
Setelah perjalanan yang begitu panjang akhirnya pesawat yang ditumpangi Milley dan Dylan sudah sampai di Kepulauan Maldives. Perjalanan panjang yang melelahkan ini sudah terbayar lunas oleh pemandangan yang disajikan untuk para pengunjung pulau tersebut.
"Sayang, kamu masih tertidur, Sayang."
Dylan masih menikmati keindahan sang pencipta yang tersaji dihadapannya. Siapa lagi kalau bukan Milley. Wanita asing yang dahulu sempat membuat Dylan uring-uringan kini telah berhasil mencuri hatinya.
"Terima kasih Tuhan, kau telah mengirimkan bidadari kepadaku saat ini, semoga saja setelah ini keluarga kecil kita akan diberkahi dengan malaikat kecil di dalam sini."
Dylan mengusap perut rata milik istrinya, Milley. Sambil sesekali tersenyum ketika ia membayangkan hal tersebut akan terjadi sebentar lagi. Pasti jika hal tersebut tiba, mereka akan sangat bahagia saat itu.
Melihat Milley yang masih terlelap membuat Dylan tidak tega. Rasa cinta dan kasih sayang yang besar untuk Milley kini menggelayuti hati Dylan. Maka dengan senang hati, Dylan segera menggendong Milley sampai ke dalam kamar hotel.
Liburan sekaligus bulan madu antara Dylan dan Milley ini adalah hadiah pernikahan dari Tuan Chryst. Beliau memang sudah memesankan kamar VVIP untuk mereka berdua. Begitu pula dengan alasan kenapa beliau memilih Kepulauan Maldives sebagai tempat tujuan bulan madu Dylan dan Milley.
Meskipun banyak pasang mata yang melihat Dylan saat menggendong Milley, tetapi Dylan mengabaikannya. Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di kamar.
Dylan meletakkan tubuh Milley dengan lembut di atas tempat tidur. Pandangan mata Dylan sama sekali tidak terlepas dari wajah istrinya.
__ADS_1
"Ternyata dalam kondisi terlelap pun, kamu tetap terlihat sangat cantik, Milley,” gumam Dylan.
Secara tidak sadar, Dylan mendekatkan wajahnya ke arah Milley. Namun, bulu jambang Dylan yang baru saja tumbuh menyentuh dahi Milley dan membuatnya terbangun.
Kedua mata emeraldnya terbuka lebar, “Dylan!” pekik Milley.
Sontak ia mendorong tubuh Dylan hingga ia terjengkang.
“Sakit, Sayang ....” keluhnya.
“Ma-maaf, Sayang.”
Milley beringsut turun lalu menolong tubuh Dylan.
“Kamu kenapa sih, lupa kalau aku suami kamu?” tanya Dylan seolah marah dan jual mahal.
“Wkwkwk, iya. Sorry sayang, aku nggak bermaksud begitu tadi, tapi kemunculan kamu yang tiba-tiba membuatku terkejut dan merespon seperti tadi.”
__ADS_1
“Hm, kalau begitu kamu harus tanggung jawab dan menerima hukuman dariku," ucap Dylan sambil tersenyum licik.
“Hu-hukuman apa?” ucap Milley ketakutan.
Sontak saja Milley memundurkan langkahnya karena ketakutan. Dylan yang sengaja ingin mengerjai Milley segera menghampiri Milley hingga ia tersudut di dinding kamar.
"Bersiaplah untuk menerima hukuman kamu, Sayang."
"Nggak, aku nggak mau Dylan," pekik Milley sambil menutup mata.
Tidak membutuhkan waktu lama, Dylan segera menggelitik Milley. Siapa yang sanggup menerima hukuman seperti itu hingga membuat Milley tertawa terus menerus.
“Ampun, Sayang, ampun ....”
Dylan sebenarnya sudah sangat tergoda untuk mencicipi bibir ranum milik Millley, hingga sesaat kemudian, Dylan mulai mencumbunya dengan mesra. Milley yang awalnya kegelian kini merasa tidak sanggup mengimbangi ciuman dari suaminya tersebut.
Ia bahkan mulai menciumnya dengan penuh hasrat, sementara itu Milley merasa gugup karena ia belum pernah seintim ini dengan seorang laki-laki. Lalu apakah gawangnya akan jebol malam ini pemirsa, tunggu aja nanti ya ...
__ADS_1