembangan bar milik sahabatnya itu saja tidak pernah terpikirkan.
"Dah, nikmatin aja dulu, Bro. Mumpung Milley nggak ada di rumah, kan?"
Saat mendengar nama Milley disebut, otak Dylan terkoneksi dengan baik.
"Iya, Milley pasti sudah pulang. Sebaiknya gue juga pulang."
Meskipun sempoyongan, Dylan memaksakan diri untuk pulang. Dave yang mengetahui hal itu berniat untuk mencegahnya. Namun, secara tidak terduga datanglah Lea dan Leo ke sana.
Kedua pengawal Milley itu sengaja diutus oleh Jo karena Tuan Chryst sudah marah-marah di rumah. Dave yang hendak meraih tubuh Dylan berhenti di tempat.
"Siapa mereka?" gumamnya sambil menatap kepergian Dylan bersama dua orang misterius.
Para pengawal Dave mendekati bosnya tersebut, hendak mengejar Dylan, tetapi Dave menghentikannya.
"Biarkan dia pergi, kalian kembalilah bertugas di tempat kalian!"
"Baik, bos!" ucap mereka patuh dan sopan.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
Sambil nunggu up jangan lupa mampir di novel karya literasi Fany ya, ditunggu all readers yang baik hati.
__ADS_1