
..."Ketika cinta sudah saling bersambut, maka keduanya akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya."...
...***...
Akhirnya cinta Michael bersambut saat ini. Milley sudah membuka hatinya untuk cinta dari lelaki lain. Lena sangat bahagia karena akhirnya Milley menemukan kebahagian yang sesungguhnya.
"Sayang, bolehkah aku menjadi suamimu?"
Milley yang malu-malu hanya bisa menyembuhkan rona kebahagiaannya lewat sorot mata dan senyuman yang terus mengembang.
"Kok nggak dijawab, nggak mau, ya?"
"Bu-bukan, tetapi karena itu terlalu cepat."
"Terlalu cepat? aku sudah menunggu berbulan-bulan, loh. Masih kurang?" tanya Michael sambil menunduk.
Milley yang tidak enak hati menangkup wajah Michael lalu menatap wajahnya.
"Aku mau ...." ucap Milley setengah berbisik.
Michael yang bahagia segera memeluk tubuh Milley, sesekali ia mencium keningnya karena terlampau bahagia.
"I love you, sayang."
"Love you too ...."
Berita kebahagiaan Milley dan Michael yang akan segera melabuhkan cintanya di pelaminan membuat kedua orang tua Michael dan Lena sangat bahagia. Sesuai rencana pernikahan mereka akan dilaksanakan di Kota Paris dengan konsep outdoor di tepi Sungai Seine.
Tidak lupa sebuah gaun rancangan dari salah satu rumah mode terkenal di Kota Paris menjadi pilihan mereka ketika menikah nanti. Sebuah cincin dengan batu diamond spesial Swarovski akan menjadi bukti pengikat janji setia sehidup semati antara Michael dan Milley.
"Bagaimana, kamu suka?"
Saat ini Milley sedang melihat berlian yang terpajang rapi di sebuah etalase. Sambil menunggu cincin pesanan dari Michael datang ia memang melihat-lihat barang di sana. Sampai akhirnya Michael memeluk pinggang ramping milik Milley.
__ADS_1
"Kalau kamu suka, ambil aja sekalian."
Milley menoleh, "Hust, jangan ... nanti uang kamu habis."
Michael tersenyum, "Enggak bakal, lagi pula kalau sampai habis aku tinggal gesek!"
Milley yang gemas mencubit pinggang Michael hingga membuatnya mengaduh.
"Sakit, sayang."
Belum sempat berbicara, ponselnya berdering. Michael memegang bahu Milley.
"Sebentar ya, sayang."
Setelah berpamitan pada Milley, Michael segera mengangkat panggilan telepon itu.
"Ada apa?"
Penjelasan dari kepala bagian pemasaran, membuatnya masam dan merubah ekspresinya dengan cepat.
"Kenapa bisa begini?" ucapnya sambil berpikir dengan keras.
"Ya sudah, selesaikan semampumu, baru kita tentukan langkah selanjutnya."
"Baik, Tuan."
"Aku akan membawa Milley pulang terlebih dahulu baru setelahnya aku akan kembali menghubungimu," ucap Michael di dalam hati sambil menutup sambungan teleponnya.
Menunggu adalah sebuah hal yang membosankan bagi Milley. Maka dari itu jika ia mempunyai janji, sudah bisa dipastikan ia akan datang terlebih dahulu.
Namun, ketika melihat bayangan Michael datang ia sangat bahagia.
"Sudah selesai belum?" tanya Michael sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.
__ADS_1
"Sudah, kalau kamu banyak urusan, sebaiknya kita segera pulang
Milley tidak mungkin meminta waktu lebih banyak lagi, sementara itu ia sangat ingin segera pulang.
"Oke, kita pulang setelah membayarkan semua tagihan dulu."
"Siap."
Michael langsung menuntaskan urusannya di toko berlian tersebut lalu segera pulang ke rumah.
Betapa bahagianya menikah dengan orang yang kita cintai. Apalagi cinta mereka bersambut.
.
.
Sementara itu di Indonesia, Dylan sudah dua hari ini masuk kerja dan jarang sekali memperhatikan kesehatannya. Rose yang biasanya datang untuk membuatkan makanan atau hanya mengingatkan jam minum obatnya, belum juga datang.
"Tumben dia belum datang, kemana perginya Rose?" gumam Dylan dari atas tempat tidurnya.
Benar saja setelah itu, pintu kamarnya terbuka. Namun sayang, ternyata di ujung pintu ada Nanni.
"Apa itu?"
"Undangan pernikahan Nona Milley dengan Tuan Michael.
Hal tersebut seolah membuat jarak di antar mereka berdua. Padahal saat ini ia belum mengenal Dylan maupun sepenuh hati.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1