NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN

NOTA HUTANG DI ATAS PERNIKAHAN
Bab 104. BULAN MADU


__ADS_3

Setelah acara resepsi selesai, maka sepasang pengantin kini akan langsung melakukan bulan madu ke Kepulauan Maldives. Semua persiapan telah selesai dilakukan, jadi setelah resepsi keduanya sudah berada di bandara.


"Bu, Milley berangkat dulu, ya, Ibu jaga kesehatan," pamit Milley.


"Iya, sayang, kamu juga jaga kesehatan. Jangan sampai menyusahkan suamimu," pesan Lena pada putrinya.


Keduanya saling berpelukan satu sama lain setelah itu, tidak ada yang bisa hal lain untuk mengungkapkan kebahagiaan mereka saat itu.


"Jika nanti suamimu nakal, kau boleh langsung menelpon Papa atau Kakek," pesan Andreas pada Milley.


"Iya, Pa. Terima kasih sudah menjaga Ibu Milley."


"Sama-sama, sayang. Setelah sampai hotel, jangan lupa untuk menghubungi kami."


Dylan dan Milley mengangguk secara bersamaan. Setelah berpamitan pada keluarganya, Milley dan Dylan segera memasuki pesawat pribadi mereka yang akan mengantarkannya ke Kepulauan Maldives.


Di dalam pesawat, tangan Dylan tidak henti-hentinya mengenggam tangan Milley seolah takut jika Milley terlepas. Ketakutan jika Milley tiba-tiba pergi cukup beralasan karena banyak yang menyukai Milley dan berharap jika mereka tidak bersatu.


"Dylan, lepasin kenapa, ini kan di dalam pesawat!" keluh Milley.


Dylan menggeleng dengan manja.


"Aku nggak mau Milley, aku takut kehilangan kamu."

__ADS_1


"Astaga ...." Milley menepuk jidatnya.


"Kenapa? Kamu tidak suka kita menikah?" tanya Dylan kebingungan.


Milley tertawa akan hal tersebut.


"Bukan begitu, Dylan sayang. Bukankah kita hanya berdua di dalam pesawat ini, eh salah, dengan beberapa pelayan dan pilot sih."


"Terus ...."


"Ya jangan terlalu over dong, lagi pula tidak ada yang bisa memisahkan kita jika kamu nempel terus kayak perangko, wkwkwk."


Cup.


"Bisa-bisanya Dylan mencuri kesempatan dariku," gumam Milley.


Mungkin karena kesal, Milley memberikan hadiah pada Dylan dengan mencubit perutnya. Sukses hal itu membuat Dylan mengaduh.


"Aw, sakit sayang ...."


Dylan mengusap perutnya yang baru saja dicubit oleh Milley, berakting seolah-olah Milley menyakitinya. Milley yang malas hanya membuang muka karena sebal.


"Orang kamunya yang mulai!"

__ADS_1


Melihat Milley yang ngambek, Dylan segera memeluk tubuh ramping Milley. Menyandarkan kepalanya ke pundak Milley. Bulu kuduk Milley seketika meremang. Ia belum pernah seintens ini dengan Dylan.


Namun, Dylan semakin bermanja terhadapnya. Mencium aroma tubuh Milley memberikan ketenangan tersendiri di hatinya.


"Seandainya kita menikah sejak lama, mungkin saat ini di dalam sini ada baby," ucap Dylan sambil mengusap perut Milley yang masih rata.


Milley tersenyum kikuk menanggapi ucapan Dylan barusan. Hatinya berdesir mendengarkan ungkapan sesungguhnya dari hati Dylan.


"Mungkin begitu ya, tetapi ternyata Tuhan memberikan hadiah yang lebih indah untuk cinta kita."


Milley menangkup wajah Dylan, menatapnya penuh pengharapan. Sedangkan Dylan menatap Milley dengan penuh cinta. Dylan memegang kedua tangan Milley lalu wajahnya semakin mendekati wajah istrinya itu.


"Ijinkan aku untuk menjadi penjaga hatimu dan menjadi imam dalam rumah tangga kita."


"Tidak akan aku biarkan siapapun bisa menyakitimu, aku--"


Milley memotong ucapan Dylan.


"Semoga setelah ini hanya ada kebahagiaan yang menyertai perjalanan cinta kita, Aamiin."


"Aamiin."


Dylan merengkuh tubuh Milley, mendekapnya dalam kehangatan, sampai tidak terasa keduanya saling terlelap karena kelelahan. Selama perjalanan ke Kepulauan Maldives, Milley terlelap, sementara itu Dylan terjaga setelah mendapatkan sebuah telepon.

__ADS_1


Dipandanginya wajah Milley yang sudah resmi menjadi istrinya itu, lalu ia sempatkan doa di dalamnya saat Dylan kembali mengecup kening Milley.


__ADS_2